Trump Tuding China Ingkari Kesepakatan Tarif, Perang Dagang Kembali Memanas

Sabtu, 31 Mei 2025 - 15:09 WIB
loading...
Trump Tuding China Ingkari...
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuding China telah melanggar kesepakatan dagang yang sebelumnya dicapai kedua negara. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuding China telah melanggar kesepakatan dagang yang sebelumnya dicapai kedua negara. Pernyataan tersebut menandai berakhirnya gencatan senjata perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.

"China, mungkin tidak mengherankan bagi sebagian orang, telah melanggar sepenuhnya perjanjian dengan kami. Terima kasih banyak telah menjadi Tuan yang baik hati!" tulis Trump dalam sebuah postingan di platform Truth Social, dikutip dari Daily Times, Sabtu (31/5).

Baca Juga: Tarif Trump Belum Selesai, Giliran Bea Impor Baja Naik dari 25% Menjadi 50 Persen

Tudingan ini kembali memanaskan hubungan dagang yang sebelumnya sempat mereda setelah kedua negara sepakat melakukan jeda tarif selama 90 hari guna memberi ruang negosiasi.

Sementara, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menyebut pembicaraan dengan China kembali menemui jalan buntu. Dia mengatakan, keterlibatan langsung antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping mungkin diperlukan untuk mencapai kesepakatan akhir. "Kami telah mencoba berbagai jalur teknis, tetapi belum ada terobosan signifikan," ujar Bessent.

Pasar global yang sempat merespons positif gencatan perang dagang, kini kembali menunjukkan volatilitas akibat ketidakpastian arah hubungan dagang kedua negara. AS tetap menyuarakan kekhawatiran terhadap kebijakan ekonomi China yang berorientasi ekspor dan dominasi negara dalam industri-industri strategis dinilai menciptakan ketidakseimbangan perdagangan.

Selain itu, Trump menilai China tidak menunjukkan itikad baik dalam implementasi kesepakatan yang telah dicapai sebelumnya. Presiden Prancis Emmanuel Macron turut menanggapi perkembangan tersebut dengan menyebut meningkatnya ketegangan antara AS dan China sebagai salah satu risiko terbesar bagi stabilitas global saat ini.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Rekomendasi
PHEV Indonesia 2026:...
PHEV Indonesia 2026: Tahun Ketika BYD Memangkas Harga, Pasar Berlipat Ganda
Kejagung Tetapkan Penyedia...
Kejagung Tetapkan Penyedia Motor Listrik BGN Andri Mulyono Jadi Tersangka
Situ Rompong Tangsel...
Situ Rompong Tangsel Menyusut Tinggal 1,7 Hektare, Warga Duga Ada Maladminsitrasi
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Infografis
Saat Sekutu Berhenti...
Saat Sekutu Berhenti Menuruti Donald Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved