Potensial Turun Mutu, Pengamat: Beras Bulog Harus Segera Disalurkan
Minggu, 20 April 2025 - 15:04 WIB
loading...
A
A
A
Juga akibat El Nino, puncak produksi beras 2024 bergeser dari Maret ke April. Oleh karena itu, produksi 3 bulan 2025 lebih tepat dibandingkan produksi 3 bulan awal 2023 atau 2022. Produksi beras 3 bulan awal 2023 mencapai 9,32 juta ton, lebih besar dari produksi 3 bulan awal 2025 yang sebesar 9,04 juta ton.
"Lagi pula mengklaim produksi beras di Januari-Februari 2025 melimpah --karena naik tinggi ketimbang Januari-Februari 2024-- tidak tepat. Apabila paceklik dimaknai produksi dikurangi konsumsi di bulan yang sama terjadi defisit, Januari-Februari 2025 sebenarnya termasuk paceklik," kata dia.
Produksi beras melimpah menurutnya baru terjadi di Maret. Merujuk data BPS, produksi beras Januari sebesar 1,24 juta ton, Februari 2,23 juta ton, dan Maret 5,57 juta ton. Sementara konsumsi beras mencapai 2,6 juta ton per bulan.
Menurut Khudori, sebetulnya Bulog masih memiliki outlet agar beras tidak menumpuk di gudang, yakni operasi pasar bernama Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Namun, SPHP juga distop penyalurannya dengan alasan yang sama, yakni produksi beras melimpah.
Setelah bantuan pangan beras dihentikan dan kemudian diikuti penyetopan penyaluran SPHP, pasar sepenuhnya dipasok beras oleh swasta. "Bagi swasta, ini peluang pasar yang baik. Tapi bagi warga miskin calon penerima bantuan atau warga rentan yang berharap bisa membeli beras SPHP dengan harga terjangkau, mereka gigit jari. Mau tidak mau mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli beras," cetusnya.
Padahal, lanjut dia, penghentian penyaluran keduanya dengan alasan produksi beras melimpah tidak tepat. Tahun 2025 ini SPHP ditargetkan tersalur 1,2 juta ton beras, setara 2 tahun terakhir yang rerata mencapai 1,29 juta ton. Bersama bantuan pangan beras, SPHP jadi outlet penting beras Bulog di tahun 2023 dan 2024.
Bantuan pangan beras diinisiasi Badan Pangan Nasional pada 2023. Saat itu bantuan menyasar 21,35 juta keluarga selama 7 bulan. Mereka menerima 10 kg beras/keluarga/bulan. Hasilnya dinilai baik, maka dilanjutkan dengan penyaluran 9 bulan di 2024. Di 2 tahun itu bantuan pangan menyedot beras Bulog masing-masing 1,49 juta ton di 2023 dan 1,97 juta ton di 2024.
Dengan bantuan beras 10 kg per bulan, jelas Khudori, keluarga penerima terlindungi dari gejolak harga beras di pasar. Dengan cakupan sasaran yang relatif besar, yakni 21,35 juta keluarga, bantuan beras memengaruhi keseimbangan harga beras di pasar dari sisi permintaan (demand side) dan sisi penawaran (supply side).
"Lagi pula mengklaim produksi beras di Januari-Februari 2025 melimpah --karena naik tinggi ketimbang Januari-Februari 2024-- tidak tepat. Apabila paceklik dimaknai produksi dikurangi konsumsi di bulan yang sama terjadi defisit, Januari-Februari 2025 sebenarnya termasuk paceklik," kata dia.
Produksi beras melimpah menurutnya baru terjadi di Maret. Merujuk data BPS, produksi beras Januari sebesar 1,24 juta ton, Februari 2,23 juta ton, dan Maret 5,57 juta ton. Sementara konsumsi beras mencapai 2,6 juta ton per bulan.
Menurut Khudori, sebetulnya Bulog masih memiliki outlet agar beras tidak menumpuk di gudang, yakni operasi pasar bernama Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Namun, SPHP juga distop penyalurannya dengan alasan yang sama, yakni produksi beras melimpah.
Setelah bantuan pangan beras dihentikan dan kemudian diikuti penyetopan penyaluran SPHP, pasar sepenuhnya dipasok beras oleh swasta. "Bagi swasta, ini peluang pasar yang baik. Tapi bagi warga miskin calon penerima bantuan atau warga rentan yang berharap bisa membeli beras SPHP dengan harga terjangkau, mereka gigit jari. Mau tidak mau mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli beras," cetusnya.
Padahal, lanjut dia, penghentian penyaluran keduanya dengan alasan produksi beras melimpah tidak tepat. Tahun 2025 ini SPHP ditargetkan tersalur 1,2 juta ton beras, setara 2 tahun terakhir yang rerata mencapai 1,29 juta ton. Bersama bantuan pangan beras, SPHP jadi outlet penting beras Bulog di tahun 2023 dan 2024.
Bantuan pangan beras diinisiasi Badan Pangan Nasional pada 2023. Saat itu bantuan menyasar 21,35 juta keluarga selama 7 bulan. Mereka menerima 10 kg beras/keluarga/bulan. Hasilnya dinilai baik, maka dilanjutkan dengan penyaluran 9 bulan di 2024. Di 2 tahun itu bantuan pangan menyedot beras Bulog masing-masing 1,49 juta ton di 2023 dan 1,97 juta ton di 2024.
Dengan bantuan beras 10 kg per bulan, jelas Khudori, keluarga penerima terlindungi dari gejolak harga beras di pasar. Dengan cakupan sasaran yang relatif besar, yakni 21,35 juta keluarga, bantuan beras memengaruhi keseimbangan harga beras di pasar dari sisi permintaan (demand side) dan sisi penawaran (supply side).
Lihat Juga :