PLN EPI Pasok 350 Ton Cangkang Sawit via Laut ke PLTU Tidore
Sabtu, 29 Maret 2025 - 07:00 WIB
loading...
PLN EPI memasok 350 ton cangkang sawit melalui Laut untuk cofiring biomassa ke PLTU Tidore bekerja sama dengan PT Bumi Indawa Niaga. FOTO/Dok.
A
A
A
JAKARTA - PT PLN Energi Primer ( PLN EPI ) memasok sebanyak 350 ton cangkang sawit melalui laut untuk keperluan cofiring biomassa ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tidore, bekerja sama dengan PT Bumi Indawa Niaga (BIN).PLTU Tidore di Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, menjadi salah satu lokasi penerapan cofiring biomassa.
Direktur Utama PLN EPI Iwan Agung Firstantara menjelaskan, program cofiring ini merupakan upaya PLN untuk memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat sekitar melalui pemanfaatan limbah yang bernilai tambah. Menurut dia,setelah uji coba, cangkang sawit yang bersumber dari perkebunan di kepulauan sekitarnya dipilih sebagai jenis biomassa untuk cofiring PLTU Tidore.
Baca Juga: Co-firing Biomassa Jadi Pendongkrak Bauran Energi Nasional
Untuk keperluan pasok biomassa cangkang sawit tersebut, PLN EPI menggandeng PT Bumi Indawa Niaga (BIN), perusahaan agribisnis yang memanfaatkan limbah cangkang sawit dari pabrik kelapa sawit milik sister company-nya, PT Gelora Mandiri Membangun. Kolaborasi dengan PT BIN ini menurutnya merupakan kolaborasi strategis untuk bisa mendukung keberlanjutan energi di Maluku Utara.
"Dengan inovasi seperti ini, kami tidak hanya memperkuat sistem energi berbasis lokal, tetapi juga berkontribusi signifikan pada pencapaian target bauran EBT nasional sebesar 23% pada 2025," ungkap Iwan dalam keterangan pers, Sabtu (29/3/2025).
Sementara itu, Ketut Adi Laskito dari PT BIN menyatakan dukungan penuhnya terhadap program Pemerintah.Dengan kerja sama ini, kata dia, PT BIN tidak hanya mendukung transisi energi bersih tetapi juga memberikan solusi ekonomi untuk memanfaatkan limbah kelapa sawit secara maksimal. “Kami berharap kerja sama jangka panjang dengan PLN EPI dan PLTU Tidore dapat terus berkembang," ucapnya.
Menurut Ketut, pengiriman cangkang sawit ke PLTU Tidore memiliki tantangan tersendiri. Lokasi PLTU dan Tidore yang terletak di kepulauan membutuhkan akses transportasi laut. Tak hanya itu, produksi cangkang sawit sangat bergantung pada cuaca. Hal ini membuat pasokan cangkang sawit yang didapat dari limbah hasil produksi jadi fluktuatif dan tidak menentu.
Direktur Utama PLN EPI Iwan Agung Firstantara menjelaskan, program cofiring ini merupakan upaya PLN untuk memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat sekitar melalui pemanfaatan limbah yang bernilai tambah. Menurut dia,setelah uji coba, cangkang sawit yang bersumber dari perkebunan di kepulauan sekitarnya dipilih sebagai jenis biomassa untuk cofiring PLTU Tidore.
Baca Juga: Co-firing Biomassa Jadi Pendongkrak Bauran Energi Nasional
Untuk keperluan pasok biomassa cangkang sawit tersebut, PLN EPI menggandeng PT Bumi Indawa Niaga (BIN), perusahaan agribisnis yang memanfaatkan limbah cangkang sawit dari pabrik kelapa sawit milik sister company-nya, PT Gelora Mandiri Membangun. Kolaborasi dengan PT BIN ini menurutnya merupakan kolaborasi strategis untuk bisa mendukung keberlanjutan energi di Maluku Utara.
"Dengan inovasi seperti ini, kami tidak hanya memperkuat sistem energi berbasis lokal, tetapi juga berkontribusi signifikan pada pencapaian target bauran EBT nasional sebesar 23% pada 2025," ungkap Iwan dalam keterangan pers, Sabtu (29/3/2025).
Sementara itu, Ketut Adi Laskito dari PT BIN menyatakan dukungan penuhnya terhadap program Pemerintah.Dengan kerja sama ini, kata dia, PT BIN tidak hanya mendukung transisi energi bersih tetapi juga memberikan solusi ekonomi untuk memanfaatkan limbah kelapa sawit secara maksimal. “Kami berharap kerja sama jangka panjang dengan PLN EPI dan PLTU Tidore dapat terus berkembang," ucapnya.
Menurut Ketut, pengiriman cangkang sawit ke PLTU Tidore memiliki tantangan tersendiri. Lokasi PLTU dan Tidore yang terletak di kepulauan membutuhkan akses transportasi laut. Tak hanya itu, produksi cangkang sawit sangat bergantung pada cuaca. Hal ini membuat pasokan cangkang sawit yang didapat dari limbah hasil produksi jadi fluktuatif dan tidak menentu.
Lihat Juga :