Redam Tarif Impor Baru AS, Indonesia Siapkan Usulan Relaksasi TKDN

Senin, 07 April 2025 - 16:42 WIB
loading...
Redam Tarif Impor Baru...
Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah penyesuaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebagai respons tarif impor baru AS. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan berbagai usulan strategis sebagai respons atas kebijakan tarif impor yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap produk- produk Indonesia . Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah penyesuaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) .

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menjelaskan, bahwa pembahasan mengenai relaksasi TKDN memang telah dibicarakan dalam rapat bersama Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto.

“Iya masih dalam kajian, jadi sebelum itu resmi disampaikan pada pihak AS tentu belum bisa diumumkan. Dalam waktu dekat akan diberikan surat antar kedua negara, dalam waktu dekat Pak Menko akan berangkat untuk bahas soal itu dan itu memang yang disampaikan ke Indonesia. Kita sudah menyiapkan beberapa usulan, apakah diterima pihak pemerintah AS atau tidak,” jelas Faisol kepada awak media, Senin (7/4/2025).

Baca Juga: Trump Tampar RI dengan Tarif Impor 32%, Sektor Industri Ini Bakal Telan Pil Pahit

Terkait kemungkinan TKDN menjadi bagian dari usulan Indonesia, Faisol menyebut akan ada penyesuaian-penyesuaian. Namun saat ditanya berapa persen penyesuaian TKDN, Ia belum bersedia membeberkan.

“Nantilah tunggu,” ujarnya singkat, seraya menegaskan bahwa penyesuaian tersebut hanya akan berlaku khusus untuk Amerika Serikat. “Hanya AS.”

Adapun rencana kunjungan ke Amerika Serikat akan dipimpin langsung oleh Menko Airlangga. “Masih dalam pembahasan, tapi dalam waktu dekat akan diberitahukan ke kita dan yang memimpin Pak Menko,” kata Faisol.

Ia menambahkan, “Paling lambat tanggal 17.”

Saat disinggung apakah revisi TKDN yang saat ini tengah diharmonisasi masuk dalam poin-poin usulan ke AS, Faisol menjelaskan bahwa itu merupakan pembahasan berbeda. “Itu pembahasan yang lain,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa kebijakan tersebut akan diberlakukan terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap negosiasi. “Akan diberlakukan dulu, baru dinegosiasikan,” ujarnya.

Menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Indonesia juga mengenakan tarif terhadap produk impor dari AS, Faisol mengatakan, “Yah, kita gak tahu dasar hitungannya. Makanya negosiasi itu akan dibahas dari situ, dasar hitungan. Kita melihat itu baru perhitungan kasar yang dibuat pemerintah AS," jelas Faisol.

Faisol menekankan, bahwa semua kementerian dan lembaga berkomitmen untuk menjaga pasar dalam negeri dan mendukung industri nasional melalui berbagai fasilitas, termasuk kebijakan fiskal. “Seandaianya kebijakan dari negosiasi membantu memenuhi kebutuhan bahan baku dengan biaya rendah, tentu bagus,” sambungnya.

Terkait kemungkinan permintaan AS agar Indonesia meningkatkan impor bahan baku seperti kapas dan gandum, Faisol mengatakan hal itu sudah dibahas oleh para pelaku industri. “Tentu ini menjadi PR buat industri kita, tapi itu sudah dibahas oleh asosiasi dan asosiasi sudah bahas itu,” jelasnya.

Baca Juga: Industri Otomotif AS Keberatan dengan Tarif Impor Baru Trump

Mengenai pelaksanaan impor, Faisol memastikan bahwa sebagian besar akan dilakukan oleh sektor swasta dengan skema business to business (B2B). Soal revisi Permendag Nomor 8 Tahun 2024, Faisol mengakui bahwa masih dalam pembahasan dan Kementerian Perindustrian turut memberikan masukan.

“Kenapa lama? Tanya ke Kemendag. Kemenperin ada prosi (porsi) dalam usulan itu secepatnya,” pungkasnya.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indo Build Tech 2026,...
Indo Build Tech 2026, AMBPI Bawa Sejumlah Inovasi Baru
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
3 Dekade Jaga Kualitas,...
3 Dekade Jaga Kualitas, Marwani Indah Perkokoh Posisi di Pasar Genteng Beton dan Paving Block
Wamenperin Jajaki Investasi...
Wamenperin Jajaki Investasi di Rusia, dari Nuklir hingga Industri Halal
Kebut Sekolah Rakyat...
Kebut Sekolah Rakyat di Sulut dan Kalsel, Brantas Abipraya Menjaga Laju, Menjamin Mutu
Perkuat Industri Nasional,...
Perkuat Industri Nasional, Belanja Suku Cadang Lokal SIG Tembus Rp809 Miliar
MNC University dan BPSDMI...
MNC University dan BPSDMI Kemenperin Teken MoU di PIDI 4.0, Perkuat SDM Industri Berbasis Digital dan Vokasi
Menuju Penghentian Total...
Menuju Penghentian Total Open Dumping, Wamen LH Dorong Pemilahan Sampah dari Hulu
Kesepakatan Tarif RI–AS,...
Kesepakatan Tarif RI–AS, Bagaimana Nasib Aturan Label Halal?
Rekomendasi
Tak Mau Cuma Impor,...
Tak Mau Cuma Impor, Raksasa EV China Leapmotor Langsung Rakit B10 di Jawa Barat
Suka Takut Minum Vitamin...
Suka Takut Minum Vitamin C Karena Bikin Lambung Perih? Ini Penjelasannya
Vinicius Moncer, Brasil...
Vinicius Moncer, Brasil Gunduli Haiti 3-0
Berita Terkini
Indo Build Tech 2026,...
Indo Build Tech 2026, AMBPI Bawa Sejumlah Inovasi Baru
Bidik Pasar Indonesia...
Bidik Pasar Indonesia Timur, Jafran Indonesia Kenalkan JR 737 di PENAS XVII
Pelemahan Emas Antam...
Pelemahan Emas Antam Berlanjut ke Rp2.6 Juta per Gram, Ini Daftar Lengkapnya
Grab For Business Luncurkan...
Grab For Business Luncurkan Corporate Dine Out, Jamuan Makan Kantor Bebas Reimburse
Saingan Selat Malaka!...
Saingan Selat Malaka! Thailand Nekat Hidupkan Megaproyek Rp535 Triliun
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved