Indonesia Cs Menuju Keanggotaan Resmi BRICS, Apa yang Sebenarnya Dicari?
Jum'at, 20 Desember 2024 - 07:26 WIB
loading...
A
A
A
Bagi Malaysia, keputusan untuk bergabung dengan BRICS sejalan dengan kebijakan luar negeri Perdana Menteri Anwar Ibrahim yang menyeimbangkan antara dua kekuatan besar. Anwar menegaskan, partisipasi dalam BRICS dipandu oleh kepentingan ekonomi dan perdagangan. Dalam hal ini, sebagai negara maritim, Malaysia dapat membuka jalan untuk meningkatkan perdagangan dan investasi melalui kerjasama ekonomi dengan negara anggota BRICS.
Baca Juga: Mengenal Sekte Alawi, Agama Bashar Al Assad
Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah mencari status kekuatan menengah global dan meningkatkan pengaruhnya di Selatan Global. Berpartisipasi dalam BRICS dapat membantu meningkatkan pengaruhnya di panggung global.
Presiden Prabowo Subianto juga ingin negara tersebut memperoleh keuntungan ekonomi dari BRICS. "Kami ingin bergabung dengan berbagai blok ekonomi karena kami ingin menemukan peluang terbaik untuk ekonomi kami sendiri, kami perlu memikirkan kesehatan ekonomi kami untuk rakyat kami sendiri," katanya.
Demikian pula, bagi Thailand, partisipasi telah dibenarkan sebagai kontribusi untuk tujuan ekonomi dan diplomatik dengan memanfaatkan berbagai platform. Dalam kasus Vietnam, keterlibatan dalam BRICS memajukan kebijakan luar negeri yang multidirectional dan beragam, yang memprioritaskan hubungan dengan organisasi regional dan global.
Namun, Hanoi masih wait and see karena tidak ingin menempatkan dirinya dalam posisi konfrontatif terhadap AS dan merusak hubungan dengan AS dan UE, dua importir terbesar produknya. Dibandingkan dengan negara-negara mitra BRICS lainnya dari Asia Tenggara, Vietnam memiliki pandangan yang berbeda tentang organisasi multilateral ini yang mungkin memerlukan proses pertimbangan internal yang lebih lama.
Sementara, Australia telah menyatakan ingin menjadi mitra pilihan di Asia Tenggara. Ini berarti bahwa Australia perlu memahami motivasi di balik negara-negara Asia Tenggara yang semakin dekat dengan BRICS, sebagai cara strategis untuk mempertahankan otonomi dan mengimbangi ketidakpastian dan tantangan dari kebijakan ekonomi proteksionis Trump.
Baca Juga: Mengenal Sekte Alawi, Agama Bashar Al Assad
Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah mencari status kekuatan menengah global dan meningkatkan pengaruhnya di Selatan Global. Berpartisipasi dalam BRICS dapat membantu meningkatkan pengaruhnya di panggung global.
Presiden Prabowo Subianto juga ingin negara tersebut memperoleh keuntungan ekonomi dari BRICS. "Kami ingin bergabung dengan berbagai blok ekonomi karena kami ingin menemukan peluang terbaik untuk ekonomi kami sendiri, kami perlu memikirkan kesehatan ekonomi kami untuk rakyat kami sendiri," katanya.
Demikian pula, bagi Thailand, partisipasi telah dibenarkan sebagai kontribusi untuk tujuan ekonomi dan diplomatik dengan memanfaatkan berbagai platform. Dalam kasus Vietnam, keterlibatan dalam BRICS memajukan kebijakan luar negeri yang multidirectional dan beragam, yang memprioritaskan hubungan dengan organisasi regional dan global.
Namun, Hanoi masih wait and see karena tidak ingin menempatkan dirinya dalam posisi konfrontatif terhadap AS dan merusak hubungan dengan AS dan UE, dua importir terbesar produknya. Dibandingkan dengan negara-negara mitra BRICS lainnya dari Asia Tenggara, Vietnam memiliki pandangan yang berbeda tentang organisasi multilateral ini yang mungkin memerlukan proses pertimbangan internal yang lebih lama.
Sementara, Australia telah menyatakan ingin menjadi mitra pilihan di Asia Tenggara. Ini berarti bahwa Australia perlu memahami motivasi di balik negara-negara Asia Tenggara yang semakin dekat dengan BRICS, sebagai cara strategis untuk mempertahankan otonomi dan mengimbangi ketidakpastian dan tantangan dari kebijakan ekonomi proteksionis Trump.
(nng)
Lihat Juga :