AS Darurat Utang, Setiap Kepala Menanggung Beban Rp1,6 Miliar

Sabtu, 16 November 2024 - 10:58 WIB
loading...
AS Darurat Utang, Setiap...
Utang nasional Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah melampaui angka USD36 triliun, atau sekitar Rp568.800 triliun. FOTO/Ilustrasi/Dok.
A A A
JAKARTA - Utang nasional Amerika Serikat ( AS ) dilaporkan telah melampaui angka USD36 triliun, atau sekitar Rp568.800 triliun (kurs Rp15.800 per USD). Dengan angka tersebut, mengutip usdebtclock.org, setiap pria, wanita, dan anak di Amerika saat ini menanggung beban utang USD106.600, atau lebih dari Rp1,6 miliar.

Data juga menunjukkan bahwa rasio utang federal terhadap PDB sekarang berada di angka 122,85% - naik dari 55,36% pada tahun 2000, dan 34,71% pada tahun 1980. Dengan memperhitungkan utang negara bagian, lokal, pinjaman mahasiswa, kartu kredit, dan pribadi, utang AS diperkirakan berjumlah lebih dari USD102,63 triliun - hampir menyamai nilai dari seluruh ekonomi global pada tahun 2023 yang sebesar USD105,4 triliun.

Baca Juga: Utang AS Rp565.459 Triliun, Bankir Wanti-wanti Bakal Meledak di Bawah Komando Trump

Utang nasional AS telah merangkak naik selama 45 tahun terakhir sebagian besar disebabkan oleh pengeluaran militer dan perang yang tidak bertanggung jawab secara fiskal, kurangnya akuntabilitas di Kongres dalam menyeimbangkan anggaran, serta banyak faktor lainnya.

Ekonom terkemuka di Departemen Keuangan AS telah lama meremehkan pentingnya utang federal, dengan mengutip pertumbuhan ekonomi dan kekuatan ekonomi AS dalam sistem ekonomi dan keuangan global dalam filosofi fiskal yang "terlalu besar untuk gagal" yang dilambangkan oleh kutipan dari industrialis Amerika J Paul Getty bahwa "jika Anda berutang USD100 kepada bank, itu masalah Anda. Jika Anda berutang USD100 juta kepada bank, itu masalah bank."

Namun, tren terkini, termasuk menurunnya daya tarik dolar AS dalam perdagangan dunia berkat persepsi mata uang tersebut sebagai "senjata" untuk melawan negara-negara seperti Rusia dan Iran, kebangkitan kekuatan industri China dan pencarian hubungan dagang di luar lingkup pengaruh politik dan ekonomi AS, serta pembentukan dan penguatan lembaga internasional seperti blok BRICS telah menantang gagasan bahwa para pemimpin AS dapat menutup mata terhadap beban utang selamanya.

Baca Juga: Elon Musk Bertekad Damaikan Iran dengan Amerika Serikat

"Pengeluaran pemerintah yang berlebihan mendorong Amerika bangkrut," tulis miliarder teknologi Elon Musk, yang baru-baru ini ditunjuk oleh Donald Trump untuk mengepalai badan penasihat Departemen Efisiensi Pemerintah yang baru, dalam sebuah posting X minggu lalu.

Celoteh Musk tersebut menggemakan sentimennya bahwa AS menghadapi "darurat keuangan," dengan "hanya pembayaran bunga atas utang" yang merupakan "23% dari semua pendapatan pajak federal."

Menanggapi kekhawatiran Musk, sekutu Senat Trump Rand Paul mengatakan AS memiliki "kesempatan" untuk menghentikan keruntuhan yang akan datang "jika kita bekerja sama dan cepat," tetapi menyatakan kekhawatiran bahwa "kepemimpinan status quo tidak akan menyelesaikan masalah yang diciptakan oleh kedua belah pihak."

Sementara, bankir dari Institute of International Finance telah memperingatkan bahwa pemotongan pajak yang diusulkan Trump dapat "meledakkan" utang nasional jika tidak disertai dengan pemotongan pengeluaran. Kekhawatiran ini menggemakan sentimen yang diungkapkan oleh CEO JPMorgan Jamie Dimon pada bulan Januari yang menyebut utang sebagai "jurang" yang sedang dituju ekonomi AS dengan kecepatan "60 mil per jam."
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Trump: AS Harus Kembalikan...
Trump: AS Harus Kembalikan Uang Iran atau Kepercayaan Dunia pada Dolar Rusak
AS Identifikasi 8 Awak...
AS Identifikasi 8 Awak Tewas dalam Jatuhnya Bomber Nuklir B-52, Ini Daftarnya
Trump Telah Teken Nota...
Trump Telah Teken Nota Kesepahaman AS-Iran, Ini Rincian 14 Poinnya
Rekomendasi
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
3.161 Personel Gabungan...
3.161 Personel Gabungan Disiagakan Jelang Eksekusi Hotel Sultan Hari Ini
Portugal Mentok, Ronaldo...
Portugal Mentok, Ronaldo Dicap Egois!
Berita Terkini
Penunjukan Luke Thomas...
Penunjukan Luke Thomas Dinilai Mencerminkan Meritokrasi di DSI
Bukan Rp16.250, Harga...
Bukan Rp16.250, Harga Asli Pertamax Seharusnya Rp20.200 per Liter
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved