Semakin Terfragmentasi, WTO: Perdagangan Global dalam Bahaya

Selasa, 09 Juli 2024 - 12:51 WIB
loading...
Semakin Terfragmentasi,...
Dunia dinilai semakin mengarah pada fragmentasi yang bisa membahayakan perdagangan global. FOTO/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Perdagangan global sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala.

"Kita melihat meningkatnya proteksionisme, beberapa pelemahan aturan WTO, dan beberapa di antaranya mengarah pada fragmentasi," ungkapnya seperti dilansir BBC, Selasa (9/7/2024). "Perdagangan global benar-benar bagian dari urat nadi untuk membuat negara-negara tangguh - dan juga untuk mendukung pertumbuhan, jadi kami khawatir tentang hal itu."

Dalam beberapa minggu dan bulan terakhir, fragmentasi perdagangan global semakin mengemuka dengan tindakan Uni Eropa (UE) yang mengenakan tarif sementara hingga 37,4% pada impor kendaraan listrik (EV) China. Sebelumnya, pada bulan Mei lalu Amerika Serikat (AS) memberlakukan tarif 100% pada kendaraan listrik China.

Baca Juga: Dampak Mencolok Tarif Uni Eropa terhadap Ekspor Mobil Listrik China

Baik Brussels maupun Washington menuduh pemerintah China secara tidak adil menyubsidi sektor kendaraan listriknya, mengizinkan produsen mengekspor mobil dengan harga yang sangat rendah, dan mengancam lapangan pekerjaan di Barat.Terkait tarif impor pada kendaraan listrik China, Komisioner perdagangan UE Valdis Dombrovskis mengatakan kepada BBC bahwa Eropa tidak ingin menutup pasarnya. "Kami menyambut impor, kami menyambut persaingan, tetapi persaingan ini harus adil," kilahnya.

Presiden AS Joe Biden juga telah menaikkan pajak impor pada sejumlah produk China lainnya yang menurutnya akan membentuk industri masa depan. Ini termasuk baterai kendaraan listrik dan mineral yang dikandungnya, sel yang dibutuhkan untuk membuat panel surya, dan chip komputer. Sementara itu, AS telah menggelontorkan miliaran dolar uang pemerintah untuk teknologi hijau, melalui Undang-Undang Pengurangan Inflasi, yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor China.

Tahun lalu, WTO mencatat volume perdagangan global turun untuk ketiga kalinya dalam 30 tahun. Penurunan 1,2% itu dikaitkan dengan inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi. WTO memperkirakan perdagangan global mulai mengalami pemulihan tahun ini. Namun, perkembangan belakangan ini dinilai tidak sesuai dengan harapan WTO.

"Apa yang telah kita lihat dalam beberapa tahun terakhir, menurut saya, khususnya dalam hal hubungan perdagangan global, sama sekali tidak seperti yang telah kita lihat sejak berakhirnya Perang Dingin," kata Wakil Direktur Pelaksana Pertama Dana Moneter Internasional (IMF) Gita Gopinath dalam pidatonya baru-baru ini.

Baca Juga: Tentara Israel Sengaja Membunuh Warganya Sendiri pada 7 Oktober 2023

Dalam beberapa tahun terakhir, kata dia, dunia mengalami banyak guncangan, termasuk pandemi, dan diikuti invasi Rusia ke Ukraina. "Setelah peristiwa ini, semakin banyak negara di seluruh dunia yang berpatokan pada keamanan ekonomi dan masalah keamanan nasional dalam menentukan dengan siapa mereka berdagang dan kepada siapa mereka berinvestasi," katanya. Hal itu menurutnya memengaruhi negara-negara lainnya yang terpaksa harus memilih antara memperkuat hubungan ekonomi dengan kekuatan Barat atau poros China-Rusia.

Hal serupa dikhawatirkan pula oleh Okonjo-Iweala dari WTO. "Kami juga khawatir tentang munculnya fragmentasi yang kami lihat dalam data perdagangan. Kami melihat bahwa perdagangan antara blok-blok yang memiliki pemikiran yang sama tumbuh lebih cepat daripada perdagangan lintas blok tersebut," ujarnya.

Dia memperingatkan bahwa harga yang harus dibayar akan sangat mahal jika dunia terus menempuh jalan ini. Penelitian WTO memperkirakan harga tersebut adalah sebesar 5% dari nilai ekonomi global. Sementara IMF memperkirakan bahwa kerugian dari hal ini bisa mendekati 7% dari nilai ekonomi dunia atau sekira USD7,4 triliun, dari hilangnya produksi dalam jangka panjang.

Kekhawatiran terhadap dampak kecenderungan proteksionisme pada perdagangan global tersebut memang beralasan. Dalam kasus pengenaan tarif impor pada kendaraan listrik China oleh UE misalnya, kendati kedua belah pihak bersiap mengadakan perundingan kembali, pemerintah China dilaporkan telah mengambil ancang-ancang untuk tindakan pembalasan. China disebut-sebut tengah mempertimbangkan untuk menerapkan tarif serupa terhadap produk daging babi, cognac, dan mobil mewah dari Eropa.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Demi Gencatan Dagang...
Demi Gencatan Dagang Berlanjut, China Beri Sinyal Terima Kenaikan Tarif AS
Trump-Xi Jinping Bertemu...
Trump-Xi Jinping Bertemu Tanpa Kesepakatan Logam Tanah Jarang, Perang Dagang Masih Membayangi
Pertemuan Trump dan...
Pertemuan Trump dan Xi Jinping Diyakini Bahas Taiwan hingga Konflik Iran
Prabowo: 70% Energi...
Prabowo: 70% Energi Asia Timur dan Perdagangan Dunia lewat Laut Indonesia
Waketum PKB: Perjanjian...
Waketum PKB: Perjanjian Dagang AS-RI Perkuat Posisi Indonesia di Peta Global
Rekomendasi
Wamenhaj: Transparansi...
Wamenhaj: Transparansi jadi Kunci Berantas Kartel Haji
Hadapi Pemilu 2029,...
Hadapi Pemilu 2029, PSI Perkuat Konsolidasi Akar Rumput di Kalimantan
Polisi Sebut Aksi Unjuk...
Polisi Sebut Aksi Unjuk Rasa BEM UI di Bundaran HI Tak Sesuai Aturan
Berita Terkini
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Bocoran Isi Kesepakatan...
Bocoran Isi Kesepakatan AS-Iran: Barter Minyak, Aset Triliunan, hingga Senjata Nuklir
Pendaftaran Program...
Pendaftaran Program Magang ke Jepang Dibuka Kemnaker, Begini Caranya
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved