alexametrics

Pemerintah Pacu Ekonomi Kreatif untuk Generasi Milenial

loading...
Pemerintah Pacu Ekonomi Kreatif untuk Generasi Milenial
Untuk meraih pasar generasi milenial, diperlukan pengetahuan akan kebiasaan mereka sebagai consumer. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Kementerian Koordinator bidang Perekonomian (Kemenkoperekonomian) terus memacu perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Hal ini seiring berkembangnya globalisasi yang memiliki banyak tuntutan akan kemudahan dan kecepatan yang harus dicapai untuk menjadi negara maju.

Salah satu konsep yang lahir akibat tuntutan globalisasi dan Revolusi Industri 4.0 adalah ekonomi kreatif. Tak hanya itu, ekonomi kreatif juga dijadikan sebagai pilar ekonomi bangsa di masa depan.

Kolaborasi antara konsep ekonomi dan kreativitas perlu disadari dampaknya oleh masyarakat, khususnya untuk para pelaku bisnis. Ide kreatif untuk membuat perubahan dan inovasilah yang akan dapat membantu bertahan di era digital, karena proses bisnis masa kini tak hanya sekadar memproduksi barang dan menjualnya saja.



Selain itu, kreativitas tentunya diperlukan untuk menyasar target market produsen saat ini yaitu generasi milenial yang selalu dinamis dan mempunyai minat yang beragam.

Untuk meraih pasar generasi milenial, tentu saja diperlukan pengetahuan akan kebiasaan mereka sebagai consumer. Maka itu, tak heran jika perusahaan-perusahaan startup yang marak saat ini dimotori oleh para milenial itu sendiri. Sebab, generasi milenial itu akan bisa memberikan knowledge baru bagi para seniornya.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan UKM Kemenkoperekonomian Rudy Salahuddin menjelaskan, pemerintah mendorong semangat generasi milenial untuk membawa perubahan bagi Indonesia, khususnya di bidang ekonomi kreatif, misalnya dengan membangun usaha startup yang akan berkontribusi besar dalam perluasan lapangan kerja.

Di samping itu, untuk memberikan pandangan tentang cara mereka dalam mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dengan melanjutkan kuliah lagi ke jenjang lebih tinggi.

Menurut Rudi, sebetulnya ada beberapa alternatif pilihan bagi para mahasiswa setelah lulus kuliah, diantaranya langsung masuk ke dunia kerja, menjadi wirausaha, atau melanjutkan kuliah ke tingkat lebih tinggi.

"Di Indonesia, tingkat pengangguran masih sebesar 5%, dan di sini lulusan SMK dan universitas cukup mendominasi. Jadi, bagaimana kita dapat menjadi orang yang produktif setelah lulus, juga bagaimana kita bisa memulai startup ataupun menjadi profesional yang baik,” ungkap Rudy di Jakarta, Minggu (4/8/2019).

Dia pun mendukung era Industri 4.0, yang mana terdapat dua poin penting yang menjadi penopang kemajuannya, yaitu angkatan kerja harus terus belajar dalam mengembangkan diri serta meningkatkan ketrampilannya.

"Khususnya untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi yang disruptif sekarang ini," jelasnya

Saat ini, pemerintah menargetkan rasio jumlah kelulusan S2 per 1 juta penduduk agar meningkat signifikan pada 2025. Sayangnya, sampai saat ini penduduk Indonesia masih kurang minatnya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang lebih tinggi.

Salah satu alasan yakni faktor biaya pendidikan lanjutan yang tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Sebagai solusi, pemerintah mendorong berbagai beasiswa pendidikan dari banyak lembaga, termasuk Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan.
(ind)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak