Pasokan Tinggi dan Perlambatan Ekonomi Tekan Harga Minyak

Senin, 28 Januari 2019 - 10:09 WIB
Pasokan Tinggi dan Perlambatan...
Pasokan Tinggi dan Perlambatan Ekonomi Tekan Harga Minyak
A A A
SINGAPURA - Harga minyak turun pada perdagangan awal pekan ini setelah sejumlah perusahaan energi di Amerika Serikat (AS) menambahkan rig untuk pertama kalinya tahun ini, yang menandai bahwa produksi minyak mentah di Negeri Paman Sam itu akan naik lebih lanjut.

Minyak mentah berjangka spot AS CLc1 turun USD32 sen, ke posisi USD53,37 per barel, atau 0,6% dari harga penutupan terakhirnya. Sementara minyak mentah berjangka internasional Brent LCOc1 merosot ke USD61,37 per barel, turun USD27 sen, atau 0,4%.

Analis mengatakan produksi minyak mentah AS yang tinggi, yang mencapai rekor 11,9 juta barel per hari (bph) akhir tahun lalu telah membebani pasar minyak.

Kendati demikian, merasa output dapat naik lebih lanjut, perusahaan-perusahaan energi AS pekan lalu menaikkan jumlah rig untuk mencari minyak baru untuk pertama kalinya pada tahun 2019. Berdasarkan laporan perusahaan jasa energi Baker Hughes, tertdapat tambahan 10 fasilitas baru hingga total menjadi 862 rig.

Di luar pasokan minyak, pertanyaan kunci untuk tahun ini adalah pertumbuhan permintaan. Konsumsi minyak telah meningkat terus, menjadi rata-rata di atas 100 juta bph untuk pertama kalinya pada tahun 2019, yang sebagian besar didorong oleh China.

Namun, perlambatan ekonomi di tengah sengketa perdagangan antara Washington dan Beijing juga membebani ekspektasi pertumbuhan permintaan bahan bakar.

China, yang mencatat laju pertumbuhan ekonomi paling lambat sejak 1990 tahun lalu, sedang berusaha membendung perlambatan dengan langkah-langkah stimulus fiskal yang agresif.

Tetapi ada kekhawatiran bahwa langkah-langkah ini mungkin tidak memiliki efek yang diinginkan sepenuhnya, karena ekonomi China sudah sarat dengan utang besar dan pengeluaran pemerintah yang besar, namun terlihat tidak banyak berguna.

Secara umum, pasokan minyak yang tinggi dan perlambatan ekonomi telah membebani prospek harga minyak.

"Kami memperkirakan harga minyak mentah AS berkisar antara USD50-60 per barel pada 2019 dan sekitar USD10 lebih (tinggi) untuk Brent," kata Tortoise Capital Advisors dalam prospek pasar minyak 2019 yang dikutip Reuters, Senin (28/1/2019).

Namun, Tortoise menambahkan bahwa harga minyak akan didukung di atas USD50 per barel karena Arab Saudi diyakini tidak akan lagi mau menerima harga minyak yang lebih rendah dari itu.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), secara de facto yang dipimpin oleh Arab Saudi, mulai mengurangi pasokan akhir tahun lalu untuk memperketat pasar dan menaikkan harga.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Menggeliat,...
Ekonomi China Menggeliat, Harga Minyak Dunia Menguat
Defisit Anggaran Rusia...
Defisit Anggaran Rusia Diramal Meledak Capai Rp760 Triliun, Ini Sebabnya
Harga Minyak Koreksi,...
Harga Minyak Koreksi, Tren Suku Bunga Tinggi Ancam Pertumbuhan Ekonomi
Harga Minyak Turun Akibat...
Harga Minyak Turun Akibat Kekhawatiran Resesi Global
Harga Minyak Dunia Merangkak...
Harga Minyak Dunia Merangkak Saat Hambatan Ekonomi Membebani Permintaan
Rusia Larang Ekspor...
Rusia Larang Ekspor Bahan Bakar, Harga Minyak Dunia Terus Menanjak
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
7 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
8 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
8 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
8 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
8 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
9 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved