Perseteruan Trump-Musk Bakal Picu Krisis Terbesar Sejarah NASA
Senin, 09 Juni 2025 - 08:12 WIB
loading...
A
A
A
Mereka yang mendukung mengatakan, anggaran Gedung Putih telah memberikan NASA sebuah tujuan yang jelas, untuk pertama kalinya sejak zaman pendaratan Apollo di bulan pada tahun 1960-an dan 70-an, ketika tujuannya adalah untuk mengalahkan Uni Soviet.
Sementara para kritikus, mengatakan NASA sejak saat itu agen antariksa telah menjadi birokrasi yang tidak fokus hingga kerap melebihi anggaran dalam misi antariksa dan membuang-buang uang pembayar pajak.
Salah satu contoh paling mencolok adalah roket baru NASA yang rencananya mengembalikan astronot Amerika ke Bulan, Sistem Peluncuran Luar Angkasa (SLS). Namun pengembangannya mengalami penundaan, dan biayanya telah membengkak sehingga biayanya mencapai USD4,1 miliar untuk setiap peluncuran.
Sebaliknya sistem roket setara SpaceX, Starship, diperkirakan biayanya sekitar USD100 juta (£80 juta) per peluncuran karena dirancang untuk dapat digunakan kembali. Perusahaan luar angkasa Jeff Bezos, Blue Origin, menjanjikan penghematan serupa untuk roket New Glenn yang diusulkan.
Tidak mengejutkan, SLS akan dihentikan di bawah proposal Gedung Putih, dengan harapan bahwa Starship dan New Glenn dapat menggantikannya. Namun, tiga peluncuran pengembangan Starship mengalami kegagalan, dan Blue Origin baru saja mulai menguji roket Bulannya.
"Kekhawatirannya adalah bahwa NASA mungkin terjun dari satu masalah ke masalah yang lebih besar. Pengembangan alternatif untuk SLS ini dibiayai oleh Elon Musk dan Jeff Bezos," kata Dr Barber.
"Jika mereka kehilangan hasrat dan SpaceX atau Blue Origin mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak uang untuk mengembangkan sistem mereka, Kongres harus memberikannya kepada mereka," kata Barber.
Ia juga mengungkap bahwa yang lebih memprihatinkan adalah potensi kehilangan 40 misi untuk menjelajahi planet lain dan memantau dampak perubahan iklim di Bumi dari luar angkasa. Banyak di antaranya melibatkan kolaborasi dengan mitra internasional.
"Saya pikir sangat menyedihkan bahwa apa yang telah diusahakan begitu lama untuk dibangun, dapat dihancurkan dengan sangat cepat tanpa rencana untuk membangun kembali setelahnya," ungkapnya.
Proyek-proyek yang terancam dihentikan termasuk puluhan misi planet yang sudah berada di luar angkasa, di mana sebagian besar biaya pengembangan dan peluncurannya sudah dibayar, dengan penghematan yang diajukan pada biaya operasional yang relatif kecil.
Selain itu dua kolaborasi dengan Badan Antariksa Eropa juga terancam: sebuah rencana ambisius untuk membawa batuan Mars yang diambil oleh Rover Perseverance milik NASA kembali ke Bumi dan sebuah misi untuk mengirim Rover Rosalind Franklin milik Eropa ke planet merah untuk mencari tanda-tanda kehidupan.
Sementara para kritikus, mengatakan NASA sejak saat itu agen antariksa telah menjadi birokrasi yang tidak fokus hingga kerap melebihi anggaran dalam misi antariksa dan membuang-buang uang pembayar pajak.
Salah satu contoh paling mencolok adalah roket baru NASA yang rencananya mengembalikan astronot Amerika ke Bulan, Sistem Peluncuran Luar Angkasa (SLS). Namun pengembangannya mengalami penundaan, dan biayanya telah membengkak sehingga biayanya mencapai USD4,1 miliar untuk setiap peluncuran.
Sebaliknya sistem roket setara SpaceX, Starship, diperkirakan biayanya sekitar USD100 juta (£80 juta) per peluncuran karena dirancang untuk dapat digunakan kembali. Perusahaan luar angkasa Jeff Bezos, Blue Origin, menjanjikan penghematan serupa untuk roket New Glenn yang diusulkan.
Tidak mengejutkan, SLS akan dihentikan di bawah proposal Gedung Putih, dengan harapan bahwa Starship dan New Glenn dapat menggantikannya. Namun, tiga peluncuran pengembangan Starship mengalami kegagalan, dan Blue Origin baru saja mulai menguji roket Bulannya.
"Kekhawatirannya adalah bahwa NASA mungkin terjun dari satu masalah ke masalah yang lebih besar. Pengembangan alternatif untuk SLS ini dibiayai oleh Elon Musk dan Jeff Bezos," kata Dr Barber.
"Jika mereka kehilangan hasrat dan SpaceX atau Blue Origin mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak uang untuk mengembangkan sistem mereka, Kongres harus memberikannya kepada mereka," kata Barber.
Ia juga mengungkap bahwa yang lebih memprihatinkan adalah potensi kehilangan 40 misi untuk menjelajahi planet lain dan memantau dampak perubahan iklim di Bumi dari luar angkasa. Banyak di antaranya melibatkan kolaborasi dengan mitra internasional.
"Saya pikir sangat menyedihkan bahwa apa yang telah diusahakan begitu lama untuk dibangun, dapat dihancurkan dengan sangat cepat tanpa rencana untuk membangun kembali setelahnya," ungkapnya.
Proyek-proyek yang terancam dihentikan termasuk puluhan misi planet yang sudah berada di luar angkasa, di mana sebagian besar biaya pengembangan dan peluncurannya sudah dibayar, dengan penghematan yang diajukan pada biaya operasional yang relatif kecil.
Selain itu dua kolaborasi dengan Badan Antariksa Eropa juga terancam: sebuah rencana ambisius untuk membawa batuan Mars yang diambil oleh Rover Perseverance milik NASA kembali ke Bumi dan sebuah misi untuk mengirim Rover Rosalind Franklin milik Eropa ke planet merah untuk mencari tanda-tanda kehidupan.
Lihat Juga :