Di COP 29, PGE: Panas Bumi Katalisator Utama Transisi Energi

Kamis, 14 November 2024 - 13:51 WIB
loading...
Di COP 29, PGE: Panas...
Direktur Utama PGE Julfi Hadi dalam diskusi di Conference of the Parties (COP) 29 di Baku, Azerbaijan. FOTO/Ist
A A A
JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk ( PGE ) menyoroti peran panas bumi sebagai katalisator utama dalam transisi energi dan solusi strategis menghadapi krisis iklim dalam Conference of the Parties (COP) 29 di Baku, Azerbaijan. Pengembangan panas bumi juga diyakini akan menjadikan Indonesia sebagai raksasa energi hijau.

Dalam panel diskusi bertema "Transisi Energi: Inovasi, Pendekatan Keberlanjutan, Upaya Strategis, dan Inisiatif untuk Mencapai Target Iklim Indonesia" di paviliun Indonesia pada COP 29, Rabu (13/11), Direktur Utama PGE Julfi Hadi menyampaikan Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang luar biasa, terutama energi panas bumi yang paling cocok menggantikan peran energi fosil.

Baca Juga: Bahlil Ramal Investasi Panas Bumi Tembus Rp133 Triliun di 2024

"Sebagai negara dengan potensi panas bumi terbesar kedua di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab dan peluang besar menjadi pemimpin transisi energi global. Dengan karakteristiknya sebagai energi baseload, panas bumi adalah solusi ideal untuk menggantikan bahan bakar fosil, mendorong agenda transisi ke energi bersih dan mengurangi laju perubahan iklim," ujar Julfi Hadi melalui keterangan pers, Kamis (14/11/2024).

Julfi menambahkan, transisi ke energi hijau merupakan kebutuhan yang mendesak, terutama bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Namun, imbuh dia, ada sejumlah tantangan dalam pengembangan energi panas bumi, sehingga dari total sumber daya 24 GW yang dimiliki Indonesia, baru sekitar 10% yang telah dimanfaatkan.

Karena itu, tegas dia, dengan semangat COP29, perlu kolaborasi global untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi. Tantangan pengembangan panas bumi menurutnya cukup beragam, mulai dari aspek teknis, regulasi, hingga pembiayaan. Dengan kerja sama global, tegas dia, tantangan-tantangan ini dapat diubah menjadi peluang.

"Negara-negara di dunia perlu mendorong terciptanya ekosistem yang mendukung pengembangan panas bumi, terutama melalui penguatan sektor keuangan hijau. Investasi yang lebih besar di sektor ini adalah kunci untuk mempercepat transisi menuju masa depan yang lebih bersih," tegas Julfi.

Baca Juga: Tantang Dominasi Barat, China Kenalkan Jet Tempur Generasi ke-6 'Kaisar Putih'

Percepatan pengembangan panas bumi, kata Julfi, akan membuat Indonesia berpotensi menjadi raksasa energi hijau dunia. Ini selaras dengan peta jalan EBT nasional yang menargetkan kapasitas terpasang panas bumi sebesar 10,5 GW pada 2035. Target ini diharapkan menarik investasi sebesar USD17-18 miliar, berkontribusi hingga USD22 miliar pada PDB, serta menciptakan hingga 1 juta lapangan kerja.

Untuk mendukung visi tersebut, lanjut Julfi, PGE terus berkomitmen meningkatkan kapasitas terpasang hingga 1,5 GW pada 2030 melalui implementasi paradigma baru pengembangan panas bumi yang lebih efisien dan inovatif. Sementara pendekatan yang dilakukan PGE adalah pengembangan secara bertahap untuk meminimalisasi risiko; penerapan teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi; kolaborasi untuk meningkatkan volume dan konsolidasi pasar; pengembangan bisnis hijau baru, seperti hidrogen hijau dan amonia hijau; dan promosi lokalisasi teknologi dengan mendorong manufaktur lokal komponen utama pembangkit panas bumi.

"Potensi energi baru dan terbarukan terutama panas bumi adalah kekuatan besar yang tidak hanya mendukung Indonesia memperkuat komitmen iklim dan mencapai target nol emisi pada 2060, tetapi juga mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan dan swasembada energi nasional," tutup Julfi Hadi.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
Ketahanan Energi Nasional...
Ketahanan Energi Nasional Dinilai Masih Rapuh di Tengah Tekanan Global
Energi Panas Bumi, Tantangan,...
Energi Panas Bumi, Tantangan, Mitos, dan Ekonomi
Pertamina dan ERIA Perkuat...
Pertamina dan ERIA Perkuat Kemitraan Strategis di Bidang Transisi Energi
Transisi Energi Sektor...
Transisi Energi Sektor Batu Bara Terkendala Biaya dan Regulasi
RI-UNEP Perkuat Kerja...
RI-UNEP Perkuat Kerja Sama Kehutanan, REDD+, dan Pengembangan Pasar Karbon
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Pakar ITB Soroti Tantangan...
Pakar ITB Soroti Tantangan Sistem Kelistrikan dalam Menghadapi Perubahan Iklim
Pramono Jadi Wakil Ketua...
Pramono Jadi Wakil Ketua C40 Cities, Fahira Idris: Dunia Akui Peran Strategis Jakarta
Rekomendasi
Digitalisasi Data, Penerima...
Digitalisasi Data, Penerima Bansos Diverifikasi lewat Pengenalan Wajah
5 Peristiwa Politik...
5 Peristiwa Politik Pekan Ini: Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden, Prabowo Terima JK, hingga Mahasiswa Turun ke Jalan
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Berita Terkini
Tren Paylater Makin...
Tren Paylater Makin Menjangkit, Literasi Keuangan Dinilai Jadi Faktor Penting
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Bocoran Isi Kesepakatan...
Bocoran Isi Kesepakatan AS-Iran: Barter Minyak, Aset Triliunan, hingga Senjata Nuklir
Pendaftaran Program...
Pendaftaran Program Magang ke Jepang Dibuka Kemnaker, Begini Caranya
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved