Alasan AS Sulit Kalahkan China Sebagai Penguasa Harta Karun Logam Tanah Jarang

Rabu, 21 Mei 2025 - 14:35 WIB
loading...
Alasan AS Sulit Kalahkan...
China telah membangun keunggulan yang tidak tertandingi dengan memproduksi pasokan mineral murah dan berkualitas tinggi dalam skala besar untuk harta harun logam tanah jarang. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - China pada bulan lalu memberlakukan pengetatan ekspor untuk mineral langka logam tanah jarang dan magnet. Secara resmi hal ini bukanlah larangan, akan tetapi pada praktiknya membuat pengiriman rare earth atau logam tanah jarang berhenti.

Ini bukan masalah kecil, mengingat kepemimpinan teknologi Amerika Serikat (AS), militer, dan ambisi energi bersih semuanya bergantung pada tanah jarang. Gangguan terbaru ini mengungkap kerentanan, dimana China membangun dominasi pada mineral langka yang memainkan peran strategis ini selamabertahun-tahun.

Tanpa aksi segera untuk membangun kembali basis industri, mendorong inovasi, dan melatih tenaga kerja yang terampil, maka AS berpotensi kehilangan keunggulan ekonomi dan militer.

Baca Juga: 5 Negara Penguasa Harta Karun Logam Tanah Jarang di Dunia

Jepang menjadi contoh ketika pada 2010 terlibat konflik maritim dengan China, hingga memicu perebutan untuk membangun rantai pasokan alternatif. Tokyo menginvestasikan sumber daya mereka ke dalam penambangan baru, dan substitusi material.

Namun meskipun dengan keahlian teknis yang terus terasah, kepemilikandi produsen rare earth Malaysia Lynas, dan ketergantungan China pada industri Jepang untuk komponen rare earth canggih, Jepang tidak bisa lepas dari pasokan China. Ditambah mereka memiliki pengaruh lebih besar pada saat itu dibandingkan dengan apa yang dimiliki AS saat ini. China ketika itu bergantung pada impor komponen Jepang yang dibuat dari rare earth.

Jepang belajar sebuah fakta sederhana dengan cara yang sulit: China telah membangun keunggulan yang tidak tertandingi dengan memproduksi pasokan mineral murah dan berkualitas tinggi dalam skala besar. Menirunya membutuhkan waktu puluhan tahun dan bahan yang diproduksi di luar China akan selalu lebih mahal.

Dominasi China tidak terhindarkan dan itu merupakan hasil dari tiga dekade kebijakan industri yang berdedikasi dan komitmen strategis. Lebih dari 30 tahun yang lalu, China mengimpor kemampuan pengolahan unsur tanah jarang yang dikembangkan di AS dan Eropa.

Pada awalnya, perusahaan-perusahaan China berjuang keras mencocokkan efisiensi Barat. Namun melalui eksperimen berkelanjutan dan perbaikan bertahap, perusahaan China mulai menguasai teknik-teknik yang tidak dapat diajarkan oleh buku teks terkait presisi asam, panas, dan waktu yang mengubah batu mentah menjadi material berkinerja tinggi.

Mereka kemudian menyesuaikan teknik-teknik tersebut dengan realitas lokal. Sebagai contoh, China menjadi pionir metode ekstraksi berbasis asam klorida yang kompatibel dengan infrastruktur biaya rendah seperti polivinil klorida, atau PVC, dan fiberglass, menghindari kebutuhan akan baja tahan karat yang mahal yang digunakan Barat.

Dan ketika paten magnet tanah jarang internasional yang penting kedaluwarsa, mereka dengan cepat meningkatkan produksi magnet-setelah mempelajari atau melisensikan teknologi tersebut melalui institut yang didukung pemerintah.

Tujuannya bukanlah kekayaan dari bahan baku tanah jarang itu sendiri. Lagi pula pasar tanah jarang hanya sedikit lebih besar dari pasar keju vegan atau air tonik; tidak berarti dibandingkan dengan produk domestik bruto China.

Tapi sebaliknya, China melihat bahan-bahan ini sebagai fondasi bagi ambisi teknologi tingginya-mulai dari mobil listrik dan turbin angin, hingga sistem misil dan MRI. Jadi mereka menginvestasikan waktu dan modal yang sangat besar terlebih dahulu dalam pasokan domestik, kemudian menangkap aliran global.

Keunggulan material yang dimiliki menjadi dorongan bagi manufaktur China-tidak hanya memproduksi material tersebut, tetapi China juga semakin banyak mengkonsumsinya. Menempatkan fasilitas pemrosesan dekat dengan pelanggan akhir memungkinkan lebih cepat dan umpan balik yang lebih ketat, mempercepat desain produk. Ini adalah keunggulan yang hanya dapat diberikan oleh kedekatan.

Dalam waktu singkat, China mendominasi bukan hanya produksi tanah jarang, tetapi juga pembuatan magnet dan industri hulu lainnya yang dibangun di atas fondasi logam tanah jarang.

"Semuanya yang bisa Anda nyalakan atau matikan kemungkinan besar berjalan dengan elemen tanah jarang," jelas Thomas Kruemmer, Direktur Perdagangan dan Investasi Internasional Ginger seperti dilansir BBC.

Industri Kotor

Pada saat yang sama, Barat melihat pembuatan logam sebagai industri kotor, yang siap untuk dialihkan ke luar. Banyak fasilitas rare earth memproduksi jumlah limbah sangat besar selain elemen radioaktif. Penambangan merupakan sesuatu yang sulit dijual kepada komunitas lokal.

Bahkan banyak negara memberlakukan undang-undang ketat untuk membatasi penambangan tanah jarang. Sedangkan China dibantu hampir oleh 40 universitas yang mengkhususkan diri dalam metalurgi ekstraktif dan 40 universitas lainnya dalam pengolahan mineral. Di AS, jumlah itu disebut nol.

Ketergantungan kepada China memiliki konsekuensi, dimana kondisi ini memperlambat kemampuan suatu negara untuk membangun kembali kapasitas dan membuatnya semakin sulit untuk mengalahkan harga produksi China dengan spesifikasi ketat yang diperlukan industri.

Pasalnya unsur langka digunakan dalam produk yang sangat khusus -mulai dari motor, mobil, iPhone, aktuator rudal, dan banyak lagi lainnya-, maka penjual perlu berkualitas cukup untuk menunjukkan bahwa mereka dapat terus memproduksi produk dengan spesifikasi tinggi. Hal ini masih hampir semuanya ada di China.

China dapat memproduksi satu kilogram dysprosium, material yang mengubah magnet super kuat menjadi magnet tahan panas yang dapat digunakan dalam produk teknologi tinggi dari robot hingga mobil listrik, dengan biaya di bawah USD250.

Meniru rantai pasokan tersebut di tempat lain akan menghabiskan miliaran dolar - dan tetap menghasilkan material dengan biaya lebih tinggi. Itu pun dengan anggapan, AS dapat membangun pabrik tersebut: sedangkan Cina juga menguasai pembuatan peralatan khusus yang diperlukan untuk infrastruktur semacam itu.

Ditambahmeskipun AS dapat mengatasi ketertinggalan mereka untuk urusan teknologi dan membangun fondasi rantai pasokan domestik. Namun tetap saja tidak bisa mengimbangi kapasitas berlebih China yang sangat besar.

Baca Juga: Misi Australia Meruntuhkan Dominasi China dalam Logam Tanah Jarang

Hal itu berarti China dapat dengan cepat meningkatkan produksi untuk menekan harga bagi siapa pun yang mencoba membangun dari nol. Dan sebagai konsumen tanah jarang terbesar di dunia, setiap produsen yang besar tetap perlu menjual. Mereka bukan hanya pemain terbesar di pasar-mereka adalah pasar.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Rekomendasi
Cristiano Ronaldo dan...
Cristiano Ronaldo dan Perjuangan Melawan Waktu di Piala Dunia 2026
Ichsanuddin Noorsy:...
Ichsanuddin Noorsy: UGM Berada di Titik Nadir dalam Kasus Ijazah Jokowi
Guru MI di Karawang...
Guru MI di Karawang Dilatih Kuasai E-LKPD Berbasis STEM
Berita Terkini
Persaingan Pasar Game...
Persaingan Pasar Game Valorant, Intip Strategi Ekspansi Tokovalorant
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
Membangun Revolusi Pembiayaan...
Membangun Revolusi Pembiayaan Sosial Nasional Tanpa Membebani APBN
SIG Sulap 60 Ton Sampah...
SIG Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak, Peternak di Aceh Hemat 60%
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Selamatkan Petani, Peran...
Selamatkan Petani, Peran DSI dalam Tata Niaga Sawit Disebut Perlu Evaluasi Ulang
Infografis
China Kalahkan Amerika...
China Kalahkan Amerika sebagai Negara dengan Miliarder Terbanyak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved