Memaksimalkan Etos Kerja Agar Tak Kalah dalam Persaingan
Sabtu, 17 Mei 2025 - 12:23 WIB
loading...
Membangun etos kerja menjadi poin penting bagi para pekerja lokal di tengah keterbukaan persaingan saat investasi asing masuk dari berbagai negara. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Membangun etos kerja menjadi poin penting bagi para pekerja lokal di tengah keterbukaan persaingan saat investasi asing masuk dari berbagai negara. Maka untuk mendapatkan kepercayaan investor agar memakai tenaga kerja dalam negeri, pembangunan etos kerja menjadi sebuah keharusan demi meningkatkan daya saing pekerja Indonesia.
“Ada etika yang semestinya menjadi pemicu tenaga kerja lokal untuk menaruh kepercayaan kepada perusahaan tempat bekerja. Nah, etika kerja inilah yang kerap diabaikan,” ujar Elizabeth Pisciliaruntu, entrepreneur yang juga seorang pengacara saat menggelar “Diskusi dan Etos dalam Bekerja” di Jakarta.
Baca Juga: Persaingan Dunia Kerja, Ini 10 Skill yang Wajib Dimiliki Mahasiswa pada 2025
Diskusi yang digelar ini, merupakan bentuk keperdulian dari kantor hukum Elizabeth Pisciliaruntu & Partners. Apalagi visi pemerintah dalam membangun Indonesia Emas 2045 dan berharap ada suatu gebrakan daya saing pekerja Indonesia.
![Memaksimalkan Etos Kerja Agar Tak Kalah dalam Persaingan]()
Menyadari membangun kesadaran bukan perkara mudah, Elizabeth menekankan, perbaikan harus dibentuk dari sekarang, jika tidak ingin tenaga kerja asing akan mendominasi. “Sedih kalau akhirnya perusahaan terpaksa menerapkan ketentuan peluang tenaga asing,” ujarnya.
Ia memberikan contoh, misalnya tidak percaya diri karena merasa kerjanya selalu diawasi sehingga terancam masa kerjanya berakhir atau PHK. “Bahkan ada yang karena merasa pekerja tersebut adalah warga sekitar yang kerja semaunya dan akhirnya justru akan mengganggu produksi industri,” ujarnya.
Hasil diskusi dengan beberapa perusahaan, Elizabeth membeberkan, sebenarnya ada kemauan memberikan upah layak, namun dengan catatan tenaga kerja lokal bisa bekerja sesuai dengan target. “Karena kinerja sehingga seharusnya bisa dikerjakan satu orang, akhirnya mesti dua orang. Dan akhirnya cost gaji membengkak,” ujarnya.
Elizabeth yang juga berprofesi sebagai pengacara ini memaparkan, beberapa klien hukumnya dari perusahaan banyak mengeluhkan kinerja tenaga lokal dan akhirnya memilih tenaga kerja asing. Padahal perusahaan berkeinginan merekrut tenaga lokal untuk pemberdayaan dan mengurangi angka penggangguran di Indonesia.
Atas dasar itulah, Ia mencoba mencari tahu permasalahan tenaga kerja Indonesia yang tenyata beragam. Dari soal syarat dan peraturan lapangan kerja, Informasi ke masyarakat. “Dan yang sering banget, mesti ada orang dalam yang diutamakan jika ingin bekerja,” ujar Elizabeth.
Dihadapan calon tenaga kerja yang ikut diskusi dan akan dipersiapkan di perusahaan kliennya itu, Elizabeth mengatakan, mitos usia dan orang dalam jangan dijadikan kekhawatiran tenaga kerja. Menurutnya, yang paling penting adalah upgrade diri dan kemampuan. “Karena saat ini semua sudah digantikan oleh mesin. Belajar dan belajar,” ujarnya.
“Jika kita belajar, pasti kita akan menguasai teknologi agar tidak kalah dalam dunia pekerjaan,” ujarnya.
Katanya lagi, tenaga kerja harus bisa membalikan pola pikir, bahwa tempat kerja adalah sekolah dan tempat belajar dalam kehidupan. Kemudian, harus belajar memahami sesama, beradaptasi dengan lingkungan, belajar berkomunikasi yang baik.
“Dan belajar menghadapi orang dan menyelesaikan masalah, dan sebagai bonusnya adalah uang yang berbentuk gaji,” ujarnya.
Baca Juga: Berbincang dengan Penerima LPDP di Jerman, Menko PMK: Belajar Juga Soal Etos Kerja Negara Maju
“Etos kerja dimaksimalkan agar tidak kalah dalam persaingan dalam dunia kerja yang semakin ketat. Agar peluang bekerja juga terbuka, sehingga perusahaan atau investor merasa nyaman dan tidak was-was untuk memacu produksinya. Dan pasti industri peduli dengan kehidupan karyawannya,” ujar Elizabeth.
“Ada etika yang semestinya menjadi pemicu tenaga kerja lokal untuk menaruh kepercayaan kepada perusahaan tempat bekerja. Nah, etika kerja inilah yang kerap diabaikan,” ujar Elizabeth Pisciliaruntu, entrepreneur yang juga seorang pengacara saat menggelar “Diskusi dan Etos dalam Bekerja” di Jakarta.
Baca Juga: Persaingan Dunia Kerja, Ini 10 Skill yang Wajib Dimiliki Mahasiswa pada 2025
Diskusi yang digelar ini, merupakan bentuk keperdulian dari kantor hukum Elizabeth Pisciliaruntu & Partners. Apalagi visi pemerintah dalam membangun Indonesia Emas 2045 dan berharap ada suatu gebrakan daya saing pekerja Indonesia.

Menyadari membangun kesadaran bukan perkara mudah, Elizabeth menekankan, perbaikan harus dibentuk dari sekarang, jika tidak ingin tenaga kerja asing akan mendominasi. “Sedih kalau akhirnya perusahaan terpaksa menerapkan ketentuan peluang tenaga asing,” ujarnya.
Ia memberikan contoh, misalnya tidak percaya diri karena merasa kerjanya selalu diawasi sehingga terancam masa kerjanya berakhir atau PHK. “Bahkan ada yang karena merasa pekerja tersebut adalah warga sekitar yang kerja semaunya dan akhirnya justru akan mengganggu produksi industri,” ujarnya.
Hasil diskusi dengan beberapa perusahaan, Elizabeth membeberkan, sebenarnya ada kemauan memberikan upah layak, namun dengan catatan tenaga kerja lokal bisa bekerja sesuai dengan target. “Karena kinerja sehingga seharusnya bisa dikerjakan satu orang, akhirnya mesti dua orang. Dan akhirnya cost gaji membengkak,” ujarnya.
Elizabeth yang juga berprofesi sebagai pengacara ini memaparkan, beberapa klien hukumnya dari perusahaan banyak mengeluhkan kinerja tenaga lokal dan akhirnya memilih tenaga kerja asing. Padahal perusahaan berkeinginan merekrut tenaga lokal untuk pemberdayaan dan mengurangi angka penggangguran di Indonesia.
Atas dasar itulah, Ia mencoba mencari tahu permasalahan tenaga kerja Indonesia yang tenyata beragam. Dari soal syarat dan peraturan lapangan kerja, Informasi ke masyarakat. “Dan yang sering banget, mesti ada orang dalam yang diutamakan jika ingin bekerja,” ujar Elizabeth.
Dihadapan calon tenaga kerja yang ikut diskusi dan akan dipersiapkan di perusahaan kliennya itu, Elizabeth mengatakan, mitos usia dan orang dalam jangan dijadikan kekhawatiran tenaga kerja. Menurutnya, yang paling penting adalah upgrade diri dan kemampuan. “Karena saat ini semua sudah digantikan oleh mesin. Belajar dan belajar,” ujarnya.
“Jika kita belajar, pasti kita akan menguasai teknologi agar tidak kalah dalam dunia pekerjaan,” ujarnya.
Katanya lagi, tenaga kerja harus bisa membalikan pola pikir, bahwa tempat kerja adalah sekolah dan tempat belajar dalam kehidupan. Kemudian, harus belajar memahami sesama, beradaptasi dengan lingkungan, belajar berkomunikasi yang baik.
“Dan belajar menghadapi orang dan menyelesaikan masalah, dan sebagai bonusnya adalah uang yang berbentuk gaji,” ujarnya.
Baca Juga: Berbincang dengan Penerima LPDP di Jerman, Menko PMK: Belajar Juga Soal Etos Kerja Negara Maju
“Etos kerja dimaksimalkan agar tidak kalah dalam persaingan dalam dunia kerja yang semakin ketat. Agar peluang bekerja juga terbuka, sehingga perusahaan atau investor merasa nyaman dan tidak was-was untuk memacu produksinya. Dan pasti industri peduli dengan kehidupan karyawannya,” ujar Elizabeth.
(akr)
Lihat Juga :