AS dan Greenland Menyimpan Harta Karun Logam Tanah Jarang Terbesar, Segini Depositnya

Selasa, 22 April 2025 - 17:35 WIB
loading...
AS dan Greenland Menyimpan...
Amerika Serikat (AS) dan Greenland termasuk delapan negara yang memiliki cadangan terbesar mineral langka tanah jarang di dunia. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Amerika Serikat (AS) dan Greenland termasuk delapan negara yang memiliki cadangan terbesar mineral langka tanah jarang di dunia. Setidaknya berdasarkan data terbaru Survei Geologi AS tentang unsur tanah jarang, cadangan yang dimiliki AS dan Greenland lebih dari 1 juta metrik ton.

Seperti diketahui Presiden terpilih AS, Donald Trump secara terang-terangan ini mencaplok Greenland dari Denmark dengan alasan keamanan nasional. Ia berencana menguasai pulau yang menjadi wilayah otonom Denmark tersebut.

Baca Juga: 5 Negara Penguasa Harta Karun Logam Tanah Jarang di Dunia

Dengan luas 2,2 juta kilometer persegi, Greenland kaya akan endapan emas , perak, tembaga dan uranium, dan diyakini memiliki cadangan minyak yang besar di perairan teritorialnya. Namun sekitar 80% permukaannya ditutupi dengan es.

Namun sumber daya mineral melimpah yang tersimpan di Greenland, bisa menjadi alasan kenapa Presiden Donald Trump bersikeras bahwa AS bisa mencaplok pulau besar yang terletak di bagian utara Samudra Atlantik itu.

Ini cadangan tanah jarang AS dan Greenland:

- Amerika Serikat

Cadangan tanah jarang: 1,9 juta metrik ton

Sementara itu AS menempati posisi kedua untuk produksi tanah jarang pada tahun 2024 dengan 45.000 metrik ton. Namun untuk cadangan mineral langka ini, Amerika Serikat hanya menempati posisi ketujuh secara global yang mencapai sebesar 1,9 juta metrik ton.

Penambangan tanah jarang di AS saat ini hanya ada pada tambang Mountain Pass California, yang dimiliki oleh MP Materials (NYSE:MP). MDO melaporkan bahwa MP Materials "sedang membangun kemampuan hilir (Tahap III) di Fasilitas Fort Worth untuk mengubah sebagian dari REO yang diproduksi di Mountain Pass menjadi magnet tanah jarang dan produk prekursornya."

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah AS terus memperkuat industri tanah jarang di negara itu. Pada April 2024, di bawah Pemerintahan Biden, Departemen Energi AS mengalokasikan USD17,5 juta untuk pengembangan empat tanah jarang dan mineral kritis serta teknologi pemrosesan bahan yang akan menghasilkan tanah jarang dari batubara sekunder dan produk sampingan batubara sebagai bahan baku.

- Greenland

Cadangan tanah jarang: 1,5 juta metrik ton

Cadangan tanah jarang Greenland berjumlah 1,5 juta metrik ton, tetapi negara kepulauan itu saat ini tidak memproduksi logam. Namun memiliki dua proyek tanah jarang yang signifikan dengan cadangan besar, yakni proyek Tanbreez dan Kvanefjeld.

Pada Juli 2024, Critical Metals (NASDAQ:CRML) menyelesaikan Tahap 1 akuisisi saham pengendali dalam proyek Tanbreez dari perusahaan swasta Tanbreez Mining. Perusahaan memulai pengeboran pada proyek tersebut pada bulan September untuk lebih memahami model sumber daya dan masa pakai tambang yang diproyeksikan dari deposit yang terkandung di dalamnya.

Sementara itu, Energy Transition Minerals (ASX:ETM,OTC Pink:GDLNF) memiliki beberapa tantangan dengan pemerintah Greenland atas perizinan. Lisensinya untuk Kvanefjeld dicabut oleh pemerintah Greenland saat ini karena rencana perusahaan untuk mengeksploitasi uranium.

Perusahaan mengajukan perubahan rencana dengan mengesampingkan uranium, tetapi versi yang diperbarui juga ditolak pada September 2023. MDO melaporkan bahwa hingga Oktober 2024, perusahaan masih menunggu keputusan pengadilan atas bandingnya.

Baca Juga: AS Selangkah Lagi Segel Harta Karun Logam Tanah Jarang Ukraina

Dengan kembalinya Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Greenland (wilayah otonom Denmark) dan cadangan tanah jarang berada di radarnya. Namun, Perdana Menteri Greenland dan Raja Denmark telah menjelaskan bahwa Greenland tidak untuk dijual.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Rekomendasi
7 Fakta Menarik Inggris...
7 Fakta Menarik Inggris Buntu Lawan Ghana di Piala Dunia 2026: Harry Kane Mandul
Tanda-tanda Ponsel Anda...
Tanda-tanda Ponsel Anda sedang Diawasi yang Perlu Diketahui
Polisi Tangkap Taufik...
Polisi Tangkap Taufik Hidayat Penganiaya Pacar di Bandung lewat Transaksi Belanja
Berita Terkini
MSCI Tahan Status Emerging...
MSCI Tahan Status Emerging Market Indonesia, OJK Pastikan Reformasi Pasar Modal Jalan Terus
Hasil RUPST MNC Energy...
Hasil RUPST MNC Energy Investments untuk Tahun Buku 2025
Pasar Modal RI Terancam...
Pasar Modal RI Terancam Turun Kasta ke Frontier Market, MSCI Ultimatum hingga November 2026
240 BUMN Tak Produktif...
240 BUMN Tak Produktif Dibubarin Prabowo: Tidak Untung, Rugi Terus
Persaingan Pasar Game...
Persaingan Pasar Game Valorant, Intip Strategi Ekspansi Tokovalorant
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved