Danantara Bawa Harapan Baru, Pengamat Wanti-wanti Kasus BLBI Terulang
Jum'at, 21 Februari 2025 - 08:17 WIB
loading...
Pengamat mengingatkan, potensi risiko Danantara yang bisa muncul, terutama jika melihat pengalaman buruk skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) pada krisis ekonomi 1998. Foto/Dok
A
A
A
SURABAYA - Menjelang peresmian Danantara pada 24 Februari 2025, super holding BUMN ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan daya saing ekonomi nasional, mirip dengan model Temasek Holdings di Singapura. Danantara bakal mengelola aset tujuh BUMN besar dengan nilai total Rp14.715 triliun.
Pengamat Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho mengingatkan, potensi risiko yang bisa muncul, terutama jika melihat pengalaman buruk skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia ( BLBI ) pada krisis ekonomi 1998.
Baca Juga: Digoyang Batas Usia di UU BUMN, Bos Danantara Muliaman Hadad Tersingkir?
Meskipun pembentukan Danantara membawa harapan baru bagi pengelolaan aset negara, namun pengalaman traumatis BLBI menunjukkan bahwa pengawasan ketat harus menjadi prioritas utama.
"Dalam kasus BLBI, kita melihat bagaimana dana negara dapat disalahgunakan akibat lemahnya pengawasan dan intervensi politik yang kuat. Jika Danantara tidak dikelola dengan transparansi dan akuntabilitas tinggi, ada risiko skenario serupa terjadi," ujar Hardjuno di Surabaya, Kamis (20/2/2025).
Pengamat Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho mengingatkan, potensi risiko yang bisa muncul, terutama jika melihat pengalaman buruk skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia ( BLBI ) pada krisis ekonomi 1998.
Baca Juga: Digoyang Batas Usia di UU BUMN, Bos Danantara Muliaman Hadad Tersingkir?
Meskipun pembentukan Danantara membawa harapan baru bagi pengelolaan aset negara, namun pengalaman traumatis BLBI menunjukkan bahwa pengawasan ketat harus menjadi prioritas utama.
"Dalam kasus BLBI, kita melihat bagaimana dana negara dapat disalahgunakan akibat lemahnya pengawasan dan intervensi politik yang kuat. Jika Danantara tidak dikelola dengan transparansi dan akuntabilitas tinggi, ada risiko skenario serupa terjadi," ujar Hardjuno di Surabaya, Kamis (20/2/2025).
Lihat Juga :