Asia Berpotensi Buang Dolar AS Rp41.300 Triliun, Ancaman Besar bagi Amerika

Sabtu, 10 Mei 2025 - 21:20 WIB
loading...
Asia Berpotensi Buang...
Negara-negara Asia berpotensi melepas kepemilikan triliunan dolar Amerika Serikat. FOTO/Contribune
A A A
JAKARTA - Negara-negara Asia berpotensi melepas kepemilikan dolar Amerika Serikat (AS) senilai USD2,5 triliun atau setara Rp41.300 triliun. Langkah ini diperkirakan akan menjadi bagian dari gelombang dedolarisasi global yang semakin kuat, terutama dari negara-negara BRICS dan negara berkembang lainnya.

CEO Eurizon SLJ Capital Stephen Jen menyebut potensi ini sebagai "longsoran salju" pelepasan dolar oleh eksportir dan investor institusional Asia yang selama bertahun-tahun telah menimbun mata uang tersebut.

"Kami menduga penimbunan dolar oleh eksportir dan investor Asia sangat besar, mungkin sekitar USD2,5 triliun atau lebih. Ini bisa menjadi risiko besar bagi dolar terhadap mata uang-mata uang Asia," ujar Jen dalam wawancara dengan Bloomberg, dikutip dari Watcher Guru, Sabtu (10/5).

Baca Juga: Warren Buffett: Dolar AS Sedang Menuju ke Neraka

Indeks mata uang Bloomberg menunjukkan dolar AS telah melemah sekitar 8% sejak Februari, sementara mata uang-mata uang Asia menunjukkan penguatan signifikan. Hal ini semakin mendorong agenda dedolarisasi oleh negara-negara BRICS serta mitra strategis lainnya di kawasan Asia.

Menurut Jen, pergeseran kekuatan ekonomi global dan ketidakseimbangan perdagangan telah menempatkan dolar AS pada posisi rentan yang bisa menjadi ancaman bagi Amerika. Mata uang lokal kini dianggap lebih menarik, karena tidak dibebani utang dan dapat memperkuat produk domestik bruto (PDB) masing-masing negara dalam perdagangan bilateral.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Akar Pelemahan Rupiah...
Akar Pelemahan Rupiah Dibeberkan Chatib Basri, Kredibilitas Fiskal Jadi Kunci
Kenaikan Kurs Dolar...
Kenaikan Kurs Dolar dan Harga Energi Hantam Industri Galangan Kapal Nasional
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Rekor Terburuk Lagi,...
Rekor Terburuk Lagi, Rupiah Tembus Rp18.187 per Dolar AS Sore Ini
China Luncurkan Alat...
China Luncurkan Alat Pelacak Kapal Selam Nuklir, Bakal Ubah Perang Masa Depan
AS Diskriminatif, Cabut...
AS Diskriminatif, Cabut Kuota Tiket Suporter Timnas Iran di Piala Dunia 2026
Drone Iran Gempur Armada...
Drone Iran Gempur Armada Kelima AS di Bahrain
Rekomendasi
Selain Resmikan RSUD,...
Selain Resmikan RSUD, Prabowo Diagendakan Menghadiri Munas Hipmi di Lampung
Namanya Terseret Kasus...
Namanya Terseret Kasus Dugaan Suap Impor Bea Cukai, Raffi Ahmad Buka Suara
Trump Akui AS Balas...
Trump Akui AS Balas Penembakan Helikopter oleh Iran, Meski Awalnya Meremehkan
Berita Terkini
Harga BBM Makin Mahal,...
Harga BBM Makin Mahal, Beban Bisnis Logistik Bakal Tambah Berat
Harga Pertamax Rp16.250...
Harga Pertamax Rp16.250 Bikin Pusing, Pengemudi Ojol dan Warga Teriak
IHSG Tergelincir di...
IHSG Tergelincir di Awal Sesi Sentuh 5.744, Transaksi Pagi Cetak Rp1,1 T
Kilau Emas Antam Kembali...
Kilau Emas Antam Kembali Meredup, Hari Ini Turun Rp20 Ribu ke Rp2.713.000 per Gram
Gencatan Senjata Gagal!...
Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1% saat AS Kembali Gempur Iran
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved