3 Pengusaha Mi Instan Terkaya Indonesia di 2024, Jawaranya Bos Indomie Berharta Rp204,6 T
Sabtu, 21 Desember 2024 - 15:33 WIB
loading...
A
A
A
Selain mengedarkan produknya di dalam negeri, brand ini cukup mendunia. Produk-produknya meliputi Indomie, Supermi, Sarimi, Pop Mie (dominan), Intermi, Sakura dan Vitami (terbatas). Ada juga produk lama seperti Top Mie, Super Cup, Nikimiku, Aseli Mi, Mi Peduli, Mie Ummah, Mie Sayaaap, Mie Semar, Pop Bihun, Anakmas Mi Sukiyaki, Miqu, dan masih banyak lagi.
Mereka memiliki pabrik produksi mie instan berjumlah 60 di Indonesia dan 20 lebih tersebar di wilayah Afrika, Timur Tengah, Eropa Tenggara. Pencapaian ini menjadikan PT Salim Group sebagai produsen mie instan terbesar di dunia.
Langkah Salim Group menjadi raksasa mi instan dimulai dari kelangkaan beras pada tahun 1970-an menurut Richard Borsuk dan Nancy Chang dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto. Salim Group lalu mendirikan PT Sarimi Asli Raya yang mulai memproduksi Sarimi pada awal 1980-an.
Produk mi instan Sarimi menjadi pendatang baru dan bersaing dengan Supermie dan Indomie saat itu yang lebih dulu hadir. Singkat cerita, kemudian Sarimi dalam setahun menguasai 40% pasar dengan harga yang lebih terjangkau.
Keperkasaan Salim Group kemudian melahirkan perkawinan antara Indomie dan Sarimi, yang pada akhirnya perusahaan patungan itu juga mencaplok brand terkenal lain, Supermi pada 1986. Hingga dalam perjalannya PT Indofood Interna dikuasai Salim Group hingga mendominasi pasar mi instan dengan 3 merek, terutama Indomie yang paling dikenal masyarakat.
Anthoni Salim saat ini mengepalai Grup Salim, dengan beragam investasi seperti di bidang makanan, ritel, perbankan, telekomunikasi, dan energi. Salim juga menjabat sebagai CEO Indofood, salah satu pembuat mi instan terbesar di dunia.
Harta kekayaan itu diperoleh dari Mayora Group yang merupakan salah satu produsen mi instan dengan beragam produk inovatif, seperti Bakmi Mewah dan Mi Gelas. Dahulu mereka juga memproduksi Miduo yang dikenal sebagai pelopor dua keping mi dalam satu kemasan pada 1995, dan mi instan dengan merek Roma.
Mereka memiliki pabrik produksi mie instan berjumlah 60 di Indonesia dan 20 lebih tersebar di wilayah Afrika, Timur Tengah, Eropa Tenggara. Pencapaian ini menjadikan PT Salim Group sebagai produsen mie instan terbesar di dunia.
Langkah Salim Group menjadi raksasa mi instan dimulai dari kelangkaan beras pada tahun 1970-an menurut Richard Borsuk dan Nancy Chang dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto. Salim Group lalu mendirikan PT Sarimi Asli Raya yang mulai memproduksi Sarimi pada awal 1980-an.
Produk mi instan Sarimi menjadi pendatang baru dan bersaing dengan Supermie dan Indomie saat itu yang lebih dulu hadir. Singkat cerita, kemudian Sarimi dalam setahun menguasai 40% pasar dengan harga yang lebih terjangkau.
Keperkasaan Salim Group kemudian melahirkan perkawinan antara Indomie dan Sarimi, yang pada akhirnya perusahaan patungan itu juga mencaplok brand terkenal lain, Supermi pada 1986. Hingga dalam perjalannya PT Indofood Interna dikuasai Salim Group hingga mendominasi pasar mi instan dengan 3 merek, terutama Indomie yang paling dikenal masyarakat.
Anthoni Salim saat ini mengepalai Grup Salim, dengan beragam investasi seperti di bidang makanan, ritel, perbankan, telekomunikasi, dan energi. Salim juga menjabat sebagai CEO Indofood, salah satu pembuat mi instan terbesar di dunia.
2. Jogi Hendra Atmadja & family
Pengusaha dan pemilik kelompok usaha Mayora Group, Jogi Hendra Atmadja adalah orang terkaya nomor 11 di Indonesia per akhir tahun 2024 berdasarkan perhitungan Forbes. Nilai kekayaan Jogi Hendra mencapai USD4,4 miliar atau setara Rp70,3 triliun.Harta kekayaan itu diperoleh dari Mayora Group yang merupakan salah satu produsen mi instan dengan beragam produk inovatif, seperti Bakmi Mewah dan Mi Gelas. Dahulu mereka juga memproduksi Miduo yang dikenal sebagai pelopor dua keping mi dalam satu kemasan pada 1995, dan mi instan dengan merek Roma.
Lihat Juga :