7 Juta Orang di Indonesia Masih Jadi Pengangguran, Kemnaker Ungkap 2 Masalah Utamanya
Kamis, 22 Mei 2025 - 16:50 WIB
loading...
7 juta orang penduduk Indonesia di usia kerja tercatat masih menjadi pengangguran, Kemnaker ungkap dua masalah utamanya. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan ( Kemnaker ) Cris Kuntadi mengatakan, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Indonesia per Februari sebesar 4,76%. Total penduduk usia kerja yang belum bekerja lebih dari 7 juta orang.
Kuntadi mengatakan, kondisi ini setidaknya disebabkan oleh dua hal utama. Pertama, kesenjangan antara keterampilan para pencari kerja yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Kedua, keterbatasan akses informasi lowongan kerja.
“Menurut data BPS pada Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka saat ini 4,76%, artinya masih terdapat lebih dari 7 juta penduduk Indonesia yang belum bekerja dan mengalami kesulitan mencari kerja,” ujarnya dalam laporan saat membuka acara Job Fair Kemnaker 2025 di Jakarta, Kamis (22/5/2025).
![7 Juta Orang di Indonesia Masih Jadi Pengangguran, Kemnaker Ungkap 2 Masalah Utamanya]()
Baca Juga: Pengangguran Melonjak Jadi 7,28 Juta Orang, Perindo Soroti Lemahnya Daya Beli dan Iklim Usaha
Ia menerangkan, saat ini kebutuhan industri cukup dinamis mengikuti tren yang berkembang. Di satu sisi, kompetensi calon pekerja yang didapatkan saat menempuh pendidikan tidak bisa mengimbangi perkembangan industri.
“Ada dua masalah utama yang membuat pencari kerja sulit mendapatkan pekerjaan. Pertama, kesenjangan atau mismatch antara keterampilan yang dimiliki pencari kerja dengan kebutuhan dunia kerja. Kedua, terbatasnya akses informasi yang dimiliki para pencari kerja atas kesempatan kerja yang tersedia,” tambahnya.
Pada kesempatan itu, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menambahkan, kondisi ekonomi global saat ini memang masih penuh dengan ketidakpastian yang berdampak pada keberlangsungan dunia usaha, industri, dan serapan tenaga kerja.
“Kondisi sekarang, ketika ekonomi global penuh ketidakpastian, berdampak pada dunia usaha, industri, pertumbuhan ekonomi, dan ketersediaan lowongan kerja,” lanjutnya.
Yassierli menambahkan, saat ini peningkatan kompetensi tidak hanya didapatkan melalui pendidikan formal, namun bisa melalui kanal lain seperti Balai Latihan Kerja (BLK) hingga otodidak melalui platform media sosial.
Baca Juga: Digulung Tsunami PHK, 83.450 Orang Mendadak Jadi Pengangguran
“Untuk meningkatkan kompetensi tidak hanya melalui pendidikan formal. Ada teknologi yang bisa dimanfaatkan. Kembangkan potensi dan buat portofolio sebanyak-banyaknya agar mudah diterima kerja,” pungkasnya.
Kuntadi mengatakan, kondisi ini setidaknya disebabkan oleh dua hal utama. Pertama, kesenjangan antara keterampilan para pencari kerja yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Kedua, keterbatasan akses informasi lowongan kerja.
“Menurut data BPS pada Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka saat ini 4,76%, artinya masih terdapat lebih dari 7 juta penduduk Indonesia yang belum bekerja dan mengalami kesulitan mencari kerja,” ujarnya dalam laporan saat membuka acara Job Fair Kemnaker 2025 di Jakarta, Kamis (22/5/2025).

Baca Juga: Pengangguran Melonjak Jadi 7,28 Juta Orang, Perindo Soroti Lemahnya Daya Beli dan Iklim Usaha
Ia menerangkan, saat ini kebutuhan industri cukup dinamis mengikuti tren yang berkembang. Di satu sisi, kompetensi calon pekerja yang didapatkan saat menempuh pendidikan tidak bisa mengimbangi perkembangan industri.
“Ada dua masalah utama yang membuat pencari kerja sulit mendapatkan pekerjaan. Pertama, kesenjangan atau mismatch antara keterampilan yang dimiliki pencari kerja dengan kebutuhan dunia kerja. Kedua, terbatasnya akses informasi yang dimiliki para pencari kerja atas kesempatan kerja yang tersedia,” tambahnya.
Pada kesempatan itu, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menambahkan, kondisi ekonomi global saat ini memang masih penuh dengan ketidakpastian yang berdampak pada keberlangsungan dunia usaha, industri, dan serapan tenaga kerja.
“Kondisi sekarang, ketika ekonomi global penuh ketidakpastian, berdampak pada dunia usaha, industri, pertumbuhan ekonomi, dan ketersediaan lowongan kerja,” lanjutnya.
Yassierli menambahkan, saat ini peningkatan kompetensi tidak hanya didapatkan melalui pendidikan formal, namun bisa melalui kanal lain seperti Balai Latihan Kerja (BLK) hingga otodidak melalui platform media sosial.
Baca Juga: Digulung Tsunami PHK, 83.450 Orang Mendadak Jadi Pengangguran
“Untuk meningkatkan kompetensi tidak hanya melalui pendidikan formal. Ada teknologi yang bisa dimanfaatkan. Kembangkan potensi dan buat portofolio sebanyak-banyaknya agar mudah diterima kerja,” pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :