Wanita Terkaya di Australia Menguasai Harta Karun Tanah Jarang Rp13,1 Triliun

Senin, 05 Mei 2025 - 15:42 WIB
loading...
Wanita Terkaya di Australia...
Taipan pertambangan, Gina Rinehart merupakan pendukung dari segelintir perusahaan yang sedang mencoba mematahkan monopoli China pada logam tanah jarang. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Taipan pertambangan, Gina Rinehart merupakan pendukung dari segelintir perusahaan yang sedang mencoba mematahkan monopoli China pada logam tanah jarang . Di luar China, Ia adalah investor paling berpengaruh pada sektor rare earth yang menyandang gelar wanita terkaya di Australia .

Logam langka tanah jarang mungkin hanya sebagian kecil dari kekayaan miliarder Gina Rinehart dari sektor tambang yang diprediksi mencapai USD30 miliar. Melalui induk usaha Hancock Prospecting, Ia telah mengakuisisi perusahaan pengelola tanah jarang non-China.

Tanah jarang adalah sekelompok 17 elemen - yang dilabeli langka karena sulit untuk diekstraksi dan dimurnikan. Mineral ini menjadi primadona, lantaran peran pentingnya dalam pembuatan beragam peralatan elektronik canggih, mulai dari rudal hingga robot dan pemindai CT.

Baca Juga: Baca Misi Australia Meruntuhkan Dominasi China dalam Logam Tanah Jarang

Rinehart menguasai tumpukan anah jarang senilai USD800 juta setara Rp13,1 triliun (dengan kurs Rp16.405 per USD), termasuk 8,5% saham senilai USD317 juta di MP Materials (NYSE:MP), yang mengoperasikan satu-satunya tambang tanah jarang yang berfungsi di Amerika Serikat. Letaknya di Mountain Pass pada perbatasan California-Nevada.

MP Materials juga hampir selesai membangun sebuah pabrik di Fort Worth yang akan membuat magnet tanah jarang bertenaga tinggi untuk General Motors. Rinehart juga memiliki 8,2% atau USD430 juta dari Lynas Rare Earths (ASX:LYC), yang menambang deposit Mount Weld di Australia.

Lynas baru-baru ini ikut membuka pabrik pengolahan di Malaysia dan, ditambah dengan dukungan Departemen Pertahanan AS, perusahaan jug membangun pabrik di dekat Corpus Christi, Texas.

Selanjutnya Rinehart juga mengantongi kepemilikan yang lebih kecil termasuk 10% dari Arafura (ASX:ARU), yang mendapat dukungan dari pemerintah untuk proyek penambangan Nolans di dekat Alice Springs, Australia. Ditambah 6% dari Brazilian Rare Earths (ASX:BRE), perusahaan Australia lainnya dengan penemuan mengesankan di timur laut Brasil.

Rinehart, (71 tahun) telah mendorong rasionalisasi industri, untuk bersaing lebih baik dengan China. Tahun lalu dia mendukung pembicaraan merger yang gagal antara Lynas dan MP.

Kedua perusahaan dalam beberapa pekan terakhir telah mengumumkan bahwa dalam menghadapi tarif Trump yang tidak pasti, mereka akan menghentikan pengiriman konsentrat tanah jarang untuk diproses di China dan sebagai gantinya akan menimbunnya.

"Menjual bahan-bahan penting ini di bawah tarif 125% tidak rasional secara komersial atau selaras dengan kepentingan nasional," tulis juru bicara anggota parlemen, Matt Sloustcher pada pekan lalu.

Baca Juga: Miliarder Wanita Terkaya Australia Berburu Saham Produsen Lithium

Sementara itu Presiden AS Donald Trump pada bulan Januari menandatangani Undang-Undang Darurat Energi, yang bertujuan mempercepat kapasitas pemrosesan tanah jarang di Amerika Serikat untuk meruntuhkan monopoli China. Pekan lalu Menteri Dalam Negeri, Doug Burgum mengumumkan program Fast-41, yang mendukung 12 proyek penambangan untuk tembaga, lithium, antimon, dan mineral kritis lainnya.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Elon Musk Jadi Kuadriliuner...
Elon Musk Jadi Kuadriliuner Pertama di Dunia, Seberapa Banyak Uangnya?
Gaya Hidup Miliarder,...
Gaya Hidup Miliarder, Begini Cara Keluarga Trump Membelanjakan Hartanya
One Global Capital Gelar...
One Global Capital Gelar Roadshow, Hadir di Kota Utama Indonesia dan Asia
Daftar Negara dengan...
Daftar Negara dengan Cadangan Mineral Tanah Jarang Terbesar Dunia, Ada Tetangga Indonesia
Trump Bawa Pasukan Miliarder...
Trump Bawa Pasukan Miliarder Terkaya Rp15.097 Triliun ke China, Apa Misinya ke Beijing?
One Global Capital Perluas...
One Global Capital Perluas Portofolio Resor melalui Hotel Butik di Parramatta
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Alwi Farhan Juara Australia...
Alwi Farhan Juara Australia Open 2026, Indonesia Bawa Pulang 1 Gelar dan 2 Runner Up
Rekomendasi
Anang Hermansyah Kompak...
Anang Hermansyah Kompak Wisuda Bareng Ashanty dan Azriel di UNAIR, Raih Gelar S2 dan S3
BMKG Deteksi Siklon...
BMKG Deteksi Siklon Tropis Mekkhala, Ingatkan Potensi Hujan Lebat
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
Berita Terkini
Industri Herbal Andalkan...
Industri Herbal Andalkan Figur Publik Perkuat Kepercayaan Konsumen
Tamaris Hidro Bidik...
Tamaris Hidro Bidik Dana Rp1 Triliun lewat Sukuk Ijarah
Dukung Pendanaan UMKM,...
Dukung Pendanaan UMKM, Easycash Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko
Harga Emas Antam Stagnan...
Harga Emas Antam Stagnan Hari Ini, Buyback Jadi Rp2,4 Juta per Gram
Transformasi Ekonomi...
Transformasi Ekonomi Progresif, Kepala BPS Canangkan Sensus Ekonomi di Maluku Utara
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung Literasi Pasar Modal melalui Seminar Nasional 'Lo Kheng Hong Investment Philosophy'
Infografis
El Clasico di Tanah...
El Clasico di Tanah Borneo: Misi Persija Putus Dominasi Persib
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved