Kemenkeu Mencatat Defisit APBN Terus Melebar
Rabu, 26 Agustus 2020 - 09:35 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut Menkeu membeberkan, jika dilihat peta penerimaan pajak tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang sangat rapuh. “Ini yang harus hati-hati. Untuk menuju nol (pertumbuhan ekonomi) diperlukan kerja keras yang berat, karena aktivitas ekonomi belum menunjukkan perbaikan seperti yang kita harapkan,” keluhnya.
Mengenai hal tersebut, ekonom Indef, Bhima Yudhsitira, mengajukan penilaian. Defisit yang terjadi saat ini masalahnya adalah ketika proyeksi defisit APBN melebar, namun uang untuk melakukan stimulus ini ternyata serapannya sangat lambat, khususnya untuk stimulus kesehatan.
“Jadi, sangat jauh dari ekspektasi. Nah ini kemudian jadi masalah. Artinya, dengan proyeksi pelebaran defisit, pemerintah cari uang dengan cara mengutang dan utang naik cukup tinggi, sementara anggaran yang ada untuk lakukan stimulus nol,” ujar Bhima saat dihubungi di Jakarta kemarin.
Pejabat pelaksana teknis dinilai tidak bekerja optimal sehingga pemulihan ekonomi berjalan lebih lama. Efek dari adanya pelebaran anggaran tidak disertai dengan percepatan realisasi stimulus. Artinya, pelebaran anggaran ini bisa sangat mubazir bagi ekonomi Indonesia dan akan jadi beban karena ternyata uangnya ditahan untuk dicairkan dalam bentuk stimulus. (Lihat videonya: Antrean Mengular, Pengadilan Agama Soreang Dibanjiri Pasutri Sidang Cerai)
“Nah, kalau ini terus terjadi sampai akhir tahun, otomatis pemulihan ekonomi akan lambat dan efeknya kita akan masuk resesi, sementara penerimaan pajak butuh waktu lebih lama lagi,” bebernya.
Jadi, menurut Bhima, semua masalah ini ada pada pejabat yang kurang kompeten dan birokrasi yang lambat dalam mencairkan stimulus. Padahal, anggaran sudah dicarikan dari pelebaran defisit tersebut. (Rina Anggraeni/Kunthi Fahmar Sandy)
Mengenai hal tersebut, ekonom Indef, Bhima Yudhsitira, mengajukan penilaian. Defisit yang terjadi saat ini masalahnya adalah ketika proyeksi defisit APBN melebar, namun uang untuk melakukan stimulus ini ternyata serapannya sangat lambat, khususnya untuk stimulus kesehatan.
“Jadi, sangat jauh dari ekspektasi. Nah ini kemudian jadi masalah. Artinya, dengan proyeksi pelebaran defisit, pemerintah cari uang dengan cara mengutang dan utang naik cukup tinggi, sementara anggaran yang ada untuk lakukan stimulus nol,” ujar Bhima saat dihubungi di Jakarta kemarin.
Pejabat pelaksana teknis dinilai tidak bekerja optimal sehingga pemulihan ekonomi berjalan lebih lama. Efek dari adanya pelebaran anggaran tidak disertai dengan percepatan realisasi stimulus. Artinya, pelebaran anggaran ini bisa sangat mubazir bagi ekonomi Indonesia dan akan jadi beban karena ternyata uangnya ditahan untuk dicairkan dalam bentuk stimulus. (Lihat videonya: Antrean Mengular, Pengadilan Agama Soreang Dibanjiri Pasutri Sidang Cerai)
“Nah, kalau ini terus terjadi sampai akhir tahun, otomatis pemulihan ekonomi akan lambat dan efeknya kita akan masuk resesi, sementara penerimaan pajak butuh waktu lebih lama lagi,” bebernya.
Jadi, menurut Bhima, semua masalah ini ada pada pejabat yang kurang kompeten dan birokrasi yang lambat dalam mencairkan stimulus. Padahal, anggaran sudah dicarikan dari pelebaran defisit tersebut. (Rina Anggraeni/Kunthi Fahmar Sandy)
(ysw)
Lihat Juga :