Kejar Ketertinggalan, Konsep Pariwisata Halal Harus Terus Dimatangkan

Jum'at, 12 Juli 2019 - 03:13 WIB
Kejar Ketertinggalan,...
Kejar Ketertinggalan, Konsep Pariwisata Halal Harus Terus Dimatangkan
A A A
JAKARTA - Konsep Pariwisata Halal (halal tourism) di Tanah Air perlu terus dimatangkan, demi mengejar keberhasilan seperti yang telah dicapai negara lain. Di Jepang, misalnya, telah membuktikan hotel berkonsep muslim friendly sukses menarik tamu dari Eropa. Bahkan keluarga dari Eropa percaya untuk menitipkan anaknya selama berlibur di Jepang.

Hal ini disampaikan Vice Chairwoman of Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Jetti Rosila Hadi yang mengatakan, konsep wisata halal banyak menggunakan beragam istilah. Salah satunya hotel muslim friendly di Jepang tersebut. Konsep ini justru diminati karena lebih terpercaya dengan informasi yang jelas buat wisatawan.

“Kita harus terus matangkan konsep wisata halal supaya prinsip-prinsipnya jelas oleh seluruh stakeholder. Khususnya pemerintah pusat dan daerah. Kita harus bisa menjadi benchmarking wisata halal dunia. Tapi sekarang kita harus berlari kejar ketinggalan,” ujar Jetti dalam diskusi bersama perwakilan stakeholder wisata halal.

Sambung dia menjelaskan, saat ini ada perbedaan pandangan mengenai wisata halal di masyarakat. Pemerintah pusat dan daerah belum bisa memisahkan wisata halal dan syariah Islam.

Dalam wisata halal terdapat layanan yang diberikan untuk semua orang dari berbagai agama atau inklusif. “Wisata halal harus dipisahkan dengan islamisasi. Kita harus berikan rasa nyaman untuk turis manapun. Justru kita ingin turis kembali lagi dan melakukan belanja,” ujarnya.

Intinya, menurut dia, berikan pengalaman yang baik kepada turis dengan informasi yang jelas untuk makanan halal atau tidak. Ini harus dijelaskan, bukan dipasang sekat sekat yang tidak nyaman. Nanti kalau nyaman para turis bisa setahun tiga kali datang dan belanja yang banyak.

“Dengan konten yang negatif di sosial media itu sangat merugikan dalam membentuk persepsi di masyarakat. Karena itu kami inisiasi FGD untuk samakan persepsi bukan harus seragam tapi prinsipnya harus dipahami. Ini bisa jadi awal langkah untuk mengejar ketertinggalan,” terangnya.

Ditambahkan oleh Chairman of IHLC, Sapta Nirwandar bahwa konsep halal tidak hanya baik untuk Muslim tetapi juga non-Muslim. Begitu pula servis pariwisata halal yang baik untuk semua orang. Karena itu apa yang dimaksud pariwisata halal harus disampaikan ke publik dengan benar agar tidak keliru memaknainya.

"Karena halal boleh untuk semuanya, dalam konteks halal ini untuk semua manusia, halal baik untuk orang Islam baik juga buat non-Islam," ujar Sapta dalam kesempatan sama.

Terang dia, pariwisata halal harus terus disosialisasikan kepada masyarakat agar tidak salah persepsi dan ini adalah pekerjaan bersama semua pihak. Pariwisata halal bukan bagian dari proses Islamisasi. “Ini juga tergantung kebijakan pemerintah pusat dan daerah,” ujarnya.

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI Masduki Baidlowi mengungkapkan, banyak orang yang memahami pariwisata halal sebagai bagian dari proses Islamisasi. Sejatinya ini adalah strategi mencari pasar wisatawan dunia. Karena banyak terjadi pertumbuhan dalam kelas menengah masyarakat Musim di dunia. “Kelas menengah butuh pariwisata halal, artinya ada ceruk pasar yang besar di situ. Indonesia harus menangkap itu dengan baik," kata Masduki.

Tapi selama ini, menurut dia, banyak cara yang keliru dalam menangkap peluang tersebut. Sebagai contoh pengembangan pariwisata halal direspons pemerintah daerah dengan membuat peraturan daerah (perda) syariah. Kemudian sebuah pantai dibuat label sebagai objek wisata syariah. Akhirnya menimbulkan persoalan karena banyak menimbulkan kontroversi.

Dia juga mencontohkan, orang yang ingin mendaki Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB) harus di pisah antara pria dan wanita. Menurut KH Masduki kebijakan tersebut Islamisasi. Dia menjelaskan, Islamisasi memang tidak dilarang, tapi pengembangan pariwisata halal dan proses Islamisasi berbeda.

"Proses Islamisasi beda lagi bab-nya, bukan berarti itu dilarang, tapi beda babnya karena pariwisata halal sebenarnya tidak persis sama dengan proses Islamisasi dengan tidak mengurangi betapa pentingnya Islamisasi karena itu bagian dari strategi dakwah," ujarnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Mengapa Wisata Halal?
Mengapa Wisata Halal?
Sinergi Mendongkrak...
Sinergi Mendongkrak Jumlah Wisatawan Muslim ke Indonesia
Pariwisata Halal Didorong...
Pariwisata Halal Didorong Jadi Penggerak Pemulihan Ekonomi
Sandiaga Uno: Indonesia...
Sandiaga Uno: Indonesia Peringkat Satu Destinasi Pariwisata Halal Terbaik Dunia
Integrasikan Pariwisata...
Integrasikan Pariwisata Halal di Indonesia, Ilham Habibie Luncurkan ISH Tour
Apresiasi Peluncuran...
Apresiasi Peluncuran Treetan, Wamenag: Wisata Halal Bukan Islamisasi
Berita Terkini
Harga Gas Penting, tapi...
Harga Gas Penting, tapi Bukan Penyebab Tunggal Industri Lesu dan PHK
11 menit yang lalu
Harga Emas Antam Turun...
Harga Emas Antam Turun Rp15.000 Jadi Rp2,64 Juta per Gram, Ini Rinciannya
33 menit yang lalu
IHSG Dibuka Menguat...
IHSG Dibuka Menguat 0,61% ke Level 5.932
1 jam yang lalu
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Balas Serangan, Harga Minyak Langsung Mendidih
1 jam yang lalu
GAPKI Soroti Indonesia...
GAPKI Soroti Indonesia Belum Ada Acuan Harga Sawit yang Seragam
2 jam yang lalu
Harga Minyak Kembali...
Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum Perang, Mengapa Bensin Tak Ikut Turun?
3 jam yang lalu
Infografis
5 Manfaat Salat Tarawih...
5 Manfaat Salat Tarawih bagi Kesehatan yang Harus Diketahui
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved