Dihantam Tarif Trump, Arus Modal Keluar dari Indonesia Capai Rp46,7 Triliun

Kamis, 24 April 2025 - 18:58 WIB
loading...
Dihantam Tarif Trump,...
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan, dampak langsung dari kebijakan tarif impor AS menyebabkan investor global cenderung mengalihkan portofolionya. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) , Perry Warjiyo menyampaikan, dampak langsung dari kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) bukan terletak pada perubahan fundamental, melainkan pada meningkatnya ketidakpastian global yang menyebabkan investor global cenderung mengalihkan portofolionya ke aset dan negara yang dianggap aman (safe haven).

Perry menjelaskan, bahwa indeks ketidakpastian seperti economic policy uncertainty dan trade policy uncertainty meningkat tajam, bahkan melebihi level awal pandemi Covid-19. Kondisi ini menyebabkan lonjakan risk premium di kalangan investor global, yang mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Sejak awal tahun hingga akhir Maret 2025, Indonesia masih mencatat net inflow sebesar USD 1,6 miliar, terutama ke instrumen SBN dan sekuritas rupiah Bank Indonesia. Namun, sejak pengumuman kebijakan tarif pada 2 April hingga 21 April, terjadi net outflow sebesar USD2,8 miliar (setara Rp46,7 triliun),” ujar Perry menjawab pertanyaan MNC Portal dalam konferensi hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Kamis (24/4/2025).

Baca Juga: Gubernur BI Perry Warjiyo Wanti-wanti Ancaman Perang Tarif AS-China

Menurut Perry, arus keluar tersebut tidak disebabkan oleh perbedaan imbal hasil (yield) antar negara, melainkan murni akibat ketidakpastian global dan naiknya risk appetite investor terhadap aset aman seperti obligasi pemerintah Eropa, Jepang, dan emas.

Terkait nilai tukar, Perry mengakui bahwa tekanan juga terjadi pada rupiah, seiring dengan tekanan terhadap mata uang negara berkembang lainnya. Pada puncaknya, selama libur Lebaran ketika pasar domestik tutup, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp17.400 di pasar offshore non-delivery forward (NDF).

Namun Bank Indonesia, kata Perry, merespons cepat dan tegas melalui intervensi di pasar NDF luar negeri serta pasar spot domestik.

“Sejak Rapat Dewan Gubernur 7 April 2025, kami melakukan intervensi 24 jam di berbagai pasar – Asia, Eropa, hingga New York. Alhamdulillah pada pembukaan pasar 8 April, rupiah menguat ke Rp16.865 dan saat ini stabil di kisaran Rp16.800,” ungkapnya.

BI memastikan bahwa stabilitas rupiah tetap terjaga sejalan dengan nilai fundamentalnya, didukung oleh imbal hasil aset domestik yang kompetitif, inflasi yang terkendali, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang positif.

“Kami optimis ke depan, nilai tukar rupiah akan tetap stabil. Bank Indonesia berkomitmen penuh menjaga stabilitas ini dengan respons kebijakan yang kuat dan terkoordinasi,” pungkas Perry.

Langkah-langkah yang dilakukan BI mendapat dukungan dari Kementerian Keuangan, termasuk dalam upaya meyakinkan investor global melalui komunikasi langsung yang dilakukan Menteri Keuangan Sri Mulyani di New York, dan Perry sendiri di Washington DC.

Baca Juga: Ketidakpastian Melonjak, IMF Keluarkan Peringatan Ekonomi Global

Hasilnya, kata Perry, investor disebut tetap melihat prospek ekonomi Indonesia secara positif, meski saat ini masih memilih untuk sementara menempatkan dananya di aset safe haven.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Optimisme Fiskal di...
Optimisme Fiskal di Tengah Warning Sign Ekonomi, Pemerintah Perlu Pulihkan Trust Market
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Demi Gencatan Dagang...
Demi Gencatan Dagang Berlanjut, China Beri Sinyal Terima Kenaikan Tarif AS
Membaca Peluang di Tengah...
Membaca Peluang di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Perempuan Pengusaha Tekankan Kolaborasi
ART RI-AS Dinilai Tidak...
ART RI-AS Dinilai Tidak Mencerminkan Prinsip Timbal Balik, Indonesia Tanggung Beban Lebih Besar
Polemik Tarif Resiprokal...
Polemik Tarif Resiprokal AS, Prabowo Tegaskan Tak Bakal Korbankan Kepentingan Nasional
Sikap Dewan Pers soal...
Sikap Dewan Pers soal Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia dan Amerika Serikat
Rekomendasi
Erick Thohir Terharu...
Erick Thohir Terharu Saksikan Pernikahan Justin Hubner dan Jennifer Coppen
UNCLOS 82, Strategi...
UNCLOS 82, Strategi Sea Denial Melawan AT Mahan
5 Peristiwa Politik...
5 Peristiwa Politik Pekan Ini: Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden, Prabowo Terima JK, hingga Mahasiswa Turun ke Jalan
Berita Terkini
Tren Paylater Makin...
Tren Paylater Makin Menjangkit, Literasi Keuangan Dinilai Jadi Faktor Penting
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Bocoran Isi Kesepakatan...
Bocoran Isi Kesepakatan AS-Iran: Barter Minyak, Aset Triliunan, hingga Senjata Nuklir
Pendaftaran Program...
Pendaftaran Program Magang ke Jepang Dibuka Kemnaker, Begini Caranya
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved