Jaga Daya Beli Kelas Menengah Kunci Stabilkan Pertumbuhan Ekonomi
Selasa, 10 September 2024 - 08:22 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, program kompensasi finansial dan dukungan pelatihan bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan juga menjadi fokus utama pemerintah. Dengan subsidi pada beberapa kebutuhan kelas menengah, pemerintah berharap dapat menjaga daya beli mereka dan menjadikan kelas menengah sebagai pilar utama dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Kendati demikian, imbuh Ferry, pemerintah tidak melupakan masyarakat kelas bawah. Berbagai program bantuan sosial terus diperkuat untuk memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat tetap memiliki daya beli yang cukup.
Baca Juga: Kim Jong-un Bakal Tingkatkan Jumlah Bom Nuklir Korut untuk Melawan AS
Pemerintah juga gencar melakukan berbagai strategi dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional, terutama untuk menghadapi tantangan eksternal yang silih berganti. Ferry mengingatkan, salah satu tantangan eksternal yang pernah dialami adalah isu perlambatan ekonomi China pada 2016. China merupakan tujuan utama ekspor Indonesia dengan porsi sekitar 20%. Apa yang terjadi di China, kata dia, secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi ekonomi nasional, termasuk dalam hal investasi.
Kemudian, pada periode 2017-2019, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China yang semakin meningkat juga memberikan tekanan pada perekonomian global. Puncaknya, pada 2020, pandemi COVID-19 melanda dunia, menyebabkan pembatasan aktivitas yang berdampak besar pada perekonomian.
Kini, lanjut dia, dunia kembali dihadapkan pada konflik geopolitik Rusia-Ukraina dan kebijakan moneter ketat di negara-negara maju. Namun demikian, di tengah tekanan-tekanan tersebut, tegas Ferry, perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh sekitar 5%.
Baca Juga: Kim Jong-un Bakal Tingkatkan Jumlah Bom Nuklir Korut untuk Melawan AS
Pemerintah juga gencar melakukan berbagai strategi dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional, terutama untuk menghadapi tantangan eksternal yang silih berganti. Ferry mengingatkan, salah satu tantangan eksternal yang pernah dialami adalah isu perlambatan ekonomi China pada 2016. China merupakan tujuan utama ekspor Indonesia dengan porsi sekitar 20%. Apa yang terjadi di China, kata dia, secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi ekonomi nasional, termasuk dalam hal investasi.
Kemudian, pada periode 2017-2019, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China yang semakin meningkat juga memberikan tekanan pada perekonomian global. Puncaknya, pada 2020, pandemi COVID-19 melanda dunia, menyebabkan pembatasan aktivitas yang berdampak besar pada perekonomian.
Kini, lanjut dia, dunia kembali dihadapkan pada konflik geopolitik Rusia-Ukraina dan kebijakan moneter ketat di negara-negara maju. Namun demikian, di tengah tekanan-tekanan tersebut, tegas Ferry, perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh sekitar 5%.
(fjo)
Lihat Juga :