Ekonom Prediksi BI Tahan Suku Bunga 6%, Ini Alasannya
Rabu, 18 Desember 2024 - 12:20 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, pertimbangan lain adalah pasar modal di berbagai negara berkembang berada di bawah tekanan dalam dua bulan terakhir di tengah kekhawatiran atas potensi kenaikan tarif terhadap barang impor ke AS di bawah pemerintahan Donald Trump.
"Akibatnya, Indonesia mengalami arus modal keluar sekitar 0,75 miliar dolar AS sejak pertengahan November dan rupiah terdepresiasi sebesar 1,39% (mtm) dari Rp15.770 per dolar AS menjadi Rp15.990 per dolar AS dalam 30 hari terakhir," ujar Riefky.
Baca Juga: Geledah Kantor BI, KPK Sita Sejumlah Dokumen hingga Bukti Elektronik
Selain itu, pertimbangan lain adalah pasar modal di berbagai negara berkembang berada di bawah tekanan dalam dua bulan terakhir di tengah kekhawatiran atas potensi kenaikan tarif terhadap barang impor ke AS di bawah pemerintahan Donald Trump.
"Akibatnya, Indonesia mengalami arus modal keluar sekitar 0,75 miliar dolar AS sejak pertengahan November dan rupiah terdepresiasi sebesar 1,39% (mtm) dari Rp15.770 per dolar AS menjadi Rp15.990 per dolar AS dalam 30 hari terakhir," ujar Riefky.
"Akibatnya, Indonesia mengalami arus modal keluar sekitar 0,75 miliar dolar AS sejak pertengahan November dan rupiah terdepresiasi sebesar 1,39% (mtm) dari Rp15.770 per dolar AS menjadi Rp15.990 per dolar AS dalam 30 hari terakhir," ujar Riefky.
Baca Juga: Geledah Kantor BI, KPK Sita Sejumlah Dokumen hingga Bukti Elektronik
Selain itu, pertimbangan lain adalah pasar modal di berbagai negara berkembang berada di bawah tekanan dalam dua bulan terakhir di tengah kekhawatiran atas potensi kenaikan tarif terhadap barang impor ke AS di bawah pemerintahan Donald Trump.
"Akibatnya, Indonesia mengalami arus modal keluar sekitar 0,75 miliar dolar AS sejak pertengahan November dan rupiah terdepresiasi sebesar 1,39% (mtm) dari Rp15.770 per dolar AS menjadi Rp15.990 per dolar AS dalam 30 hari terakhir," ujar Riefky.
(nng)
Lihat Juga :