Pengamat Pertanian Ungkap Rencana di Balik Kenaikan HPP Gabah dan Beras
Senin, 13 Januari 2025 - 22:50 WIB
loading...
A
A
A
Ketika impor tidak ada lagi, maka Bulog diharuskan memaksimalkan penyerapan produksi domestik. Sebagai informasi pada impor beras BULOG pada tahun 2023 mencapai 3,06 juta ton dan mencapai sekitar 3,5 juta ton di 2024.
Menurutnya ketika penyerapan gabah/beras BULOG dinilai memadai, boleh jadi, pada saat itulah pemerintah akan memberlakukan HET beras yang baru. Karena ungkap Khudori, tidak masuk akal menaikkan HPP tanpa diikuti kenaikan HET. Ketika harga input atau bahan baku naik, harga output yaitu beras juga pasti naik.
Bagi penggilingan padi, terutama penggilingan padi skala kecil, musim panen raya adalah waktunya bekerja. Namun, karena HET beras tidak dinaikkan, setidaknya ada dua pilihan bagi penggilingan.
Pertama, menjual beras sesuai HET beras tapi mengorbankan kualitas. Kedua, menjual beras sesuai kualitas tapi dengan harga di atas HET. Peluang itu ada di pasar tradisional. Selama ini meskipun ada ketentuan HET, pasar tradisional tidak pernah patuh dan tak pernah ditindak juga.
"Penggilingan di bawah PERPADI (Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras) mau tidak mau harus bekerja. Menjadi mitra BULOG. Yang penting perputaran stok cepat. Mungkin karena itu, pengurus PERPADI diundang tatkala pemerintah membahas kapan HPP baru ini akan efektif berlaku," terangnya.
Intinya, swasta bakal "dipaksa" dulu bekerja untuk memenuhi stok BULOG. Hal ini agar tidak ada rebutan gabah/beras di pasar dan harga juga tidak akan melompat-lompat.
Kebijakan ini ada kemungkinan akan diikuti menghilangnya berbagai merek beras premium di pasar modern. Kemungkinan itu terjadi perlahan karena beras produk lama dari gabah dengan harga lama masih beredar di pasar.
Menurutnya ketika penyerapan gabah/beras BULOG dinilai memadai, boleh jadi, pada saat itulah pemerintah akan memberlakukan HET beras yang baru. Karena ungkap Khudori, tidak masuk akal menaikkan HPP tanpa diikuti kenaikan HET. Ketika harga input atau bahan baku naik, harga output yaitu beras juga pasti naik.
Bagi penggilingan padi, terutama penggilingan padi skala kecil, musim panen raya adalah waktunya bekerja. Namun, karena HET beras tidak dinaikkan, setidaknya ada dua pilihan bagi penggilingan.
Pertama, menjual beras sesuai HET beras tapi mengorbankan kualitas. Kedua, menjual beras sesuai kualitas tapi dengan harga di atas HET. Peluang itu ada di pasar tradisional. Selama ini meskipun ada ketentuan HET, pasar tradisional tidak pernah patuh dan tak pernah ditindak juga.
"Penggilingan di bawah PERPADI (Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras) mau tidak mau harus bekerja. Menjadi mitra BULOG. Yang penting perputaran stok cepat. Mungkin karena itu, pengurus PERPADI diundang tatkala pemerintah membahas kapan HPP baru ini akan efektif berlaku," terangnya.
Intinya, swasta bakal "dipaksa" dulu bekerja untuk memenuhi stok BULOG. Hal ini agar tidak ada rebutan gabah/beras di pasar dan harga juga tidak akan melompat-lompat.
Kebijakan ini ada kemungkinan akan diikuti menghilangnya berbagai merek beras premium di pasar modern. Kemungkinan itu terjadi perlahan karena beras produk lama dari gabah dengan harga lama masih beredar di pasar.
Lihat Juga :