Ramalan Bank Dunia: Ekonomi Global Memasuki Dekade Terburuk sejak Tahun 1960-an
Rabu, 11 Juni 2025 - 08:26 WIB
loading...
Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan oleh Bank Dunia, bakal jatuh hingga ke level terendah sejak tahun 1960-an. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan bakal jatuh hingga ke level terendah sejak tahun 1960-an, akibat dari dampak tarif Donald Trump yang mulai dirasakan. Diprediksi oleh Bank Dunia , ekonomi global akan melihat dekade terendah untuk pertumbuhan global.
Bank Dunia memprediksi pertumbuhan global hanya 2,3% pada tahun 2025, atau 0,4% lebih rendah dari yang diperkirakan pada bulan Januari. Sedangkan untuk tahun 2027, World Bank (Bank Dunia) meramalkan pertumbuhan sebesar 2,6%.
Jepang, Eropa, dan AS (Amerika Serikat) termasuk di antara negara yang diturunkan peringkatnya dalam laporan pertengahan tahun Bank Dunia. Proyeksi terakhir Bank Dunia diumumkan pada bulan Januari sebelum Donald Trump menjabat.
Baca Juga: Kemiskinan di Indonesia Melonjak 3 Kali Lipat, Nyaris Tembus 195 Juta Jiwa versi Bank Dunia
Sejak saat itu, pengenalan tarif universal 10% untuk semua barang impor ke AS, serta tarif yang lebih tinggi pada baja dan aluminium, menyebabkan pasar keuangan jatuh pada awal April. Ada tuntutan yang menerangkan bahwa sebagian tarif global pada Mei merupakan tindakan ilegal, namun pemerintahan Trump memenangkan banding untuk mempertahankannya hingga saat ini.
"Di tengah ketidakpastian kebijakan yang meningkat dan bertambahnya hambatan perdagangan, konteks ekonomi global menjadi lebih menantang," kata laporan tersebut.
Ditambahkan juga bahwa, akan ada lebih banyak "ketidakpastian kebijakan yang menjadi sentimen" karena potensi "pergeseran cepat lebih lanjut" dalam langkah-langkah yang membatasi perdagangan oleh negara-negara. Bank Dunia juga menerangkan, akan ada pemotongan lebih lanjut dalam pertumbuhan jika AS meningkatkan tarif, dan memperingatkan soal lonjakan inflasi.
Pajak impor dapat menyebabkan "perdagangan global terhenti pada paruh kedua tahun ini, disertai dengan runtuhnya kepercayaan yang luas, meningkatnya ketidakpastian, dan kekacauan di pasar keuangan," kata laporan tersebut.
Namun laporan Bank Dunia itu tidak memprediksi terjadinya resesi global, dengan mengatakan kemungkinan itu kurang dari 10%. Baca Juga: Bank Dunia Membunyikan Alarm Soal Jeratan Utang di Negara Berkembang, Termasuk RI?
Laporan ini muncul setelah OECD juga menurunkan proyeksinya untuk ekonomi dunia. Mereka mengatakan pertumbuhan global kini diperkirakan akan melambat menjadi 2,9%, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,1%.
Sementara itu putaran baru pembicaraan yang bertujuan untuk menyelesaikan perang dagang antara AS dan China telah berlangsung di London.
Bank Dunia memprediksi pertumbuhan global hanya 2,3% pada tahun 2025, atau 0,4% lebih rendah dari yang diperkirakan pada bulan Januari. Sedangkan untuk tahun 2027, World Bank (Bank Dunia) meramalkan pertumbuhan sebesar 2,6%.
Jepang, Eropa, dan AS (Amerika Serikat) termasuk di antara negara yang diturunkan peringkatnya dalam laporan pertengahan tahun Bank Dunia. Proyeksi terakhir Bank Dunia diumumkan pada bulan Januari sebelum Donald Trump menjabat.
Baca Juga: Kemiskinan di Indonesia Melonjak 3 Kali Lipat, Nyaris Tembus 195 Juta Jiwa versi Bank Dunia
Sejak saat itu, pengenalan tarif universal 10% untuk semua barang impor ke AS, serta tarif yang lebih tinggi pada baja dan aluminium, menyebabkan pasar keuangan jatuh pada awal April. Ada tuntutan yang menerangkan bahwa sebagian tarif global pada Mei merupakan tindakan ilegal, namun pemerintahan Trump memenangkan banding untuk mempertahankannya hingga saat ini.
Ekonomi AS
Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2025 dan 2026, seiring meningkatnya ketegangan perdagangan yang menggoyahkan kepercayaan investor serta konsumsi swasta. Namun mereka tidak menurunkan perkiraan pada rival utama AS yakni China, yang menurut bank memiliki cukup stabilitas keuangan untuk menghadapi tantangan yang cukup signifikan dari ketidakpastian politik global."Di tengah ketidakpastian kebijakan yang meningkat dan bertambahnya hambatan perdagangan, konteks ekonomi global menjadi lebih menantang," kata laporan tersebut.
Ditambahkan juga bahwa, akan ada lebih banyak "ketidakpastian kebijakan yang menjadi sentimen" karena potensi "pergeseran cepat lebih lanjut" dalam langkah-langkah yang membatasi perdagangan oleh negara-negara. Bank Dunia juga menerangkan, akan ada pemotongan lebih lanjut dalam pertumbuhan jika AS meningkatkan tarif, dan memperingatkan soal lonjakan inflasi.
Pajak impor dapat menyebabkan "perdagangan global terhenti pada paruh kedua tahun ini, disertai dengan runtuhnya kepercayaan yang luas, meningkatnya ketidakpastian, dan kekacauan di pasar keuangan," kata laporan tersebut.
Namun laporan Bank Dunia itu tidak memprediksi terjadinya resesi global, dengan mengatakan kemungkinan itu kurang dari 10%. Baca Juga: Bank Dunia Membunyikan Alarm Soal Jeratan Utang di Negara Berkembang, Termasuk RI?
Laporan ini muncul setelah OECD juga menurunkan proyeksinya untuk ekonomi dunia. Mereka mengatakan pertumbuhan global kini diperkirakan akan melambat menjadi 2,9%, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,1%.
Sementara itu putaran baru pembicaraan yang bertujuan untuk menyelesaikan perang dagang antara AS dan China telah berlangsung di London.
(akr)
Lihat Juga :