alexametrics

Teknologi Blockchain Dorong Tren Wakaf

loading...
Teknologi Blockchain Dorong Tren Wakaf
Pengembangan tren wakaf ke depan diyakini akan didorong oleh teknologi blockchain yang akan lebih disukai karena unggul soal keamanan dan transparansi. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Pengembangan tren wakaf ke depan diyakini akan didorong oleh teknologi blockchain. Inovasi menggunakan blockchain semakin disukai karena unggul soal keamanan dan transparansi. Namun pelakunya masih sedikit di Indonesia.

Teknologi blockchain menerapkan teknologi ledger terdistribusi dan kontrak cerdas yang mendasari kripto dari skenario dunia yang berbeda. Inovasi ini juga menawarkan cara baru dan inovatif untuk merampingkan sistem yang ada.

Perusahaan fintech Singapura, Finterra telah mengembangkan platform crowdfunding yang menggunakan blockchain untuk menciptakan kontrak cerdas yang terkait dengan proyek wakaf spesifik. Sebuah wakaf biasanya melibatkan menyumbangkan bangunan, sebidang tanah, atau aset lainnya untuk tujuan keagamaan atau amal tanpa mereklamasi aset tersebut.



Pengamat marketing Yuswohady mengatakan, muslim milenial Indonesia kian agresif menggunakan blockchain dan cryptocurrency dalam mengembangkan produk dan platform berbasis syariah. Namun saat ini baru sedikit pelaku usaha yang mengembangkan teknologi blockchain untuk wakaf atau filantropi lainnya.

“Di Indonesia ada Waqf Network, sebuah platform crowdfunding wakaf uang berbasis blockchain yang sudah dikembangkan. Wakaf kedepan akan jadi kegiatan yang luar biasa apabila didukung pengembangan teknologi,” ujar Yuswohady dalam diskusi beberapa waktu lalu di Jakarta.

Dia juga mengajak para pelaku usaha muslim untuk mempelajari teknologi blockchain karena akan sangat penting ke depannya. Menurutnya teknologi blockchain akan merubah praktik wakaf sehingga menjadi gerakan luar biasa. “Sekarang semua bisa diwakafkan mulai dari sebuah aktifitas, uang, hingga dalam saham. Praktik wakaf juga dimudahkan dengan tren crowdfunding atau urun rembuk dalam aplikasi online,” ujarnya.

Wakaf berbasis blockchain menurutnya memiliki kredibilitas karena tidak bisa dibuka lagi. Dengan melakukan enkripsi dan sudah diblok akan dijamin aman. “Dengan keamanan dan transparansi yang terjamin, maka masyarakat tidak akan ragu lagi nanti untuk berwakaf,” tambahnya.

President Director Global Wakaf Corporation ACT Syahru Aryansyah mengutarakan, pihaknya memprediksi akan menggunakan teknologi blockchain di tahun depan. Namun saat ini fokusnya adalah membenahi fondasi dan kesadaran wakaf di masyarakat.

Edukasi menurutnya dibutuhkan untuk merubah mindset wakaf berupa aset yang kurang produktif seperti kuburan. Namun sekarang arahnya masuk ke aset produktif dalam konsep korporasi sosial dan bisnis. “Namun kami belum masuk teknikal blockchain. Tahun depan targetnya masuk kesana,” ujar Syahru atau akrab disapa Ryan kemarin.

Sebagai fondasi awalnya yang harus diperkuat adalah infrastruktur teknologi blockchain untuk filantropi mencakup seluruh praktik ZISWAF. Terang dia, ACT kini memiliki jutaan transaksi dari ratusan ribu donatur terintegrasi dengan program yang didanai sehingga semuanya butuh terkomputasi.

“Sekarang kami rapikan data center, flow bisnis filantropi seperti apa idealnya dan rencana program. Misalnya bangun wakaf terpadu dari hulu hingga hilir apa saja portofolionya lalu bikin modelnya,” ujarnya.

Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui Global Wakaf optimistis sepanjang tahun ini dapat menghimpun dana wakaf mencapai Rp400 miliar demi mewujudkan korporasi wakaf. Target tersebut cukup signifikan dibandingkan pencapaian sepanjang tiga tahun terakhir yang baru menghimpun dana wakaf mencapai Rp100 miliar.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak