Buka IWWEF, Menko AHY Targetkan 2024 Akses Air Bersih Capai 100%
Kamis, 12 Juni 2025 - 08:03 WIB
loading...
Menko AHY membuka ajang IWWEF 2025 yang diselenggarakan PERPAMSI di JICC, Rabu (11/6/2025). AHY mengatakan, isu air harus menjadi agenda utama pembangunan. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan isu air harus menjadi agenda utama pembangunan sehingga mampu mencapai target 100% pada 2045. Untuk mencapai itu, diperlukan investasi besar hingga Rp100 triliun.
“Kadang kita merasa tidak akan pernah kekurangan air, sampai kita benar-benar tidak menemukan air bersih. Sama seperti udara, ketika kita bisa bernafas dengan normal, oksigen di sekitar kita tidak pernah kita apresiasi. Tapi begitu turun kadarnya, begitu terjadi polusi, baru kita terengah-engah, baru kita minta tolong. Dan ketika itu terjadi biasanya ada yang menjadi korban, terlambat,” kata AHY saat membuka ajang Indonesia Water and Wastewater Expo & Forum (IWWEF) 2025 yang diselenggarakan Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (11/6/2025). Baca juga:
Bahayakan Konsumen, Usaha Depot Air Isi Ulang Perlu Dievaluasi
Mengutip laporan United Nations World Water Development Report 2024, AHY menuturkan, 2,2 miliar orang di dunia masih hidup tanpa akses air minum yang aman dan 3,5 miliar orang tidak memiliki akses sanitasi yang layak. Indonesia sendiri dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta turut menghadapi tekanan serupa.
AHY menyoroti baru sekitar 37% PDAM yang dapat mencapai full cost recovery. Sementara mayoritas lainnya masih beroperasi di bawah ambang keberlanjutan keuangan. AHY menyebut diperlukan komitmen untuk menjawab tantangan tersebut dengan menjadi super team.
Saat ini cakupan akses air bersih perpipaan nasional sekitar 22%. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), menargetkan 40% dan pada 2045 diharapkan 100%. Itu semua membutuhkan investasi, termasuk jika dihitung hingga Rp100 triliun.
"Semua punya peran. Kami juga siap mengambil peran di situ, tentunya di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto,” tegasnya.
Banyak perusahaan yang hadir dan ikut memeriahkan IWWEF dengan memasang both. Salah satunya perusaah investasi PT Tigalapan Investama Group.
Komisaris PT Tigalapan Investama Group, Mohd Reza Pahlevi mengatakan, untuk mencapai 100 air bersih tersebut sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta keterlibatan aktif pihak swasta. Dia menilai infrastruktur dasar seperti perpipaan menjadi kunci utama yang harus segera dibenahi agar hak rakyat mendapatkan air bersih bisa terpenuhi secara merata.
“Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat penting, karena pemerintah pusat tidak bisa mengandalkan dana sendiri. Diperlukan sinergi dengan pihak swasta melalui mekanisme KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) dan B2B,” katanya. Baca juga: AHY Ungkap Arah Pembangunan Infrastruktur untuk Mengejar Pertumbuhan Ekonomi 8%
Ia juga menekankan pentingnya transfer teknologi dalam pengelolaan air bersih. Terutama dengan kemajuan teknologi seperti AI, sistem SCADA, dan IoT yang dapat meningkatkan efisiensi dan pengelolaan sistem air. “Investasi yang dibutuhkan sangat besar, bahkan bisa mencapai ratusan hingga ribuan triliun rupiah untuk infrastruktur air bersih saja,” tambahnya.
Reza menyebut, saat ini fokus menjalin kemitraan dengan PDAM di berbagai daerah seperti Bekasi, Tangerang, Depok, Sidoarjo, dan beberapa daerah lain. Tujuannya mempercepat penyediaan layanan air bersih dengan dana murni dari investasi swasta lokal, sebagai wujud kontribusi nyata bagi Indonesia. “Kolaborasi harus berjalan baik supaya target nasional bisa tercapai dan masyarakat mendapat akses air bersih yang layak,” ujarnya.
“Kadang kita merasa tidak akan pernah kekurangan air, sampai kita benar-benar tidak menemukan air bersih. Sama seperti udara, ketika kita bisa bernafas dengan normal, oksigen di sekitar kita tidak pernah kita apresiasi. Tapi begitu turun kadarnya, begitu terjadi polusi, baru kita terengah-engah, baru kita minta tolong. Dan ketika itu terjadi biasanya ada yang menjadi korban, terlambat,” kata AHY saat membuka ajang Indonesia Water and Wastewater Expo & Forum (IWWEF) 2025 yang diselenggarakan Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (11/6/2025). Baca juga:
Bahayakan Konsumen, Usaha Depot Air Isi Ulang Perlu Dievaluasi
Mengutip laporan United Nations World Water Development Report 2024, AHY menuturkan, 2,2 miliar orang di dunia masih hidup tanpa akses air minum yang aman dan 3,5 miliar orang tidak memiliki akses sanitasi yang layak. Indonesia sendiri dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta turut menghadapi tekanan serupa.
AHY menyoroti baru sekitar 37% PDAM yang dapat mencapai full cost recovery. Sementara mayoritas lainnya masih beroperasi di bawah ambang keberlanjutan keuangan. AHY menyebut diperlukan komitmen untuk menjawab tantangan tersebut dengan menjadi super team.
Saat ini cakupan akses air bersih perpipaan nasional sekitar 22%. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), menargetkan 40% dan pada 2045 diharapkan 100%. Itu semua membutuhkan investasi, termasuk jika dihitung hingga Rp100 triliun.
"Semua punya peran. Kami juga siap mengambil peran di situ, tentunya di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto,” tegasnya.
Banyak perusahaan yang hadir dan ikut memeriahkan IWWEF dengan memasang both. Salah satunya perusaah investasi PT Tigalapan Investama Group.
Komisaris PT Tigalapan Investama Group, Mohd Reza Pahlevi mengatakan, untuk mencapai 100 air bersih tersebut sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta keterlibatan aktif pihak swasta. Dia menilai infrastruktur dasar seperti perpipaan menjadi kunci utama yang harus segera dibenahi agar hak rakyat mendapatkan air bersih bisa terpenuhi secara merata.
“Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat penting, karena pemerintah pusat tidak bisa mengandalkan dana sendiri. Diperlukan sinergi dengan pihak swasta melalui mekanisme KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) dan B2B,” katanya. Baca juga: AHY Ungkap Arah Pembangunan Infrastruktur untuk Mengejar Pertumbuhan Ekonomi 8%
Ia juga menekankan pentingnya transfer teknologi dalam pengelolaan air bersih. Terutama dengan kemajuan teknologi seperti AI, sistem SCADA, dan IoT yang dapat meningkatkan efisiensi dan pengelolaan sistem air. “Investasi yang dibutuhkan sangat besar, bahkan bisa mencapai ratusan hingga ribuan triliun rupiah untuk infrastruktur air bersih saja,” tambahnya.
Reza menyebut, saat ini fokus menjalin kemitraan dengan PDAM di berbagai daerah seperti Bekasi, Tangerang, Depok, Sidoarjo, dan beberapa daerah lain. Tujuannya mempercepat penyediaan layanan air bersih dengan dana murni dari investasi swasta lokal, sebagai wujud kontribusi nyata bagi Indonesia. “Kolaborasi harus berjalan baik supaya target nasional bisa tercapai dan masyarakat mendapat akses air bersih yang layak,” ujarnya.
(poe)
Lihat Juga :