Efek Perang Dagang, Harga Emas Ukir Sejarah Baru Tembus Level USD3.000
Minggu, 16 Maret 2025 - 19:27 WIB
loading...
Harga emas mencapai rekor tertinggi karena investor terpengaruh meningkatnya kekhawatiran atas perang dagang. FOTO/Reuters
A
A
A
JAKARTA - Harga emas mencapai rekor tertinggi karena investor terpengaruh meningkatnya kekhawatiran atas perang dagang sehingga mereka mencari aset safe haven. Reli terbaru terjadi di tengah pengumuman tarif Amerika Serikat (AS).
Pajak impor untuk baja dan aluminium yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump memicu kekhawatiran di Asia yang bergantung pada ekspor dan mendorong tindakan pembalasan segera dari Uni Eropa dan Kanada.
Sebelum pengenaan tarif, Trump mengancam akan menaikkan pungutan pada logam Kanada menjadi 50%, tetapi membatalkan rencana tersebut setelah Perdana Menteri Ontario Doug Ford membatalkan keputusannya untuk memberlakukan biaya tambahan 25% pada ekspor listrik ke beberapa negara bagian AS.
Baca Juga: Sentuh Rekor Baru, Harga Emas Antam Naik Rp28.000 Tembus Rp1,724 Juta per Gram
Emas berjangka untuk pengiriman April sempat mencapai USD3,003.90 per ounce di Chicago Mercantile Exchange (CME) sebelum turun ke USD2,989.50, menandai pertama kalinya sebuah kontrak melewati ambang batas psikologis USD3.000. Harga logam mulia ini naik hampir 14% sepanjang tahun ini setelah mencatatkan kenaikan 27% pada 2024.
"Sikap risk-off pasar mencerminkan ekspektasi investor bahwa ketegangan perdagangan kemungkinan akan memburuk sebelum mendingin, dan beralih ke emas safe-haven sekali lagi sebagai lindung nilai terhadap volatilitas portofolio," ujar pakar strategi pasar IG, Yeap Jun Rong, dikutip dari Russian Today, Minggu (16/3/2025).
Terlepas dari kekhawatiran terkait ketegangan perdagangan global, para analis mengaitkan reli terbaru dalam harga emas, aset yang disukai investor di tengah gejolak geopolitik dan ekonomi, dengan spekulasi pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve AS. Regulator ini diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,50% pada pertemuan yang dijadwalkan pekan depan.
Pajak impor untuk baja dan aluminium yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump memicu kekhawatiran di Asia yang bergantung pada ekspor dan mendorong tindakan pembalasan segera dari Uni Eropa dan Kanada.
Sebelum pengenaan tarif, Trump mengancam akan menaikkan pungutan pada logam Kanada menjadi 50%, tetapi membatalkan rencana tersebut setelah Perdana Menteri Ontario Doug Ford membatalkan keputusannya untuk memberlakukan biaya tambahan 25% pada ekspor listrik ke beberapa negara bagian AS.
Baca Juga: Sentuh Rekor Baru, Harga Emas Antam Naik Rp28.000 Tembus Rp1,724 Juta per Gram
Emas berjangka untuk pengiriman April sempat mencapai USD3,003.90 per ounce di Chicago Mercantile Exchange (CME) sebelum turun ke USD2,989.50, menandai pertama kalinya sebuah kontrak melewati ambang batas psikologis USD3.000. Harga logam mulia ini naik hampir 14% sepanjang tahun ini setelah mencatatkan kenaikan 27% pada 2024.
"Sikap risk-off pasar mencerminkan ekspektasi investor bahwa ketegangan perdagangan kemungkinan akan memburuk sebelum mendingin, dan beralih ke emas safe-haven sekali lagi sebagai lindung nilai terhadap volatilitas portofolio," ujar pakar strategi pasar IG, Yeap Jun Rong, dikutip dari Russian Today, Minggu (16/3/2025).
Terlepas dari kekhawatiran terkait ketegangan perdagangan global, para analis mengaitkan reli terbaru dalam harga emas, aset yang disukai investor di tengah gejolak geopolitik dan ekonomi, dengan spekulasi pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve AS. Regulator ini diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,50% pada pertemuan yang dijadwalkan pekan depan.
Lihat Juga :