AS Potong Tarif Barang-barang Receh China dari 120% Jadi 54%

Selasa, 13 Mei 2025 - 21:59 WIB
loading...
AS Potong Tarif Barang-barang...
AS memangkas tarif impor untuk paket-paket kecil yang dikirim dari China dan Hong Kong. FOTO/SCMP
A A A
JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan pemangkasan tarif impor untuk paket-paket kecil yang dikirim dari China dan Hong Kong. Tarif yang sebelumnya mencapai 120% kini diturunkan menjadi 54%. Keputusan ini diambil beberapa jam setelah Washington dan Beijing sepakat untuk melakukan jeda selama 90 hari dalam perang dagang yang berkepanjangan.

Presiden AS, Donald Trump, menandatangani perintah eksekutif yang mengurangi lebih dari separuh pungutan tersebut. Pungutan ini diberlakukan awal bulan ini untuk menutup celah "de minimis" yang memungkinkan barang-barang bernilai rendah masuk ke AS tanpa dikenakan biaya impor. Istilah "de minimis" berasal dari frasa Latin yang berarti tidak terlalu penting, yang mengizinkan barang-barang dengan nilai hingga USD800 untuk masuk tanpa pemeriksaan dan bea masuk.

Kebijakan ini telah mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan fast fashion yang mengimpor barang dari China, seperti Shein dan Temu. Pada Februari, Trump berupaya menutup celah ini dengan memberlakukan pajak 120% untuk paket dari China atau biaya tetap sebesar USD100 akan tetap berlaku tanpa kenaikan menjadi USD200 yang sebelumnya direncanakan.

Pengumuman ini muncul setelah Trump memuji pengaturan ulang total dalam hubungan dagang AS-China, di mana kedua negara sepakat untuk mengurangi tarif mereka masing-masing menjadi 30% dan 10%. "Mereka telah setuju untuk membuka diri terhadap China," ungkap Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (13/5).

Baca Juga: Jeda Perang Tarif AS-China, 3 Miliarder Dunia Ini Panen Untung Ratusan Triliun

Meskipun ada harapan positif, pasar saham AS menunjukkan pembukaan yang lebih rendah pada hari Selasa, setelah gencatan senjata yang awalnya mendorong kenaikan saham di Wall Street. Analis senior di Swissquote Bank Ipek Ozkardeskaya, menyatakan ketidakpastian mengenai langkah selanjutnya setelah jeda 90 hari akan membuat banyak perusahaan menunda keputusan investasi.

Sebagai bagian dari detente ini, China dilaporkan telah mencabut larangan pengiriman pesawat Boeing selama sebulan. Para ekonom di Goldman Sachs juga memangkas kemungkinan resesi AS dalam 12 bulan ke depan menjadi 35%, dari sebelumnya 45%. Mereka memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS akan mencapai 1% pada 2025, dua kali lipat dari proyeksi sebelumnya.

Kebijakan perdagangan de minimis, yang diperkenalkan pada 1930-an, awalnya ditujukan untuk memudahkan pelancong yang kembali ke AS. Namun, kebijakan ini kini menjadi sasaran kritik dari anggota parlemen dari kedua partai, karena jumlah pengiriman yang masuk melalui cara ini meningkat pesat, dengan lebih dari 90% paket tiba melalui de minimis, dan sekitar 60% di antaranya berasal dari China.

Baca Juga: Macron Dituding Bawa Kokain saat ke Ukraina, Ini Kata Pemerintah Prancis

Sejumlah pihak mengkhawatirkan celah ini memungkinkan produk murah dari China membanjiri pasar AS, melemahkan industri lokal, dan berpotensi menjadi sarana penyelundupan barang ilegal. Merek kosmetik asal Inggris, Revolution Beauty, menyambut baik gencatan senjata ini, mengingat hampir seperempat penjualannya berasal dari pasar AS dengan 60% produk yang dijual di AS diproduksi di China.

Sebuah survei oleh Bank of America menunjukkan bahwa 61% manajer investasi kini memperkirakan ekonomi AS akan mengalami soft landing, meningkat dari 37% pada bulan April, sementara prediksi untuk hard landing menurun menjadi 26%.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Trump: AS Tidak akan...
Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
Rekomendasi
Guntur Romli Tepis Tuduhan...
Guntur Romli Tepis Tuduhan BEM Bersatu: Kegilaan Logika Cocokologi yang Dipaksakan
Syiar Islam Harus Dekat...
Syiar Islam Harus Dekat dengan Masyarakat
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Berita Terkini
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
Menteri PU Tinjau IPTC,...
Menteri PU Tinjau IPTC, Nindya Karya Dukung Penambahan Fasilitas Atlet Difabel
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
MANU dan Universitas...
MANU dan Universitas Jember Kolaborasi Perkuat Pengembangan SDM Pertanian
Ini Jenis Produk Sawit...
Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
Infografis
Profil Letjen TNI Robi...
Profil Letjen TNI Robi Herbawan, Ajudan Prabowo yang Jadi Kabais TNI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved