alexametrics

Maskapai Ingin Larangan Terbang 737 MAX Dicabut, UE Masih Hati-Hati

loading...
Maskapai Ingin Larangan Terbang 737 MAX Dicabut, UE Masih Hati-Hati
Maskapai penerbangan berharap keputusan soal keselamatan Boeing 737 MAX segera diambil oleh regulator penerbangan seluruh dunia. Foto/Ilustrasi
A+ A-
SEOUL - Sejumlah maskapai pada pertemuan tahunan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) di Seoul, Korea Selatan, akhir pekan ini mendesak regulator penerbangan untuk berkoordinasi terkait perubahan perangkat lunak pada Boeing 737 MAX, guna menghindari kerusakan yang terjadi akibat perbedaan pendapat mengenai keselamatan jenis pesawat yang secara global dikandangkan mulai Maret lalu tersebut.
IATA yang 290 maskapai anggotanya bertanggung jawab atas 80% penerbangan di seluruh dunia tersebut menyatakan kepercayaannya terhadap sistem sertifikasi pesawat yang telah dirusak oleh gelombang keputusan pelarangan terbang secara terpisah di seluruh dunia, termasuk AS yang terakhir memerintahkan pelarangan terbang 737 MAX.
Maskapai khawatir perbedaan lebih lanjut antara regulator atas keselamatan pesawat tersebut dapat membingungkan penumpang dan menyebabkan gangguan. "Setiap keretakan antara regulator tidak dalam menguntungkan siapa pun," ujar Direktur Jenderal IATA Alexandre de Juniac seperti dikutip Reuters, Mingggu (2/6/2019).

Jet terlaris Boeing tersebut dikandangkan di seluruh dunia setelah mengalami dua kecelakaan, yakni di Indonesia dan Ethiopia, yang menewaskan total 346 orang. Regulator penerbangan AS, Federal Aviation Administration (FAA) awalnya menolak keputusan mengandangkan 737 MAX yang dipimpin oleh China. Namun, AS akhirnya juga mengikuti gelombang pelarangan terbang tersebut.

Seorang pejabat perusahaan penerbangan menyatakan, tiap perbedaan baru mengenai keputusan terkait persoalan tersebut dapat menyebabkan masalah dalam operasi dan pembagian kode. "Jelas bagi kami untuk mengoperasikan MAX, persetujuan dari otoritas Singapura saja tidak cukup. Kami harus beroperasi di suatu tempat, Indonesia dan China adalah dua pasar penting bagi kami," kata CEO Singapore Airlines Goh Choon Phong.



Akan tetapi, pejabat tinggi transportasi Uni Eropa mengatakan, regulator penerbangan blok itu, European Aviation Safety Agency (EASA) berhak untuk melakukan tinjauan terpisah dengan rentang waktu sendiri.

"Tentu saja EASA akan mencermati hasil (dari perubahan desain yang diusulkan) dan kemudian membuat keputusan dan pesan itu sangat jelas disahkan," kata Komisaris Transportasi Violeta Bulc.

Dia menambahkan, UE akan selalu bekerja bersama dengan regulator lain dan siap mengambil langkah bersama terkait persoalan tersebut. "Tetapi, EASA berhak untuk menilai hasilnya secara individu dan kemudian tentu saja terlibat dengan regulator lainnya," tuturnya.

Ditanya mengenai berapa lama untuk mengakhiri krisis ini, dia berkata pihaknya berharap sesegera mungkin. "Karena kita perlu memulihkan ketertiban dan kepercayaan dan terus maju," ujarnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak