Menanti Sepak Terjang Alexander Rusli Kembali ke Industri Telekomunikasi
Jum'at, 04 September 2020 - 20:25 WIB
loading...
A
A
A
Tidak hanya terbatas di operator telekomunikasi, perang tarif yang digulirkan Alex juga menimbulkan dampak negatif yang dirasakan oleh masyarakat selaku konsumen serta oleh pemerintah. Dengan kondisi keuangan yang terbatas, operator telekomunikasi tidak dapat menambah investasinya di infrastruktur telekomunikasi guna memperluas cakupan layanan.
Akibatnya, masih terdapat wilayah dimana masyarakatnya tidak dapat menikmati layanan telekomunikasi. Cita-cita yang telah lama dimimpikan pemerintah akan tersedianya layanan telekomunikasi di seluruh wilayah Indonsia pun terpaksa harus dipendam dahulu.
Kurang lebih setengah dekade setelah perang tarif tersebut berlangsung, masyarakat utamanya yang berada di wilayah pinggiran belum dapat seutuhnya menikmati layanan telekomunikasi, yang tentunya membuat mereka kesulitan dalam menjalani kehidupan new normal sebagai dampak pandemi Covid-19.
Selain perang tarif, sosok Alexander Rusli juga tidak bisa lepas dari kasus korupsi di Indosat. Kerja sama antara Indosat dan IM2 yang di dalamnya terdapat penyalahgunaan frekuensi radio 2,1 GHz mengakibatkan kerugian tidak sedikit bagi negara, yaitu Rp 1,3 triliun. Alex sebagai CEO Indosat pada saat itu tentu memahami seluk beluk permasalahan ini.
Kondisi industri telekomunikasi saat ini tentunya berbeda dibandingkan dengan masa Alex memimpin Indosat. Secara garis besar, di bawah kepemimpinan Johnny G. Platte selaku Menkominfo, hubungan antara operator telekomunikasi bisa dikatakan akur.
Operator telekomunikasi saling guyub antara satu sama lain. Bahkan operator saling bekerja sama dan berkontribusi dalam mendukung pemerintah menyediakan infrastruktur digital guna menghadapi pandemic covid-19. Namun, dengan segala track record nya di Industri telekomunikasi, tidak salah jika banyak pihak bertanya-tanya sepak terjang apa lagi yang akan dilakukan oleh seorang Alexander Rusli.
Akibatnya, masih terdapat wilayah dimana masyarakatnya tidak dapat menikmati layanan telekomunikasi. Cita-cita yang telah lama dimimpikan pemerintah akan tersedianya layanan telekomunikasi di seluruh wilayah Indonsia pun terpaksa harus dipendam dahulu.
Kurang lebih setengah dekade setelah perang tarif tersebut berlangsung, masyarakat utamanya yang berada di wilayah pinggiran belum dapat seutuhnya menikmati layanan telekomunikasi, yang tentunya membuat mereka kesulitan dalam menjalani kehidupan new normal sebagai dampak pandemi Covid-19.
Selain perang tarif, sosok Alexander Rusli juga tidak bisa lepas dari kasus korupsi di Indosat. Kerja sama antara Indosat dan IM2 yang di dalamnya terdapat penyalahgunaan frekuensi radio 2,1 GHz mengakibatkan kerugian tidak sedikit bagi negara, yaitu Rp 1,3 triliun. Alex sebagai CEO Indosat pada saat itu tentu memahami seluk beluk permasalahan ini.
Kondisi industri telekomunikasi saat ini tentunya berbeda dibandingkan dengan masa Alex memimpin Indosat. Secara garis besar, di bawah kepemimpinan Johnny G. Platte selaku Menkominfo, hubungan antara operator telekomunikasi bisa dikatakan akur.
Operator telekomunikasi saling guyub antara satu sama lain. Bahkan operator saling bekerja sama dan berkontribusi dalam mendukung pemerintah menyediakan infrastruktur digital guna menghadapi pandemic covid-19. Namun, dengan segala track record nya di Industri telekomunikasi, tidak salah jika banyak pihak bertanya-tanya sepak terjang apa lagi yang akan dilakukan oleh seorang Alexander Rusli.
(akr)
Lihat Juga :