Tarif Trump ke China Bakal Jadi Bumerang Buat Industri Pertahanan AS
Kamis, 21 November 2024 - 14:57 WIB
loading...
A
A
A
Komentar Ding adalah salah satu penolakan paling eksplisit dari China sejak kemenangan Trump dalam pemilihan presiden AS. Meskipun rinciannya belum diketahui secara pasti, Trump sebagai presiden terpilih telah menjanjikan tarif 60% untuk impor dari ekonomi terbesar kedua di dunia.
Trump berpendapat bahwa kebijakan ini akan memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan, sambil mengarahkan investasi dalam bisnis domestik. Pemerintahan Trump juga bersiap menerapkan tarif tinggi untuk meningkatkan kekuatan negosiasi.
Akan tetapi dari sudut pandang Ding, gagasan itu bisa menjadi bumerang dan harus dibayar mahal oleh AS, dengan alasan bahwa sebagian besar bisnis Amerika bergantung pada barang-barang setengah jadi dari China.
"Perusahaan-perusahaan hilir Amerika tidak akan dapat menemukan produk pengganti dalam waktu yang sangat singkat, jika perusahaan China tidak dapat menyediakan produk kepada mereka," ungkap Ding memberikan wanti-wanti.
Sementara itu ketergantungan sektor pertahanan terhadap produsen China tidak sedikit. Pada bulan September, CEO RTX Greg Hayes mengatakan, bahwa raksasa kedirgantaraan itu sedang mencari alternatif untuk menggantikan sekitar 2.000 pemasok China yang sebelumnya diandalkannya.
Trump berpendapat bahwa kebijakan ini akan memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan, sambil mengarahkan investasi dalam bisnis domestik. Pemerintahan Trump juga bersiap menerapkan tarif tinggi untuk meningkatkan kekuatan negosiasi.
Akan tetapi dari sudut pandang Ding, gagasan itu bisa menjadi bumerang dan harus dibayar mahal oleh AS, dengan alasan bahwa sebagian besar bisnis Amerika bergantung pada barang-barang setengah jadi dari China.
"Perusahaan-perusahaan hilir Amerika tidak akan dapat menemukan produk pengganti dalam waktu yang sangat singkat, jika perusahaan China tidak dapat menyediakan produk kepada mereka," ungkap Ding memberikan wanti-wanti.
Sementara itu ketergantungan sektor pertahanan terhadap produsen China tidak sedikit. Pada bulan September, CEO RTX Greg Hayes mengatakan, bahwa raksasa kedirgantaraan itu sedang mencari alternatif untuk menggantikan sekitar 2.000 pemasok China yang sebelumnya diandalkannya.
Lihat Juga :