Pasien IMF sejak 1958, Pakistan Kembali Dapatkan Pinjaman Rp105,5 Triliun
Kamis, 26 September 2024 - 21:35 WIB
loading...
Dana Moneter Internasional atau IMF menyetujui pinjaman senilai USD7 miliar atau setara Rp105,5 triliun untuk Pakistan yang sedang kekurangan uang. Foto/Dok Reuters
A
A
A
JAKARTA - Dana Moneter Internasional ( IMF ) menyetujui pinjaman senilai USD7 miliar atau setara Rp105,5 triliun (Kurs Rp15.080 per USD) untuk Pakistan yang sedang kekurangan uang. Pada tahap pertama, Pakistan bakal menerima USD1 miliar, untuk kemudian sisanya akan dibayarkan selama tiga tahun ke depan.
Perdana Menteri (PM) Shehbaz Sharif menyambut baik keputusan tersebut dan berterima kasih kepada Kepala IMF, Kristalina Georgieva, dan timnya. Baca Juga: IMF Bangun Kembali Hubungan dengan Rusia Bikin 9 Negara Eropa Geram
Pakistan telah mengambil lebih dari 20 pinjaman dari IMF sejak 1958 dan saat ini merupakan debitur terbesar kelima.Program baru "akan membutuhkan kebijakan dan reformasi yang baik" untuk menstabilkan dan membantu membuat ekonomi lebih tangguh, kata IMF.
Negara Asia Selatan itu telah berjanji bahwa ini akan menjadi pinjaman terakhir dari pemberi pinjaman internasional tersebut. Sebagai bagian dari kesepakatan, Islamabad menyetujui sejumlah langkah yang tidak populer, termasuk meningkatkan jumlah pajak yang dipungut dari individu, maupun sektor bisnis.
Baca Juga: Banyak Negara Berjuang Atasi Krisis, Jokowi : 96 Negara Jadi Pasien IMF
Perdana Menteri (PM) Shehbaz Sharif menyambut baik keputusan tersebut dan berterima kasih kepada Kepala IMF, Kristalina Georgieva, dan timnya. Baca Juga: IMF Bangun Kembali Hubungan dengan Rusia Bikin 9 Negara Eropa Geram
Pakistan telah mengambil lebih dari 20 pinjaman dari IMF sejak 1958 dan saat ini merupakan debitur terbesar kelima.Program baru "akan membutuhkan kebijakan dan reformasi yang baik" untuk menstabilkan dan membantu membuat ekonomi lebih tangguh, kata IMF.
Negara Asia Selatan itu telah berjanji bahwa ini akan menjadi pinjaman terakhir dari pemberi pinjaman internasional tersebut. Sebagai bagian dari kesepakatan, Islamabad menyetujui sejumlah langkah yang tidak populer, termasuk meningkatkan jumlah pajak yang dipungut dari individu, maupun sektor bisnis.
Baca Juga: Banyak Negara Berjuang Atasi Krisis, Jokowi : 96 Negara Jadi Pasien IMF
Lihat Juga :