Indonesia Jadi Korban Perang Dagang Trump, Kenyataan Pahit Ancam Ekonomi RI

Sabtu, 05 April 2025 - 19:38 WIB
loading...
Indonesia Jadi Korban...
Neraca perdagangan Indonesia berpotensi mengalami defisit, imbas kebijakan tarif resiprokal Trump. FOTO/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia berpotensi mengalami defisit, imbas kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Indonesia menjadi salah satu negara yang dikenakan tarif bea masuk ke AS sebesar 32%.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad menilai, neraca dagang Indonesia bisa tertekan akibat kebijakan Trump, sehingga perdagangan yang pada 2024 mencatatkan surplus senilai USD18 miliar bakal berbalik menjadi defisit.

"Surplus mungkin USD16 miliar-USD18 miliar. Artinya kalau misalnya rata-rata kita katakanlah setiap bulan itu surplus USD3 miliar, kalau Amerika berkurang ya katakanlah nilainya tidak lagi surplus, mengalami balance-nya, otomatis kan potensi surplus kita berkurang," ujar Tauhid saat dihubungi, Sabtu (5/4/2025).

Baca Juga: Perang Dagang Mencekam, China Balas Tarif Impor 34% untuk Semua Barang dari AS

Pasca penetapan tariff reciprocal, kinerja ekspor Indonesia dengan AS yang saat ini masih surplus diyakini tidak bertahan lama. Artinya, dalam beberapa waktu ke depan neraca daging berbalik menjadi defisit. "Ya surplusnya ya menurut saya sih paling banter ya, itu pasti akan jadi balance atau defisit begitu bisa jadi," paparnya.

Dia menjelaskan, kebijakan kenaikan tarif impor tidak hanya berdampak bagi AS sendiri, tapi juga secara global. Akibatnya, akan terjadi disrupsi perdagangan yang luar biasa besar. Multiplier effect atau efek berganda dari sikap proteksionisme Trump ini membuat harga komoditas menjadi lebih mahal dan menurunkan daya beli masyarakat.

"Misalnya gini, ketika Amerika menaikkan tarif, harga semakin mahal permintaan turun, barang-barang produk antara kita yang diproduksi misalnya di China, di Jepang, dan sebagainya yang tujuan ekspornya adalah ke Amerika juga turun kan," beber dia.

"Atau yang direct sudah pasti berkurang ya, tetapi ketika negara lain sebagai produk antara kita, kemudian market-nya ke Amerika itu juga turun, karena mereka juga mengalami kenaikan tarif kan," lanjut Tauhid.

Baca Juga: Tarif Trump 32% Bakal Gerus Ekspor Indonesia, Awas PHK Massal

Menurut Tauhid, AS menerapkan tarif bea masuk karena adanya hambatan dari negara lain, termasuk non-tariff barrier yang membuat barang AS menjadi lebih mahal. Beberapa komoditas seperti alkohol dan bahan kimia menjadi sorotan AS.

Dia mengakui memang ada ketimpangan penerapan tarif impor antara AS dan Indonesia. Misalnya, impor pakaian dari AS ke Indonesia dikenakan tarif 12,7 persen sementara tarif impor pakaian dari Indonesia hanya 1,7 persen. Oleh karena itu, dia menyebut, perlu komunikasi lebih lanjut antara Indonesia dan AS terkait komoditas perdagangan kedua negara.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Purbaya Targetkan Ekonomi...
Purbaya Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5% di 2027
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Istana Buka Suara soal...
Istana Buka Suara soal Variabel Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000: Singgung Kemandirian Ekonomi
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
Fuad Bawazier: Isu Ganti...
Fuad Bawazier: Isu Ganti Purbaya bukan Fakta, tapi Perlawanan terhadap Paradigma Baru
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Ekonomi Indonesia Tumbuh...
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Triwulan I 2026
Rekomendasi
Kejari Jaksel Ungkap...
Kejari Jaksel Ungkap Alasan Kabulkan Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa
Quick Marriage with...
Quick Marriage with Twins: A Dazzling Mom's Tale di V+Short, Kisah Ibu Tangguh yang Menemukan Cinta Lamanya
APHI Dorong Pemegang...
APHI Dorong Pemegang PBPH Manfaatkan Permenhut untuk Kembangkan Proyek Karbon
Berita Terkini
Insentif Motor Listrik...
Insentif Motor Listrik Ditunda Satu Bulan, Menko Airlangga: Masih Dikaji
Tokocrypto Resmi Bergabung...
Tokocrypto Resmi Bergabung ke Ekosistem ICEX Group, Proses Migrasi Lima PAKD Selesai
Gunakan MT Gamkonora,...
Gunakan MT Gamkonora, Pertamina Patra Niaga Tambah 450 Ribu Barel Minyak
Dorong SDM Unggul, IWIP-WBN...
Dorong SDM Unggul, IWIP-WBN Gandeng LPDP Kirim Mahasiswa ke China
Masa Depan Kesehatan,...
Masa Depan Kesehatan, Brantas Abipraya Pastikan Pembangunan Bank Genomik Nasional Berjalan Optimal
Stimulus Jumbo Lintas...
Stimulus Jumbo Lintas Sektor Rp26,34 Triliun Resmi Meluncur, Berikut Rincian Alokasinya
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved