Lupakan Dedolarisasi, Misi BRICS Beralih Menguasai AI demi Saingi AS
Jum'at, 13 Desember 2024 - 09:57 WIB
loading...
A
A
A
Namun di tengah ambisi Rusia bersama BRICS menguasai AI, diketahui sanksi Barat telah membatasi akses Moskow terhadap teknologi yang dibutuhkan untuk empertahankan perangnya melawan Ukraina. Akibat sanksi Barat membuat produsen microchip utama dunia menghentikan ekspor ke Rusia, sehingga berpotensi membatasi rencana penguasaan AI.
Sementara itu Sberbank (SBER. MM) yang mempelopori pengembangan AI di Rusia, mengakui pada tahun 2023 bahwa unit pemrosesan grafis (GPU), microchip yang mendukung pengembangan AI, adalah perangkat keras tersulit untuk didapatkan oleh Rusia.
Tetapi Sberbank mengatakan asosiasi AI nasional dari anggota BRICS seperti Brasil, China, India dan Afrika Selatan, tetapi juga dari Serbia, Indonesia dan negara-negara non-BRICS lainnya, telah bergabung dengan Jaringan Aliansi AI.
Dikatakan bahwa jaringan tersebut akan memfasilitasi penelitian bersama dalam pengembangan teknologi dan regulasi AI, serta memberikan peluang bagi produk AI untuk dijual di pasar negara-negara anggota.
Tetapi langkah Putin untuk bersekutu dengan China dapat mengubah dinamika perlombaan mengusai AI.
Rusia adalah salah satu dari 10 negara, termasuk AS, China, Inggris, dan Israel, yang sedang mengembangkan model AI generatif mereka sendiri. Konsultan Yakov and Partners, yang dijalankan oleh mantan karyawan McKinsey di Moskow, mengatakan hal ini memberikannya potensi untuk menjadi pemain yang jauh lebih signifikan.
Rusia melihat penggunaan teknologi AI di semua sektor menyumbang USD109 miliar ke produk domestik bruto pada tahun 2030, dibandingkan dengan 0,2 triliun rubel (USD1,9 miliar) di 2023.
Sementara itu Sberbank (SBER. MM) yang mempelopori pengembangan AI di Rusia, mengakui pada tahun 2023 bahwa unit pemrosesan grafis (GPU), microchip yang mendukung pengembangan AI, adalah perangkat keras tersulit untuk didapatkan oleh Rusia.
Tetapi Sberbank mengatakan asosiasi AI nasional dari anggota BRICS seperti Brasil, China, India dan Afrika Selatan, tetapi juga dari Serbia, Indonesia dan negara-negara non-BRICS lainnya, telah bergabung dengan Jaringan Aliansi AI.
Dikatakan bahwa jaringan tersebut akan memfasilitasi penelitian bersama dalam pengembangan teknologi dan regulasi AI, serta memberikan peluang bagi produk AI untuk dijual di pasar negara-negara anggota.
Rusia Mencoba Bergabung dalam Perlombaan untuk Supremasi AI
Amerika Serikat dan China adalah kekuatan AI teratas dunia, dan Presiden terpilih AS Donald Trump telah menunjuk "White House AI and Crypto Czar" untuk membantu memastikan Amerika Serikat tetap menjadi kekuatan terkaya dan paling maju secara teknologi di dunia.Tetapi langkah Putin untuk bersekutu dengan China dapat mengubah dinamika perlombaan mengusai AI.
Rusia adalah salah satu dari 10 negara, termasuk AS, China, Inggris, dan Israel, yang sedang mengembangkan model AI generatif mereka sendiri. Konsultan Yakov and Partners, yang dijalankan oleh mantan karyawan McKinsey di Moskow, mengatakan hal ini memberikannya potensi untuk menjadi pemain yang jauh lebih signifikan.
Rusia melihat penggunaan teknologi AI di semua sektor menyumbang USD109 miliar ke produk domestik bruto pada tahun 2030, dibandingkan dengan 0,2 triliun rubel (USD1,9 miliar) di 2023.
Lihat Juga :