PTBA Bakal Ganti Pengurus, Realisasi Proyek Gasifikasi Batu Bara Dinanti
Senin, 09 Juni 2025 - 19:21 WIB
loading...
A
A
A
“Presiden Prabowo Subianto memiliki concern yang sangat kuat untuk merealisasikannya, mengingat ketergantungan kita terhadap impor LPG sangat tinggi. Karena itu, proyek gasifikasi batu bara ini harus menjadi concern pemegang saham, karena sangat penting bagi ketahanan energi nasional,” kata Herry.
Herry menegaskan, impor Liquefied Natural Gas (LPG) sudah makin memberatkan anggaran pemerintah yang harus dialokasikan untuk subsidi LPG 3 kg. Pada 2024, pemerintah memperkirakan nilai subsidinya sekitar Rp85,6 triliun. Sedangkan untuk tahun 2025 sebesar Rp87,6 triliun atau 43% dari total subsidi energi.
“Sudah puluhan tahun Indonesia bergantung pada LPG impor untuk memenuhi kebutuhan domestik, dan sudah saatnya dimulai proses penghentiannya mengingat produksi gas alam Indonesia selalu surplus dibandingkan kebutuhan domestik,” tandasnya.
Proyek gasifikasi yang akan menjadi substitusi LPG itu sangat penting. Apalagi, dia menuturkan, ketersediaan batu bara Indonesia sangat besar. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, pada tahun 2023 saja produksi batu bara Indonesia sekitar 775 juta ton. Sementara, pemanfaatan dalam negeri hanya sekitar 27%, dan sisanya diekspor.
Dari sisi ekonomi, lanjut dia, proyek gasifikasi yang akan menyerap batu bara low rank ini menurutnya akan menjadi nilai tambah bagi PTBA. Produk awalnya yang berupa syngas bisa diolah menjadi sintetis natural gas (SNG) yang bisa dijual. Produk turunan berikutnya dari syngas adalah methanol yang juga bisa jadi komoditas ekspor. Dari methanol tersebut akan dihasilkan produk DME.
Herry menegaskan, impor Liquefied Natural Gas (LPG) sudah makin memberatkan anggaran pemerintah yang harus dialokasikan untuk subsidi LPG 3 kg. Pada 2024, pemerintah memperkirakan nilai subsidinya sekitar Rp85,6 triliun. Sedangkan untuk tahun 2025 sebesar Rp87,6 triliun atau 43% dari total subsidi energi.
“Sudah puluhan tahun Indonesia bergantung pada LPG impor untuk memenuhi kebutuhan domestik, dan sudah saatnya dimulai proses penghentiannya mengingat produksi gas alam Indonesia selalu surplus dibandingkan kebutuhan domestik,” tandasnya.
Proyek gasifikasi yang akan menjadi substitusi LPG itu sangat penting. Apalagi, dia menuturkan, ketersediaan batu bara Indonesia sangat besar. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, pada tahun 2023 saja produksi batu bara Indonesia sekitar 775 juta ton. Sementara, pemanfaatan dalam negeri hanya sekitar 27%, dan sisanya diekspor.
Dari sisi ekonomi, lanjut dia, proyek gasifikasi yang akan menyerap batu bara low rank ini menurutnya akan menjadi nilai tambah bagi PTBA. Produk awalnya yang berupa syngas bisa diolah menjadi sintetis natural gas (SNG) yang bisa dijual. Produk turunan berikutnya dari syngas adalah methanol yang juga bisa jadi komoditas ekspor. Dari methanol tersebut akan dihasilkan produk DME.
Lihat Juga :