China Bela Pakistan, India Dikabarkan Bakal Hengkang dari BRICS

Kamis, 22 Mei 2025 - 13:55 WIB
loading...
China Bela Pakistan,...
India dikabarkan mulai mempertimbangkan untuk keluar dari aliansi BRICS. FOTO/postoast.com
A A A
JAKARTA - Hubungan antarnegara dalam aliansi BRICS tengah diuji. India dilaporkan mulai mempertimbangkan untuk keluar dari kelompok tersebut menyusul ketegangan diplomatik yang terus memburuk terutama setelah China secara terbuka menunjukkan dukungannya terhadap Pakistan.

Situasi ini menjadi pukulan baru bagi kekompakan BRICS, aliansi yang terdiri atas Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Ketegangan lama antara India dan China terkait perbatasan di Himalaya belum sepenuhnya reda, kini diperparah oleh sikap Beijing yang semakin akrab dengan Islamabad.

India dan Pakistan memiliki sejarah panjang konflik, khususnya di wilayah Kashmir. Sikap China yang dianggap membela Pakistan dalam sejumlah isu regional dipandang India sebagai bentuk tekanan politik dan diplomatik yang tak bisa diabaikan.

Baca Juga: China Gencar Perang Lawan Dolar AS, Dunia Makin Butuh Yuan

Hubungan ini semakin kompleks dengan situasi geopolitik global yang berubah sejak kembalinya Donald Trump ke kursi Presiden Amerika Serikat awal tahun ini. Trump membawa kembali kebijakan luar negeri proteksionis dan memperketat hubungan dagang dengan berbagai blok ekonomi, termasuk BRICS.

Trump bahkan disebut mengancam menerapkan tarif hingga 150% terhadap negara-negara anggota BRICS. Ancaman ini semakin menambah tekanan terhadap India yang secara historis memiliki hubungan dagang kuat dengan AS.

Di tengah tekanan ini, BRICS terus mendorong agenda dedolarisasi, sebuah inisiatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional. India, yang merasa posisinya lebih diuntungkan jika tetap menjalin kemitraan strategis dengan AS, secara terang-terangan menolak ikut serta dalam rencana tersebut.

Menurut laporan terbaru, India menyatakan bahwa mereka tidak tertarik untuk terlibat dalam agenda dedolarisasi yang digagas oleh BRICS. Penolakan ini bertolak belakang dengan posisi China, Rusia, Brasil, dan Afrika Selatan yang mendukung penuh pengurangan dominasi dolar.

Sikap India ini dinilai semakin mengasingkannya dari inti kebijakan BRICS. Di saat negara-negara anggota lainnya semakin solid dalam mendorong dedolarisasi, India memilih jalur yang berbeda dengan menempatkan kepentingan nasional di atas konsensus kolektif.

Baca Juga: Alasan 3 Negara Ini Tolak Gabung dengan BRICS

Kedekatan China dengan Pakistan memperburuk persepsi India bahwa BRICS kini lebih mengakomodasi kepentingan Beijing. Para analis menyebut, jika tren ini terus berlanjut, India bukan hanya menjadi minoritas dalam pengambilan keputusan tetapi juga akan kehilangan posisi strategis dalam aliansi.

Dilansir dari Watcher Guru, situasi ini mendorong spekulasi bahwa India sedang mempertimbangkan hengkang dari BRICS. Meskipun belum ada pernyataan resmi dari pemerintah India, sejumlah pakar menyebutkan keputusan tersebut bisa diumumkan jika ketegangan tidak mereda dalam waktu dekat.

Mundurnya India, jika benar terjadi akan menjadi preseden penting dalam sejarah BRICS. India merupakan salah satu ekonomi terbesar di Asia, dan kepergiannya dapat melemahkan pengaruh kolektif aliansi di panggung global.

KTT BRICS berikutnya akan menjadi panggung penting untuk menguji soliditas internal kelompok ini. Apakah perbedaan pandangan dapat dijembatani atau justru menjadi awal dari perpecahan terbuka, masih akan sangat bergantung pada diplomasi yang berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Purbaya Temui Menkeu...
Purbaya Temui Menkeu China, Perkuat Kerja Sama Pembiayaan dan Investasi
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Impor Energi dari 41...
Impor Energi dari 41 Negara, India Tak Mampu Tolak Minyak Rusia: Kami Cari yang Paling Murah!
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
PM Kanada Akui G7 Tidak...
PM Kanada Akui G7 Tidak Lagi Kendalikan Dunia
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Rekomendasi
Divonis 6 Tahun Penjara,...
Divonis 6 Tahun Penjara, Pengusaha Jambi Bengawan Kamto Tempuh Banding
Besok Eksekusi Lahan...
Besok Eksekusi Lahan Hotel Sultan, Sejumlah Akses Menuju GBK Ditutup
Polisi Tahan 2 Tersangka...
Polisi Tahan 2 Tersangka Baru Kasus TPPU Tambang Emas Ilegal
Berita Terkini
Indonesia-Australia...
Indonesia-Australia Kolaborasi Cetak Tenaga Ahli Butchery dan Food Safety
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
Ancam Ritel dan Perbankan,...
Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
Bangun BRT Metropolitan...
Bangun BRT Metropolitan Cekungan Bandung, Brantas Abipraya Dukung Transformasi Transportasi
Implementasi B50 Dimulai...
Implementasi B50 Dimulai 1 Juli 2026, Jubir ESDM: Bisa Hemat Devisa Rp157 Triliun
Tok! DPR dan Pemerintah...
Tok! DPR dan Pemerintah Sepakati Asumsi Makro KEM-PPKF 2027, Target Lifting Migas Dikerek
Infografis
Perbandingan Jumlah...
Perbandingan Jumlah Muslim antara India, Pakistan, dan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved