PDB Meroket 8,2%, India Menegaskan Status Ekonomi Utama dengan Pertumbuhan Tercepat

Minggu, 02 Juni 2024 - 19:53 WIB
loading...
PDB Meroket 8,2%, India...
Ekonomi India tumbuh lebih dari 8% pada tahun fiskal 2023/24 yang berakhir pada bulan Maret, menjadi pendorong bagi Perdana Menteri India Narendra Modi untuk memenangkan masa jabatan ketiga dalam pemilu nasional. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Ekonomi India tumbuh lebih dari 8% pada tahun fiskal 2023/24 yang berakhir pada bulan Maret, berdasarkan data yang dirilis Jumat, kemarin. Kabar baik pertumbuhan ekonomi bisa menjadi pendorong bagi Perdana Menteri India Narendra Modi untuk memenangkan masa jabatan ketiga dalam pemilu nasional.



Produk domestik bruto (PDB) yang meningkat sebesar 8,2%, menurut Kementerian Statistik, memperkuat status India sebagai ekonomi utama dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Tingkat pertumbuhan lebih tinggi dari perkiraan pemerintah Modi sebesar 7,6%.

Untuk kuartal terakhir tahun fiskal, PDB berkembang pada tingkat yang lebih cepat dari perkiraan sebesar 7,8%, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2023. PDB telah meningkat sebesar 8,6% pada periode Oktober-Desember.

"Kami memperkirakan aktivitas ekonomi akan moderat sedikit lebih jauh selama kuartal mendatang, tetapi India akan tetap menjadi pemain global yang unggul," kata Asisten ekonom di Capital Economics, Ankita Amajuri.



Angin segar perekonomian lokal menerpa kurang dari 24 jam sebelum pemungutan suara ditutup dalam pemilihan. Tahap ketujuh ini menjadi tahap terakhir dalam pemilu di India pada, Sabtu (1/5/2024). Warga India mulai memberikan suara pada hari Sabtu. P

emilu India telah berlangsung sejak enam minggu lalu. Tahap demi tahap pemilu dilalui di negara yang menggelar pemilu terbesar di dunia tersebut. Pemilu di India ini menjadi referendum tentang kekuasaan Perdana Menteri nasionalis Hindu, Narendra Modi.

Catatan ekonomi era Modi selama 10 tahun terakhir, memperlihatkan periode pertumbuhan yang kuat di India. Negara ini berubah dari ekonomi terbesar kesembilan di dunia hingga masuk lima besar. Selain itu persentase pertumbuhan PDB juga terbesar selama dekade ini dibandingkan dengan ekonomi utama lainnya.

Hasil Pemilu India dijadwalkan bakal diumumkan pada 4 Juni 2024, mendatang. Jika Modi memenangkan masa jabatan ketiga, "setiap perlambatan (dalam ekonomi) akan ringan," tambah Amajuri.

Ekspansi berkelanjutan akan mendorong India lebih tinggi ke jajaran ekonomi terbesar di dunia, dengan beberapa pengamat memperkirakan negara itu bisa menjadi nomor tiga di belakang Amerika Serikat atau AS dan China pada tahun 2027.

India secara luas dipandang sebagai alternatif bagi China bagi negara-negara dan perusahaan yang ingin mendiversifikasi rantai pasokan mereka, terutama karena hubungan antara Washington dan Beijing memburuk.

Beberapa perusahaan terbesar di dunia, termasuk pemasok Apple (AAPL) Foxconn, sudah memperluas operasi mereka di sana. "Setelah China, India adalah satu-satunya ekonomi yang dapat mencapai skala ekonomi, karena pasarnya yang besar," tulis ekonom Nomura dalam sebuah laporan awal pekan ini.

"India adalah salah satu dari sedikit ekonomi yang mampu mengumpulkan minat investor di berbagai sektor," tambahnya.

Terlepas dari euforia seputar angka pertumbuhan, para ekonom mengatakan, ada tantangan besar yang dihadapi ekonomi India dalam dekade berikutnya. Pemerintah baru harus menciptakan ratusan juta pekerjaan untuk populasi yang sebagian besar masih miskin.

Dengan usia rata-rata 29 tahun, populasi India adalah salah satu yang termuda secara global, tetapi negara ini belum dapat menuai manfaat ekonomi potensial dari demografi mudanya.

Menurut sebuah laporan baru-baru ini oleh Organisasi Buruh Internasional, orang India yang berpendidikan antara usia 15 dan 29 tahun lebih cenderung menganggur daripada mereka yang tidak bersekolah, yang mencerminkan "ketidakcocokan dengan permintaan dan pekerjaan yang tersedia."

Diterangkan juga bahwa tingkat pengangguran kaum muda di India sekarang lebih tinggi dari tingkat global. Analis khawatir, bahwa jika partai Modi berkinerja buruk dalam jejak pendapat, hal itu dapat menempatkan reformasi tanah dan tenaga kerja utama terbelakang.

Tetapi salah satu ancaman jangka panjang terbesar yang dihadapi ekonomi India adalah perubahan iklim. Negara ini sangat rentan terhadap panas ekstrem dan beberapa tempat di sana mendorong batas kemampuan manusia dalam bertahan hidup, kata para ahli.

Awal pekan ini seperti dilansir CNN, ibu kota India, Delhi, mencatat suhu tertinggi yang pernah ada hingga menyentuh 49,9 derajat Celcius (121,8 derajat Fahrenheit), dan gelombang panas memaksa pihak berwenang untuk memberlakukan penjatahan air.

Para ahli mencemaskan, meningkatnya kadar merkuri di India berisiko menekan kemajuan dalam pengentasan kemiskinan, kesehatan dan pertumbuhan ekonomi.

Negara ini "diperkirakan akan kehilangan sekitar 5,8% dari jam kerja harian karena tekanan panas pada tahun 2030," kata laporan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ESCAP) pada bulan April.

"Masalahnya paling parah bagi pekerja luar ruangan, terutama mereka yang bekerja di pertanian dan konstruksi, tetapi juga relevan untuk pekerja pabrik dalam ruangan," tambahnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright ©2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.1209 seconds (0.1#10.140)