Airlangga Ungkap Alasan Jokowi Bilang Ekonomi RI Segar
Senin, 24 Juni 2024 - 12:47 WIB
loading...
A
A
A
Airlangga menyebutkan, sektor riil juga dalam kondisi baik, dimana PMI berada di level ekspansif di atas 50 selama 33 bulan berturut-turut. Demikian pula dengan indeks keyakinan konsumen yang juga tetap tinggi, diangka 125,2 serta indeks penjualan tetap tumbuh angka 4,7.
Katanya, sektor eksternal tetap kuat, buffer terhadap tekanan global, neraca perdagangan tetap surplus diangka USD2,93 miliar dan surplus ini 49 bulan berturut-turut sedangkan neraca pembayaran mencatatkan defisit USD6 miliar setelah kuartal sebelumnya suprlus USD8,6 miliar.
"Tentu peningkatan pembayaran imbal hasil atas investasi atau investasi dan investasi portofolio ini sejalan dengan apa yang sering disebutkan, yaitu tingkat 10 juta tinggi, yang higher for longer di tingkat global. Sementara, defisit transaksi berjalan,mencapai 0,64 persen dari PDB atau USD2,2 miliar," terangnya.
Airlangga menambahkan, di sektor keuangan ini berperan sebagai intermediasi dari penunjang fundamental ekonomi dimana pertumbuhan kredit, DPK meningkat kembali di angka 11%. Kemudian kredit investasi dan modal kerja juga terus tumbuh, dan realisasi investasi pun naik 9,8% jadi 401,5.
"Nah kemudian penguatan dolar terhadap mata uang dunia termasuk rupiah ini seiring dengan keluarnya penguatan dollar dibanding yield, namun BI telah mengintervensi dan dibandingkan negara lain, real yield kita relatif menarik dengan risiko yang moderat," tutup Airlangga.
Katanya, sektor eksternal tetap kuat, buffer terhadap tekanan global, neraca perdagangan tetap surplus diangka USD2,93 miliar dan surplus ini 49 bulan berturut-turut sedangkan neraca pembayaran mencatatkan defisit USD6 miliar setelah kuartal sebelumnya suprlus USD8,6 miliar.
"Tentu peningkatan pembayaran imbal hasil atas investasi atau investasi dan investasi portofolio ini sejalan dengan apa yang sering disebutkan, yaitu tingkat 10 juta tinggi, yang higher for longer di tingkat global. Sementara, defisit transaksi berjalan,mencapai 0,64 persen dari PDB atau USD2,2 miliar," terangnya.
Airlangga menambahkan, di sektor keuangan ini berperan sebagai intermediasi dari penunjang fundamental ekonomi dimana pertumbuhan kredit, DPK meningkat kembali di angka 11%. Kemudian kredit investasi dan modal kerja juga terus tumbuh, dan realisasi investasi pun naik 9,8% jadi 401,5.
"Nah kemudian penguatan dolar terhadap mata uang dunia termasuk rupiah ini seiring dengan keluarnya penguatan dollar dibanding yield, namun BI telah mengintervensi dan dibandingkan negara lain, real yield kita relatif menarik dengan risiko yang moderat," tutup Airlangga.
(akr)
Lihat Juga :