China Mengancam Negara-negara yang Negosiasi Tarif dengan Trump

Senin, 21 April 2025 - 16:48 WIB
loading...
China Mengancam Negara-negara...
China memperingatkan, bakal tindak tegas dan terapkan tarif balasan terhadap negara-negara yang bernegosiasi dengan AS dan membuat kesepakatan untuk mengorbankan China dalam perang dagang. Foto/Dok
A A A
BEIJING - China memperingatkan, bakal menerapkan tindakan tegas dan tarif balasan terhadap negara-negara yang bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS) dan membuat kesepakatan untuk mengorbankan China dalam perang dagang .

Kementerian perdagangan (Kemendag) China merespons, laporan berita belum lama ini yang mengungkapkan bahwa AS berencana menekan negara-negara lain untuk membatasi perdagangan mereka dengan China dan sebagai imbalan bakal mendapatkan pengecualian tarif.

Beijing dan AS seperti diketahui sedang terlibat dalam perang dagang yang semakin memanas di antara keduanya. Sementara itu tarif baru Donald Trump merupakan upaya AS menulis ulang kesepakatan perdagangan dengan seluruh dunia.

Baca Juga: China Desak AS Akhiri Perang Dagang, tapi Juga Siap Meladeni

"China dengan tegas menentang pihak mana pun yang mencapai kesepakatan dengan mengorbankan kepentingan China," kata kementerian tersebut pada hari Senin (21/4/2025).

"Ketenangan tidak akan membawa perdamaian, dan kompromi tidak akan dihormati ... Mencari kepentingan sendiri yang egois dengan mengorbankan kepentingan orang lain adalah mencari kulit harimau," terangnya seperti dilansir Guardian.

Pihak China memperingatkan, pendekatan tersebut "pada akhirnya akan gagal di kedua belah pihak dan merugikan orang lain".

Tarif antara AS dan China telah mencapai 145% pada ekspor China ke AS dan 125% pada ekspor AS ke China. Tarif Trump terhadap China adalah tarif global tertinggi yang dia umumkan untuk semua mitra dagang AS sebagai bagian dari apa yang disebut kampanye "hari pembebasan" untuk membuat hubungan perdagangan lebih menguntungkan AS dan membawa lebih banyak manufaktur ke tanah AS.

Bulan ini, ketika AS tampaknya bakal tenggelam dalam resesi, Trump mengumumkan jeda 90 hari dari kebijakan tarif tertinggi terbaru, meski tetap menerapkan tarif minimum semua negara menjadi 10% – kecuali China.

Negosiasi

Beberapa negara memilih melakukan negosiasi dengan AS untuk menurunkan atau menghapus tarif sebelum tenggat waktu 90 hari. Laporan terakhir diklaim menunjukkan bahwa tim Trump bermaksud menggunakan negosiasi tersebut untuk perang dagang dengan China.

The Wall Street Journal dan Bloomberg keduanya mengutip pejabat AS yang mengatakan, AS sedang bersiap untuk menekan negara-negara tersebut untuk mengekang perdagangan mereka sendiri dengan China atau menjatuhkan sanksi moneter.

"Jika situasi seperti itu terjadi, China tidak akan pernah menerimanya dan akan dengan tegas mengambil tindakan balasan timbal balik," kata kementerian perdagangan China.

Menanggapi laporan itu, Menteri Keuangan atau Menkeu Inggris, Rachel Reeves menolak, gagasan bahwa Inggris akan melepaskan diri secara ekonomi dari China.

"Yah, China adalah ekonomi terbesar kedua di dunia, dan saya pikir, sangat bodoh untuk tidak terlibat," kata Reeves kepada Telegraph.

"Itulah pendekatan pemerintah," sambungnya.

Sementara itu sebelumnya, Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa AS sedang dalam pembicaraan dengan China tentang tarif. Ia yakin ekonomi terbesar di dunia dapat membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang yang pahit.

"Ya, kami berbicara dengan China," kata Trump kepada wartawan di Kantor Oval.

"Saya akan mengatakan mereka telah menghubungi beberapa kali. Saya pikir kami akan membuat kesepakatan yang sangat baik dengan China," bebernya.

Di sisi lain China bertekad tidak takut dengan perang dagang dan bakal melakukannya sampai akhir. Beijing juga belum mengkonfirmasi bahwa, apakah mereka sedang dalam pembicaraan dengan Washington, meskipun telah menyerukan dialog.

Para pejabat China mengatakan, AS perlu menunjukkan rasa hormat yang lebih besar. Mereka juga mengkritik keras apa yang disebutnya "unilateralisme dan proteksionisme" oleh AS – dan memperingatkan tentang tatanan internasional yang kembali ke "hukum hutan".

Baca Juga: Pengusaha China Ejek Tarif Trump: Barang Mewah di AS Dibuat dengan Cost Murah

"Di mana yang kuat memangsa yang lemah, semua negara akan menjadi korban," kata Beijing pada hari Senin.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Genderang Perang Dagang,...
Genderang Perang Dagang, Trump Ancam Tarif 100% yang Berani Pajaki Google, Meta, dan Apple!
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
Penerbitan Panda Bond...
Penerbitan Panda Bond Mundur ke Akhir Juli, Purbaya Incar Likuiditas Jumbo
Keluarga Pejabat di...
Keluarga Pejabat di China Dilarang Total Berbisnis, Mundur atau Tutup Usaha! Berani Tiru?
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Rekomendasi
Kejutan! Paraguay Singkirkan...
Kejutan! Paraguay Singkirkan Jerman Lewat Adu Penalti
Kasus Hanania Group,...
Kasus Hanania Group, Awkarin Tegaskan Kerja Sama Hanya Barter Fasilitas Umrah
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Berita Terkini
Perkuat Industri Maritim,...
Perkuat Industri Maritim, BKI Dorong Kolaborasi PIKKI Bersama PT PAL
Sensus Ekonomi 2026...
Sensus Ekonomi 2026 Jadi Navigasi Pembangunan Nasional
Pendapatan Melonjak...
Pendapatan Melonjak 47,7%, KPIG Raih Laba Bersih Rp724,2 Miliar di 2025
MNC Asia Holding Raup...
MNC Asia Holding Raup Laba Bersih Rp1,4 Triliun di 2025, Setujui Private Placement 8,6 Miliar Saham
Malaysia Prediksi Gejolak...
Malaysia Prediksi Gejolak Harga Energi Berlanjut Dua Tahun ke Depan
Lindungi Bursa Saham...
Lindungi Bursa Saham dari Ancaman Siber, ADIGSI Gandeng APEI
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved