Rupiah Terendah Sejak Krismon 1998, Bagaimana Nasibnya ke Depan?
Sabtu, 01 Maret 2025 - 18:00 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso sebelumnya mengungkap bahwa pada akhir hari Kamis (27/2) rupiah ditutup Rp16.445 per dolar AS dengan Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun naik ke 6,88%. Sementara DXY menguat ke level 107,24 dan Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun turun ke 4,260%.
Baca Juga: Apa Itu Blending dalam Kasus Dugaan Oplosan Bensin Pertamax Pertamina
Kondisi ini berlanjut hingga pada pagi hari Jumat di mana rupiah dibuka pada Rp16.520 per dolar AS dengan Yield SBN 10 tahun naik ke 6,93%. Namun, pada sesi penutupan, rupiah kebakaran dan ditutup ke Rp16.596 per dolar AS, yang menjadi rekor terburuk sejak tahun 1998.
Dalam sepekan, rupiah di pasar spot telah terdepresiasi 1,7% dan mencatat koreksi sebesar 1,75% sepanjang Februari 2025. Hal ini mengakibatkan rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia pada bulan Februari 2025.
Terkait perkembangan tersebut, Ramdan mengatakan bahwa Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
Baca Juga: Apa Itu Blending dalam Kasus Dugaan Oplosan Bensin Pertamax Pertamina
Kondisi ini berlanjut hingga pada pagi hari Jumat di mana rupiah dibuka pada Rp16.520 per dolar AS dengan Yield SBN 10 tahun naik ke 6,93%. Namun, pada sesi penutupan, rupiah kebakaran dan ditutup ke Rp16.596 per dolar AS, yang menjadi rekor terburuk sejak tahun 1998.
Dalam sepekan, rupiah di pasar spot telah terdepresiasi 1,7% dan mencatat koreksi sebesar 1,75% sepanjang Februari 2025. Hal ini mengakibatkan rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia pada bulan Februari 2025.
Terkait perkembangan tersebut, Ramdan mengatakan bahwa Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
(fjo)
Lihat Juga :