Menakar Risiko dan Peluang Tarif Dagang Trump ke China Bagi Indonesia

Jum'at, 07 Februari 2025 - 18:37 WIB
loading...
Menakar Risiko dan Peluang...
Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, risiko dan peluang dari dampak kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump ke China bagi Indonesia. Foto/Dok
A A A
ACEH - Bank Indonesia (BI) menilai ada risiko dan peluang dari dampak kebijakan tarif oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke China bagi Indonesia. Seperti diketahui Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang mengenakan tarif sebesar 10% pada barang-barang impor China.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI, Juli Budi Winantya mengatakan, dampak dari peningkatan ketidakpastian terkait tarif yang diberikan ke China memang berpengaruh ke Indonesia nantinya dari segi ekspor.

Baca Juga: China Membalas Tarif Impor AS, Mulai Berlaku 10 Februari 2025

“Tiongkok itu mitra dagang utama kita, sehingga yang terjadi dengan Tiongkok tentunya akan berpengaruh ke kita. Risikonya bisa dari ekspor kita yang melambat, karena pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat,” kata Juli dalam Pelatihan Wartawan BI di Banda Aceh, Jumat (7/2/2025).

Menakar Risiko dan Peluang Tarif Dagang Trump ke China Bagi Indonesia


Risiko kedua, lanjut Juli, bisa datang dari produk China yang tidak bisa dijual lagi ke Amerika Serikat, sehingga bisa jadi membanjiri pasar Indonesia. Namun selain risiko, ada juga opportunity atau peluang yakni ekspor dari negara tujuan yang ditinggalkan China.

“Jadi kita juga sudah melihat kayak misalkan assessment terkait dengan product similarity. Jadi banyak produk-produk dari Amerika Serikat, Vietnam ini yang punya kesamaan,” ungkap Juli.

Sehingga apabila nanti seandainya tarif ini diterapkan, peningkatan tarif ini juga bisa Indonesia manfaatkan peluang untuk juga meningkatkan ekspor. Kemudian menurut Juli, peluang kedua juga bisa datang dari realokasi. Adapun realokasi dari investasi yang semula di China bergeser ke negara lain karena ada penerapan tarif ini.

“Kalau teman-teman mungkin kita flashback pada waktu 2017-2018 waktu penerapan tarif pada waktu Trump 1.0. Itu kan perintahnya adalah banyak perusahaan yang merelokasi operasinya dari Tiongkok ke Vietnam,” jelas Juli.

Tetapi saat ini Vietnam bukan lagi tujuan, karena dia juga salah satu negara yang punya surplus besar, sehingga dia juga subject to tarif juga. Sehingga Indonesia ada di posisi yang bagus untuk bisa memanfaatkan peluang itu.

“Jadi terkait dengan Trump tadi, ada risiko dan juga di sisi lain ada peluang. Ini yang masih terus kita pantau dampaknya seperti apa. Karena seperti tarif ini juga masih dinamis ya, ada yang memang seperti Mexico dan Kanada ini tarifnya juga masih dalam tahap negosiasi,” ujar Juli.

Menurut Juli, kebijakan tarif ini nampaknya digunakan oleh pemerintah Amerika Serikat tidak hanya murni karena alasan ekonomi, tapi juga dipakai sebagai leverage untuk juga terkait dengan kebijakan politik luar negeri Paman Sam -julukan AS- itu.

Baca Juga: Kesepakatan Ini Bikin Trump Menunda Tarif 25% ke Kanada Selama 30 Hari

Menurut kabar terbaru, China mengajukan protes kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas kebijakan tarif 10 persen yang dikenakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Tarif tersebut dimaksudkan untuk mengatasi aliran fentanil dan obat-obatan lainnya ke AS, yang penerapannya akhirnya ditunda.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Uang Beredar di Mei...
Uang Beredar di Mei 2026 Capai Rp10.415,9 Triliun, BI: Tumbuh 10,8 Persen
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Bea Cukai Soetta Gagalkan...
Bea Cukai Soetta Gagalkan Masuknya Uang Asing Senilai Rp6,3 Miliar Tanpa Izin
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Rekomendasi
Pengurus PPP Laporkan...
Pengurus PPP Laporkan Toni, Badri, dan Saiful Hakim ke Polda Metro Atas Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan
Ketum IPSI Sambut Komitmen...
Ketum IPSI Sambut Komitmen Presiden Prabowo soal Pelatnas Jangka Panjang, Optimistis Pencak Silat Mendunia
Legislator PKB Minta...
Legislator PKB Minta Taufik Hidayat Dihukum Kebiri
Berita Terkini
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
EV Services: Membangun...
EV Services: Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik yang Semakin Terintegrasi
Nasabah Mekaar Naik...
Nasabah Mekaar Naik Kelas Capai 2,5 Juta Sepanjang 2025
Jembatan Pasar Aset...
Jembatan Pasar Aset Tradisional dan Digital, ICE dan OKX Bentuk Joint Venture
Kredit Pintar dan AFPI...
Kredit Pintar dan AFPI Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan Digital
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved