Rupiah Hari Ini Terkapar ke Rp17.907 per Dolar AS, Analis Ungkap Sebabnya
Selasa, 30 Juni 2026 - 16:25 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Selasa (30/6/2026) dengan penurunan 56 poin atau sekitar 0,31% ke posisi Rp17.907 per dolar AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Selasa (30/6/2026) dengan penurunan 56 poin atau sekitar 0,31% ke posisi Rp17.907 per dolar AS. Tren pelemahan mata uang Garuda juga terlihat pada data JISDOR BI, dimana bertengger pada level Rp17.899, atau lebih rendah dari sebelumnya Rp17.856 per USD.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni pasar mengamati hasil potensi pembicaraan AS-Iran di Doha di tengah serangan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak yang menguji gencatan senjata.
“Para ahli Iran dan Oman akan memulai pembicaraan tentang pendefinisian ulang jalur transit melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang, kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi kepada televisi pemerintah pada hari Senin, menambahkan bahwa negaranya akan mencoba untuk menghalangi kapal di luar jalur yang telah ditentukan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Ekonom Bank Mandiri Ungkap Kunci Penguatan Rupiah dan Rebound IHSG, Fundamental Ekonomi Solid
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan tidak akan ada pertemuan negosiasi di tingkat mana pun dengan pihak Amerika dalam beberapa hari mendatang. "Pertemuan di Doha mungkin penting, mungkin juga tidak. Kita akan mengetahuinya," kata Presiden AS Donald Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Ketidakpastian mengenai apakah kedua pihak akan bertemu menyoroti kerapuhan kesepakatan 17 Juni untuk menghentikan pertempuran yang telah mengganggu aliran minyak global melalui Selat Hormuz dan menimbulkan tantangan politik bagi Trump menjelang pemilihan kongres November mendatang. Israel belum bergabung dalam pembicaraan perdamaian AS-Iran dan telah menjauhkan diri dari kesepakatan tersebut.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni pasar mengamati hasil potensi pembicaraan AS-Iran di Doha di tengah serangan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak yang menguji gencatan senjata.
“Para ahli Iran dan Oman akan memulai pembicaraan tentang pendefinisian ulang jalur transit melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang, kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi kepada televisi pemerintah pada hari Senin, menambahkan bahwa negaranya akan mencoba untuk menghalangi kapal di luar jalur yang telah ditentukan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Ekonom Bank Mandiri Ungkap Kunci Penguatan Rupiah dan Rebound IHSG, Fundamental Ekonomi Solid
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan tidak akan ada pertemuan negosiasi di tingkat mana pun dengan pihak Amerika dalam beberapa hari mendatang. "Pertemuan di Doha mungkin penting, mungkin juga tidak. Kita akan mengetahuinya," kata Presiden AS Donald Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Ketidakpastian mengenai apakah kedua pihak akan bertemu menyoroti kerapuhan kesepakatan 17 Juni untuk menghentikan pertempuran yang telah mengganggu aliran minyak global melalui Selat Hormuz dan menimbulkan tantangan politik bagi Trump menjelang pemilihan kongres November mendatang. Israel belum bergabung dalam pembicaraan perdamaian AS-Iran dan telah menjauhkan diri dari kesepakatan tersebut.
Lihat Juga :