AQUA Dorong Konservasi Air Lewat Skema Pembayaran Jasa Lingkungan
Sabtu, 19 April 2025 - 15:29 WIB
loading...
VP General Secretary Danone Indonesia Vera Galuh Sugijanto, mengatakan pendekatan kolaboratif terintegrasi melalui skema PJL mendorong kolaborasi berbagai pihak. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
KLATEN - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperkenalkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pengembangan Sistem Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL). Hal itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, saat mengunjungi Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) AQUA Klaten serta Daerah Konservasi di Dusun Gumuk, Mriyan, Boyolali.
"Penerapan skema PJL di sub-DAS Pusur melibatkan partisipasi aktif multipihak. Kolaborasi antara kelompok masyarakat seperti Pusur Institute, pelaku industri seperti AQUA, pemerintah Kabupaten Boyolali dan Klaten, menciptakan sinergi yang solid dalam upaya konservasi," jelas Hanif dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/4/2025).
Baca Juga: Dukung Ramadhan Jazz Festival 2025, AQUA Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan
Dia menegaskan pentingnya konservasi sumber daya alam dari hulu ke hilir karena ekosistem merupakan satu kesatuan yang saling terhubung. "Saya berharap skema PJL yang melibatkan berbagai sektor seperti ini dapat diperluas dan direplikasi di wilayah lain di Indonesia," tambahnya.
VP General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto, menyampaikan AQUA berkomitmen mendukung pemerintah dalam mewujudkan kelestarian lingkungan melalui pengelolaan sumber daya air secara terintegrasi.
"Kami menyadari pentingnya keberlanjutan untuk menciptakan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Ini sejalan dengan pilar kedua Danone Impact Journey, yaitu melestarikan lingkungan. Salah satunya diwujudkan melalui penerapan skema PJL di sub-DAS Pusur, Klaten," ujarnya.
Skema PJL memberikan insentif kepada masyarakat yang aktif dalam menjaga dan melestarikan sumber daya alam, sekaligus memastikan keberlanjutan ketersediaan air di daerah tersebut.
Pendekatan PJL mendorong kolaborasi antara industri, masyarakat, dan lembaga untuk menjaga ketersediaan air melalui insentif atas praktik konservasi yang terintegrasi. AQUA telah menginisiasi skema ini di berbagai wilayah sub-DAS seperti Cicatih (Jawa Barat), Kedunglarangan dan Rejoso (Jawa Timur), Ayung (Bali), serta Pusur (Jawa Tengah).
Baca Juga: Kepala BPJPH Sebut Aqua Taat dan Halal, Tak Perlu Ragu Mengonsumsinya
Masyarakat yang menerapkan teknik konservasi seperti pembuatan sumur resapan, rorak, penggunaan pupuk organik, dan praktik agroforestri diberikan insentif. Sementara itu, industri berkontribusi dalam bentuk dukungan finansial atau material, dan mitra LSM berperan dalam menjembatani koordinasi serta menentukan nilai insentif berdasarkan kriteria seperti kepemilikan lahan, pola tanam, dan jenis konservasi.
Bupati Boyolali, Agus Irawan, menyatakan bahwa program PJL tidak hanya memberikan insentif, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap praktik pertanian ramah lingkungan di hulu sungai.
"Program ini berdampak positif bagi ekosistem dan juga ekonomi masyarakat. Debit mata air di kawasan konservasi menunjukkan tren yang lebih stabil. Kami berharap lebih banyak petani ikut serta dan program ini bisa direplikasi di wilayah lainnya," ucap Agus.
Sementara, Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
"Diperlukan kerja sama yang solid antara pemerintah daerah, industri, dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air. Jangan sampai kita lengah menjaga air dari sumbernya,” tegasnya.
AQUA bersama Pusur Institute telah melakukan berbagai upaya konservasi di sepanjang sub-DAS Pusur. Di wilayah hulu, dilakukan pengembangan Kecamatan Konservasi Tamansari, pembangunan sumur resapan, lubang biopori, serta Embung Tirta Mulya di Boyolali.
Di wilayah tengah, program difokuskan pada pertanian ramah lingkungan dan perbaikan irigasi. Sementara, di wilayah hilir, konservasi dilakukan melalui program "Revitalisasi Jogo Toya Kamulyan" bersama Forum Relawan Irigasi.
"Bagi kami, keberlanjutan dan bisnis harus berjalan beriringan. Kolaborasi multipihak menjadi kunci untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Kami percaya, konsistensi dan kerja sama dapat memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan yang lebih lestari," tutup Vera.
"Penerapan skema PJL di sub-DAS Pusur melibatkan partisipasi aktif multipihak. Kolaborasi antara kelompok masyarakat seperti Pusur Institute, pelaku industri seperti AQUA, pemerintah Kabupaten Boyolali dan Klaten, menciptakan sinergi yang solid dalam upaya konservasi," jelas Hanif dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/4/2025).
Baca Juga: Dukung Ramadhan Jazz Festival 2025, AQUA Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan
Dia menegaskan pentingnya konservasi sumber daya alam dari hulu ke hilir karena ekosistem merupakan satu kesatuan yang saling terhubung. "Saya berharap skema PJL yang melibatkan berbagai sektor seperti ini dapat diperluas dan direplikasi di wilayah lain di Indonesia," tambahnya.
VP General Secretary Danone Indonesia, Vera Galuh Sugijanto, menyampaikan AQUA berkomitmen mendukung pemerintah dalam mewujudkan kelestarian lingkungan melalui pengelolaan sumber daya air secara terintegrasi.
"Kami menyadari pentingnya keberlanjutan untuk menciptakan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Ini sejalan dengan pilar kedua Danone Impact Journey, yaitu melestarikan lingkungan. Salah satunya diwujudkan melalui penerapan skema PJL di sub-DAS Pusur, Klaten," ujarnya.
Skema PJL memberikan insentif kepada masyarakat yang aktif dalam menjaga dan melestarikan sumber daya alam, sekaligus memastikan keberlanjutan ketersediaan air di daerah tersebut.
Pendekatan PJL mendorong kolaborasi antara industri, masyarakat, dan lembaga untuk menjaga ketersediaan air melalui insentif atas praktik konservasi yang terintegrasi. AQUA telah menginisiasi skema ini di berbagai wilayah sub-DAS seperti Cicatih (Jawa Barat), Kedunglarangan dan Rejoso (Jawa Timur), Ayung (Bali), serta Pusur (Jawa Tengah).
Baca Juga: Kepala BPJPH Sebut Aqua Taat dan Halal, Tak Perlu Ragu Mengonsumsinya
Masyarakat yang menerapkan teknik konservasi seperti pembuatan sumur resapan, rorak, penggunaan pupuk organik, dan praktik agroforestri diberikan insentif. Sementara itu, industri berkontribusi dalam bentuk dukungan finansial atau material, dan mitra LSM berperan dalam menjembatani koordinasi serta menentukan nilai insentif berdasarkan kriteria seperti kepemilikan lahan, pola tanam, dan jenis konservasi.
Bupati Boyolali, Agus Irawan, menyatakan bahwa program PJL tidak hanya memberikan insentif, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap praktik pertanian ramah lingkungan di hulu sungai.
"Program ini berdampak positif bagi ekosistem dan juga ekonomi masyarakat. Debit mata air di kawasan konservasi menunjukkan tren yang lebih stabil. Kami berharap lebih banyak petani ikut serta dan program ini bisa direplikasi di wilayah lainnya," ucap Agus.
Sementara, Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
"Diperlukan kerja sama yang solid antara pemerintah daerah, industri, dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air. Jangan sampai kita lengah menjaga air dari sumbernya,” tegasnya.
Konservasi Air
AQUA bersama Pusur Institute telah melakukan berbagai upaya konservasi di sepanjang sub-DAS Pusur. Di wilayah hulu, dilakukan pengembangan Kecamatan Konservasi Tamansari, pembangunan sumur resapan, lubang biopori, serta Embung Tirta Mulya di Boyolali.
Di wilayah tengah, program difokuskan pada pertanian ramah lingkungan dan perbaikan irigasi. Sementara, di wilayah hilir, konservasi dilakukan melalui program "Revitalisasi Jogo Toya Kamulyan" bersama Forum Relawan Irigasi.
"Bagi kami, keberlanjutan dan bisnis harus berjalan beriringan. Kolaborasi multipihak menjadi kunci untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Kami percaya, konsistensi dan kerja sama dapat memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan yang lebih lestari," tutup Vera.
(nng)
Lihat Juga :