Keruk Mineral Kritis, India Siap Kucurkan Rp30,8 Triliun

Jum'at, 31 Januari 2025 - 17:32 WIB
loading...
Keruk Mineral Kritis,...
Kabinet India menyetujui program senilai Rp30,8 triliun untuk mengamankan pasokan berbagai mineral kritis yang digunakan terutama di sektor baterai, elektronik, pertahanan dan pertanian. Foto/Dok Reuters
A A A
NEW DELHI - Kabinet India menyetujui program senilai USD1,9 miliar atau setara Rp30,8 triliun (kurs Rp16.246 per USD) untuk mengamankan pasokan berbagai mineral kritis yang digunakan terutama di sektor baterai , elektronik, pertahanan dan pertanian.

"The National Critical Mineral Mission bakal fokus pada penambangan lokal dan pemrosesan 24 mineral kritis, serta akuisisi blok pertambangan di luar negeri," ungkap Menteri Informasi dan Penyiaran, Ashwini Vaishnaw kepada wartawan seperti dilansir Bloomberg.

Baca Juga: Jackpot, China Temukan Harta Karun Mineral Tanah Jarang 1,15 Juta Ton

Inisiatif tersebut juga akan memberikan dorongan pada bahan daur ulang seperti lithium, kobalt, kalium dan grafit, untuk membantu mengurangi ketergantungan negara pada impor. India tercatat hampir seluruhnya bergantung pada pasokan luar negeri untuk bahan transisi energi, termasuk kobalt, nikel, litium, dan bijih tembaga dan konsentrat, dimana China menjadi pemasok utama.

Rencana ini terkait dengan seruan Perdana Menteri Narendra Modi pada tahun 2020 soal kemandirian ekonomi nasional di tengah pergolakan yang disebabkan oleh pandemi. Sejak itu, India menjadi bagian dari upaya global untuk mendiversifikasi rantai pasokan dari China.

India juga fokus pada implementasi cepat dari beberapa kebijakan untuk memenuhi target transisi hijaunya. Pemerintah Modi berkeinginan meningkatkan lebih dari dua kali lipat kapasitas energi hijau negara pada tahun 2030 dan telah menawarkan insentif untuk pembuatan sistem penyimpanan baterai yang memungkinkan pasokan energi bersih sepanjang waktu.

"Mengingat kerentanan negara terhadap pergeseran geopolitik seputar mineral kritis, misi ini membahas area utama yang menjadi perhatian," kata Rakesh Surana, mitra Deloitte India.

"Dengan meningkatkan swasembada di bidang ini, negara akan berada di posisi yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan energi dan industrinya, sekaligus berkontribusi pada tujuan keberlanjutan jangka panjang," bebernya.

Sementara itu Biro Informasi Pers pemerintah dalam sebuah pernyataan menyakini, misi ini diperkirakan akan menarik investasi sebesar 180 miliar rupee.

Industri baterai juga menjadi sangat penting untuk dekarbonisasi armada transportasi darat India yang sebagian besar menggunakan bahan bakar fosil. Mineral seperti lithium, kobalt, dan grafit akan menjadi kunci keberhasilan rencana pembuatan baterai.

"Inisiatif ini juga akan membantu ambisi negara dalam industri elektronik, nuklir dan kedirgantaraan," bunyi pernyataan pemerintah.

Misi ini akan mengintensifkan eksplorasi mineral kritis di dalam negeri dan di daerah lepas pantai. Serta bertujuan untuk menciptakan proses persetujuan peraturan jalur cepat untuk proyek-proyek tersebut, selain menawarkan insentif keuangan untuk eksplorasi dan untuk mempromosikan pemulihan bahan-bahan tersebut dari limbah pertambangan.

Baca Juga: Menguak Perburuan Harta Karun Mineral Berharga Greenland

Pemerintah akan mendorong perusahaan yang dikelola negara dan swasta untuk mengakuisisi aset mineral penting di luar negeri dan meningkatkan perdagangan dengan negara-negara kaya sumber daya, menurut pernyataan itu.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Impor Energi dari 41...
Impor Energi dari 41 Negara, India Tak Mampu Tolak Minyak Rusia: Kami Cari yang Paling Murah!
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Tiga Kapal Tanker Tujuan...
Tiga Kapal Tanker Tujuan China dan India Diam-diam Tinggalkan Selat Hormuz, Begini Caranya
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
India Gempar, Seorang...
India Gempar, Seorang Ibu Diperkosa Beramai-ramai di Depan Anaknya
Film Maatrubhumi Jadi...
Film Maatrubhumi Jadi Sorotan karena Angkat Isu Geopolitik
Rekomendasi
Nanik S Deyang Bakal...
Nanik S Deyang Bakal Diperiksa di Kasus Dugaan Korupsi MBG? Kejagung: Iya Berpotensi
Inggris vs Ghana: The...
Inggris vs Ghana: The Three Lions Menuju Rekor Baru
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Berita Terkini
Purbaya Buka Suara Soal...
Purbaya Buka Suara Soal Penolakan Rencana Tambah Layer Cukai Rokok
Potensi Sensus Ekonomi...
Potensi Sensus Ekonomi Melahirkan Ribuan Keputusan
Sah! Potongan Komisi...
Sah! Potongan Komisi Ojol Jadi 8% per Juli 2026, Aplikator Sudah Sepakat
Prudential Syariah Raih...
Prudential Syariah Raih Penghargaan Brand of the Year 2026
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
IHSG Hari Ini Ditutup...
IHSG Hari Ini Ditutup Merosot 0,25% ke 6.101, Diwarnai Pelemahan 398 Saham
Infografis
APBN Pernah Jebol Nyaris...
APBN Pernah Jebol Nyaris Rp1.000 Triliun, Ini 6 Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved