Ancaman Arab Saudi Bisa Bikin Krisis Ekonomi Perang Rusia

Rabu, 16 Oktober 2024 - 08:14 WIB
loading...
A A A
"Arab Saudi muak," kata Simon Henderson, direktur Program Bernstein tentang Kebijakan Teluk dan Energi di The Washington Institute, kepada Business Insider.

"Kepemimpinan OPEC adalah tanggung jawab multifaset. Ini bisa bekerja dengan baik, tetapi juga seperti menggembalakan kucing — sangat mustahil, setidaknya untuk beberapa waktu."

Data Peringkat Global S & P menghitung Rusia berada di antara produsen yang memproduksi secara berlebihan di OPEC+. Menurut data terakhir yang tersedia, Moskow memproduksi 122.000 barel di atas kuota hariannya pada bulan Juli. Selain itu Iran dan Kazakhstan juga melanggar ambang batas yang disepakati.

Dilema Kremlin

Henderson memperkirakan, bahwa beberapa anggota OPEC mungkin melakukan ini untuk memaksimalkan keuntungan.

Dalam kasus Rusia, Moskow menghadapi tekanan untuk meraup sebanyak yang dimiliki, karena perangnya di Ukraina telah menggelembung pengeluaran pertahanan dan keamanan dalam perang yang sudah berjalan tiga tahun. Sektor-sektor ini secara kolektif akan menyumbang 40% dari semua pengeluaran federal di Rusia tahun depan.

Sementara itu, keuangan Rusia sangat bergantung pada pendapatan minyak. Beberapa tahun yang lalu, produksi gas dan minyak menyumbang 35% hingga 40% dari pendapatan anggaran negara, kata menteri keuangan Rusia minggu ini.

Karena alasan inilah Barat begitu fokus untuk mengekang keuntungan minyak Rusia. Pembatasan harga minyak Rusia USD60 diperkenalkan, meski inisiatif tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Menghadapi pembatasan harga itu, Rusia mampu menghindarinya dengan menggunakan kapal tanker "bayangan" yang tidak terdaftar. Akan tetapi ancaman Riyadh membuat harga minyak jadi USD50 per barel, mungkin lebih sulit untuk diatasi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pastikan Kelancaran...
Pastikan Kelancaran Pemulangan Jemaah Haji, Garuda Indonesia Intensif Koordinasi dengan Arab Saudi
Arab Saudi Diprediksi...
Arab Saudi Diprediksi Pangkas Harga Minyak ke Asia hingga USD8 per Barel
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Meroket dalam Hitungan Jam usai AS Serang Iran Lagi
Krisis Selat Hormuz,...
Krisis Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD100 per Barel Bertahun-tahun
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Putin Klaim Tak Melihat...
Putin Klaim Tak Melihat Adanya Provokasi dari Iran
Putin: Serangan Rudal...
Putin: Serangan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina Hanya Tes, Belum Skala Penuh
Rekomendasi
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
Refleksikan Cita-cita...
Refleksikan Cita-cita Bung Karno, PDIP Minta Pemerintah Wujudkan Keadilan Hukum dan Ekonomi
Skuad Timnas Norwegia...
Skuad Timnas Norwegia Foto Ala Pasukan Viking Menuju Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
Infografis
Ancaman Perang Kian...
Ancaman Perang Kian Nyata, 8 Negara Minta Warganya Tinggalkan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved