Tarif Trump Akhirnya Luluh, Berikut Kronologi Perang Dagang AS dan China

Selasa, 13 Mei 2025 - 12:54 WIB
loading...
Tarif Trump Akhirnya...
Kebijakan tarif Trump semakin memanaskan perang dagang antara AS dan China, berikut kronologi hingga kedua negara akhirnya sepakat melonggarkan tarif. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Sejak kembali menjabat, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengumumkan serangkaian tarif untuk mencoba mengubah ekonomi global. Kebijakan tarif Trump semakin memanaskan perang dagang AS dan China yang telah berkecambuk dalam beberapa tahun terakhir.

Namun perang dagang Amerika Serikat dan China memasuki babak baru, ketika kedua negara sepakat melonggarkan tarif impor secara drastis selama 90 hari sebagai hasil negosiasi akhir pekan lalu di Jenewa, Swiss.

Kesepakatan ini terungkap dalam pernyataan bersama pada Senin, 12 Mei 2025. Dimana AS bakal memangkas tarif produk China dari 145% menjadi 30%. Sementara China menurunkan tarif produk AS dari 125% menjadi 10%.

Baca Juga: AS dan China Sepakat Hentikan Gencatan Perang Dagang selama 90 Hari

Tarif baru ini bakal mulai berlaku paling lambat pada 14 Mei 2025. Meski bersifat sementara, kesepakatan ini menjadi penting sejak perang dagang bergejolak yang dimulai beberapa tahun lalu.

Kedua negara menyebutkan kesepakatan ini sebagai upaya membangun hubungan dagang jangka panjang yang saling menguntungkan. Negosiasi ini dimpin oleh Menteri Keuangan Scott Bessent, Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer dan Wakil PM China, He Lifeng.

Hubungan perdagangan antara AS dan China naik turun, ketika Trump memberlakukan tarif terberatnya hingga saat ini terhadap puluhan mitra dagang AS sebelum secara tiba-tiba membalikkan keputusan tersebut selama 90 hari untuk setiap negara kecuali China. Tapi pada awal pekan kemarin, Ia menghentikan sementara tarif terhadap China dan menurunkannya.

Berikut kronologis perang tarif AS dan China pada tahun 2025.

1 Februari
Semuanya diawali pada 1 Februari lalu, ketika AS memberlakukan tarif dasar 10% kepada semua produk impor dari semua negara mitra dagang Negeri Paman Sam -julukan AS-.

4 Februari
Kebijakan AS itu langsung direspons China dengan penerapan tarif 10% untuk gas, batu bara dan beberapa komoditas pertanian.

10 Februari
Tidak berhenti sampai disitu, AS lantas memperluas kebijakan tarif impor dengan menyasar kepada produk baja dan alumunium. AS saat itu mematok tarif tinggi mencapai 25%.

4 Maret
China kembali menerapkan aksi balasan lewat tarif 10% kepada produk makanan dan minuman dari AS, ditambah barang-barang pertanian.

26 Maret
Tarif AS belum berakhir, bahkan kali ini membidik kepada produsen mobil dan onderdil kendaraan.

April
- Pada bulan ini AS menaikkan tarif secara teratur, mulai dari 54% (2 April), 104% (8 April), 145% (9 April), hingga akhirnya turun 30% (12 Mei)

- Sejalan dengan hal tersebut, tarif impor China untuk produk AS juga merayap naik pada 4 April menjadi 34%, lalu 84% (di 9 April), sampai puncaknya menyentuh angka 125% (9 April). Sampai pada awal pekan kemarin 12 Mei, China sepakat memangkas tarifnya untuk AS menjadi hanya 10%.

Baca Juga: Amerika Serikat Dibayangi Ancaman Gagal Bayar Utang Rp594.120 Triliun, Kapan Terjadinya?

Aksi perdagangan AS telah diterapkan secara tidak konsisten dan menciptakan fluktuasi liar di pasar serta ketegangan baru di antara beberapa mitra dagang terdekat Amerika. Kondisi tersebut memicu berbagai peringatan dari para ekonom tentang kemungkinan penurunan ekonomi hingga tekanan terhadap konsumen hingga akhirnya perang dagang AS dan China mulai mereda.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Demi Gencatan Dagang...
Demi Gencatan Dagang Berlanjut, China Beri Sinyal Terima Kenaikan Tarif AS
China Terus Perkuat...
China Terus Perkuat Militer, AS Ajak Sekutu Melawan Beijing
Pertemuan Xi Jinping...
Pertemuan Xi Jinping dan Trump Gagal Buat Terobosan Perang Iran, Ini 3 Faktanya
ART RI-AS Dinilai Tidak...
ART RI-AS Dinilai Tidak Mencerminkan Prinsip Timbal Balik, Indonesia Tanggung Beban Lebih Besar
Rekomendasi
50 Tokoh Pasang Badan...
50 Tokoh Pasang Badan untuk Roy Suryo, Din Syamsuddin dan Oegroseno Ikut Jadi Penjamin
Perkuat Akuntabilitas...
Perkuat Akuntabilitas Keuangan Daerah, BSKDN Libatkan Akademisi dalam Validasi IPKD
Indro Warkop Gaungkan...
Indro Warkop Gaungkan Pesan Hidup Sehat Lewat Kebiasaan Harian
Berita Terkini
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved