China Tutup Keran Ekspor Mineral Langka, AS Panik Cari Pasokan Alternatif

Kamis, 05 Juni 2025 - 12:01 WIB
loading...
China Tutup Keran Ekspor...
Pemerintah China menggencarkan operasi pemberantasan penambangan ilegal dan menutup keran ekspor mineral strategis di tengah eskalasi perang dagang dengan AS. FOTO/SCMP
A A A
JAKARTA - Pemerintah China menggencarkan operasi pemberantasan penambangan ilegal dan menutup keran ekspor mineral strategis di tengah eskalasi perang dagang dengan Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Beijing mempertahankan dominasi global di sektor mineral kritis yang vital bagi industri teknologi dan pertahanan.

Sebagai produsen terbesar elemen tanah jarang (rare earth), China menguasai 92% pasokan global mineral yang digunakan untuk produk elektronik, kendaraan listrik, hingga senjata canggih. Mulai April lalu, Beijing mewajibkan izin khusus ekspor untuk tujuh mineral strategis termasuk gallium dan germanium.

"Kami akan mengawasi ketat seluruh rantai pasokan, dari penambangan hingga ekspor," tegas Kementerian Perdagangan China dalam pernyataan resmi, seperti dikutip dari South China Morning Post, Kamis (5/6).

Baca Juga: Trump Singgung Sosok Xi Jinping: 'Orangnya Sangat Keras dan Sulit Dihadapi'

Provinsi kaya mineral seperti Guangxi, Guizhou, dan Hunan kini menjadi sasaran operasi gabungan. Pemerintah daerah diperintahkan untuk memetakan semua eksportir mineral dengan menutup tambang ilegal hingga memperkuat pengawasan lintas wilayah.

Di Wuzhou dan Yunfu, otoritas setempat bahkan membentuk sistem patroli gabungan untuk memburu penambang nakal. Kebijakan China ini merupakan respons atas sanksi teknologi AS yang melarang ekspor mesin jet canggih dan perangkat desain chip ke Negeri Tirai Bambu. Ketegangan memuncak setelah pembicaraan AS-China di Jenewa pada 10-11 Mei gagal mencairkan hubungan.

Data bea cukai China menunjukkan, ekspor magnet tanah jarang ke AS merosot 58,5% hanya 246 ton pada April 2025. Negara-negara seperti Jepang, India, dan Uni Eropa pun dilaporkan mati-matian lobi Beijing agar ekspor segera dibuka.

Sementara, sejumlah perusahaan teknologi dan otomotif global seperti Tesla, Apple, dan Lockheed Martin diperkirakan akan terdampak oleh pembatasan pasokan mineral langka dari China. Hal ini mendorong AS untuk mencari alternatif rantai pasok, meski prosesnya diperkirakan memerlukan waktu dan investasi besar.

Baca Juga: Harta Karun Emas Rp73,4 Triliun Temuan Petani di Kebunnya Sendiri Disita Negara

China juga menemukan adanya kolusi antara entitas asing dan domestik untuk menghindari kontrol ekspor melalui penyelundupan dan alih muatan lewat negara ketiga. Oleh karena itu, Beijing mengintensifkan pemeriksaan bea cukai dan investigasi terhadap jaringan ilegal tersebut.

Meski sempat ada pelonggaran sementara pembatasan ekspor kepada beberapa perusahaan AS, ketegangan perdagangan tetap berlanjut dengan risiko gangguan pasokan mineral penting yang dapat memengaruhi industri global, khususnya sektor teknologi dan pertahanan.

Langkah China memperketat pengawasan dan penindakan terhadap penambangan ilegal ini tidak hanya untuk menjaga keamanan nasional dan kepentingan pembangunan, tetapi juga untuk mempertahankan posisi strategisnya di pasar mineral dunia di tengah persaingan geopolitik yang semakin sengit.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Mobil Buatan Amerika...
Mobil Buatan Amerika Serikat Dapat Ujian Besar di Pasar Jepang
Pilot F-15 AS: Serangan...
Pilot F-15 AS: Serangan Drone Iran Membentuk Formasi Ubur-ubur
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
Rekomendasi
Periksa Hilman Latief,...
Periksa Hilman Latief, KPK Telusuri Pihak yang Inisiasi Pembagian Kuota Haji Tambahan
Kawal Instruksi Presiden...
Kawal Instruksi Presiden Soal Ojol, Komisi V DPR Minta Tarif Baru Tak Bebani Konsumen
Selesai Diperiksa Kasus...
Selesai Diperiksa Kasus Kuota Haji, Eks Dirjen PHU Hilman Latief: Diminta Keterangan Saja
Berita Terkini
Pertamina Cetak Laba...
Pertamina Cetak Laba Bersih Rp55,2 Triliun di 2025, Setor ke Negara Rp360 Triliun
Logo Koperasi dalam...
Logo Koperasi dalam Iklan Air Mineral Dinilai Bisa Membingungkan Konsumen
KPR Rumah Subsidi Bisa...
KPR Rumah Subsidi Bisa Dicicil hingga 40 Tahun, Bunga Tetap 5%
RPN dan BPDP Latih Keterampilan...
RPN dan BPDP Latih Keterampilan Panen Sawit Rakyat di Sumsel
Harga LNG Naik Turun...
Harga LNG Naik Turun Mengacu Harga Minyak Dunia
Tips MotionTrade: Waspada...
Tips MotionTrade: Waspada Janji Keuntungan Tinggi Tanpa Risiko, Intip Ciri Umum Investasi Ilegal
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved