Ekspor Gas Rusia lewat Pipa Utama Laut Hitam Sentuh Level Tertinggi dalam Sejarah

Senin, 03 Februari 2025 - 06:27 WIB
loading...
Ekspor Gas Rusia lewat...
Pengiriman gas alam Rusia melalui pipa TurkStream mencapai level tertinggi dalam sejarah, ketika Kiev menutup transit bahan bakar ke negara-negara Uni Eropa melalui pipa yang melintasi Ukraina. Foto/Dok HurriyetDailyNews
A A A
JAKARTA - Pengiriman gas alam Rusia melalui pipa TurkStream mencapai level tertinggi dalam sejarah, menurut data yang dianalisis oleh Reuters. Lonjakan ini terjadi ketika Kiev menutup transit bahan bakar ke negara-negara Uni Eropa (UE) melalui pipa yang melintasi Ukraina .

TurkStream adalah koridor energi penting, yang mengangkut gas dari Rusia ke Türkiye di bawah Laut Hitam. Menyusul penolakan Ukraina baru-baru ini untuk memperpanjang perjanjian transit gas lima tahun dengan Moskow, pipa tersebut menjadi satu-satunya rute yang memasok gas Rusia ke Eropa selatan dan tenggara, melewati Ukraina.

Baca Juga: 5 Negara dengan Harga Gas Alam Termahal di Dunia

Perhitungan awal yang dirilis menunjukkan bahwa pasokan gas Rusia melalui saluran TurkStream melebihi 50 juta meter kubik per hari pada Januari 2025. Hal itu menandai peningkatan sebesar 27% secara year-on-year.

Volume pasokan juga naik 2% dibandingkan bulan sebelumnya. Secara total, ekspor gas melalui pipa mencapai 1,57 miliar meter kubik (bcm) pada Januari 2025, naik dari 1,24 bcm dibandingkan Januari 2024.

Sebelumnya Kiev memutuskan pada akhir 2024 untuk mengakhiri kontrak transit gas lima tahun dengan raksasa energi Rusia Gazprom. Keputusan tersebut memutus pasokan gas pipa Rusia ke Hongaria, Rumania, Polandia, Slovakia, Austria, Italia, hingga Moldova.

Negara-negara tersebut akhirnya mengalami penurunan pasokan yang signifikan untuk impor gas Rusia karena sanksi terkait Ukraina terhadap Moskow dan sabotase pipa Nord Stream pada tahun 2022, yang dibangun untuk melewati monopoli transit Ukraina.

Pemimpin Ukraina, Vladimir Zelensky membela keputusan tersebut dengan, menyatakan bahwa pemutusan kontrak bertujuan untuk menghilangkan pendapatan energi Moskow. Namun, Slovakia dan Hongaria menuduhnya sengaja memicu krisis energi demi keuntungan politik, seperti dilansir RT.

Sebagai informasi, Pipa TurkStream terdiri dari dua cabang, salah satunya melayani kebutuhan domestik Ankara, yang lainnya memasok gas ke Bulgaria. Rute Balkan ini meluas ke Serbia dan Hongaria, menghubungkan negara-negara Uni Eropa lainnya ke pasokan gas alam Rusia. Pipa ini memiliki kapasitas tahunan 15,75 bcm, menurut Reuters.

Awal bulan ini, Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa Ukraina telah menargetkan stasiun kompresor di Wilayah Krasnodar Rusia, yang memasok gas ke TurkStream. Serangan itu melibatkan sembilan drone kamikaze yang diluncurkan oleh pasukan Ukraina, namun menurut Kementerian sebagian besar digagalkan.

"Satu drone jatuh di dekat meteran gas dan menyebabkan kerusakan kecil, namun dengan cepat ditangani oleh personel fasilitas," ungkap pernyataan kementerian.

Serangan terhadap pipa ini dikonfirmasi oleh Ankara, dimana Ia menegaskan bahwa aliran gas melalui TurkStream tetap tidak terganggu meskipun ada insiden tersebut.

Para pejabat di Moskow menuduh Kiev berusaha menyabotase pasokan energi pada beberapa kesempatan dalam beberapa tahun terakhir. Menanggapi serangan itu, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menuduh Ukraina melanjutkan kebijakan "terorisme energi."

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov memperkirakan, bahwa Washington mungkin telah terlibat dalam upaya untuk menyabotase fasilitas gas, dengan menyatakan, "Saya memiliki keyakinan kuat bahwa AS tidak menginginkan pesaing di bidang apa pun, dimulai dengan energi."

Baca Juga: Uni Eropa Mempertimbangkan Kembali Pakai Gas Rusia

Terlepas dari perkembangan tersebut, Moskow telah menegaskan kembali komitmennya untuk mempertahankan pasokan gas yang stabil melalui TurkStream, memastikan keamanan energi yang berkelanjutan bagi negara-negara yang bergantung padanya.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Rubel Jadi Mata Uang...
Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan
Eropa Diam-diam Borong...
Eropa Diam-diam Borong Gas Rusia hingga Tembus Rekor, Terjebak Skenario Krisis Energi?
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Rekomendasi
Jelang Kontra Inggris,...
Jelang Kontra Inggris, Harry Kane Masuk Daftar Sihir Dukun Ghana
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Militer AS Waspada
Aturan Perjalanan Piala...
Aturan Perjalanan Piala Dunia 2026 Dinilai Tak Adil, Iran Ngadu ke FIFA
Berita Terkini
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Infografis
Rusia Didesak China,...
Rusia Didesak China, Buka Blokade Ekspor Biji-bijian di Laut Hitam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved